KETIK, PACITAN – Efrin Kusuma Wardyta, perempuan 29 tahun asal RT 1, RW 4, Dusun Galit, Desa Banjarjo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, terus berjuang melawan kanker limfatik. 

Selama 2,5 tahun terakhir, ia harus menjalani rangkaian pengobatan sejak didiagnosis menderita kanker setelah melahirkan anak pertamanya.

Di balik perjuangan itu, ada keluarga yang terus mendampingi dengan segala keterbatasan. 

Suami Efrin, Beti Agus Prastya (31), bahkan harus berhenti bekerja untuk merawat istrinya dan mendampingi setiap proses pengobatan.

Sementara itu, adiknya, Mukhsin Ardinugroho (23), yang sehari-hari bekerja serabutan, ikut menjadi salah satu tumpuan keluarga ketika kebutuhan pengobatan dan perjalanan ke rumah sakit terus datang.

Baca Juga:
Parah! 4 Ribu Warga Pacitan Tercatut Judol, Dinsos: Meski Tak Main, Bansos Keluarga Bisa Dicabut

Beban keluarga juga bertambah karena ibu Efrin, Tatik Andarwati (58), mengalami stroke sejak satu tahun terakhir. 

Sedangkan ayah Efrin telah meninggal dunia pada 2009. Anak Efrin yang berusia sekitar 3,5 tahun terpaksa diasuh oleh nenek dari pihak ayah.

Meski pengobatan Efrin selama ini ditanggung BPJS, dalam kondisi keluarga yang serba terbatas itu, biaya operasional sangat berat bagi keluarga Efrin. 

Perjalanan menuju Rumah Sakit di Yogyakarta, menjadi beban yang harus dipikirkan setiap kali jadwal pengobatan tiba.

Baca Juga:
Profil Gagarin Sumrambah: dari Pedagang Sapi hingga Dua Kali Jadi Wakil Bupati Pacitan

“Yang banyak ke kebutuhan transportasi berobat ke RSUP Sardjito Jogjakarta. Butuh Rp600 ribu untuk sekali perjalanan, pakai ambulan juga segitu,” kata Mukhsin kepada Ketik.com, Jumat, 21 Agustus 2026.

Angka tersebut bisa jadi terlihat kecil bagi sebagian orang. 

Namun bagi keluarga Efrin, biaya perjalanan tersebut menjadi beban yang tidak ringan.

Apalagi pengobatan Efrin bukan baru sekali atau dua kali dilakukan.

Selama sekitar 2,5 tahun, ia telah menjalani operasi, kemoterapi puluhan kali.

"Operasi kemo 20 kali-an, penyedotan cairan di paru mbi perut," ungkapnya.

Setiap tahapan pengobatan menjadi bagian dari perjalanan panjang Efrin untuk bertahan dan berharap bisa kembali menjalani kehidupan bersama keluarganya.

Di sisi lain, suaminya harus meninggalkan pekerjaan demi memastikan Efrin tidak menjalani perjuangan tersebut seorang diri.

“Kalau ekonomi keluarganya Mbak sementara Mas Agus ya nggak bisa kerja, Mas nunggu Mbak terus. Kalau pendapatan ya sementara dari keluarga-keluarga yang bantu untuk berobat,” ujar Mukhsin.

Sebagai adik, Mukhsin berusaha tabah menyaksikan perjuangan kakaknya yang harus bertahan menghadapi penyakit dalam waktu yang panjang.

Mereka terus mendampingi Efrin dan mencari cara agar pengobatan tetap berjalan.

Kini, keluarga membuka donasi untuk membantu meringankan kebutuhan Efrin selama menjalani pengobatan melalui penggalangan oleh Komunitas Petarung Kehidupan.

"Ya harapan ada yang membantu, meringankan beban keluarga kami," pintanya.

Berdasarkan flyer yang beredar, masyarakat diajak turut membantu Efrin dan keluarganya melewati masa sulit tersebut.

Dukungan yang diberikan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pengobatan Efrin. 

Masyarakat juga diajak menyebarkan informasi tersebut agar semakin banyak pihak mengetahui kondisi yang tengah dihadapi Efrin dan keluarganya.

"Setiap doa, dukungan, dan rupiah yang Anda sisihkan sangat berarti demi kesembuhan Mbak Dyta. Mohon bantu sebarkan pesan ini ke keluarga dan kerabat,” demikian pesan dalam flyer tersebut.

Bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan, penggalangan donasi mencantumkan rekening Bank BRI 6461 0101 3436 535 atas nama Perkumpulan Petarung Kehidupan. 

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui kontak person yang tercantum dalam flyer atau hubungi nomor pihak keluarga langsung, 085156045525.(*)