KETIK, HALMAHERA SELATAN – Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin memaparkan secara mendalam jejak historis Boki Fatimah atau Princes Van Kasiruta dalam Focus Group Discussion (FGD) Sejuta Hikmah Ramadan (SAHARA IX) dan Tadabbur Sirah bertema “Satu Perempuan untuk Kebangkitan Jurnalis Nusantara”, yang digelar di Aula Kantor Bupat, Sabtu 7 Maret 2026.
Dalam penyampaiannya yang runtut dan reflektif, Helmi menekankan bahwa pembicaraan tentang Boki Fatimah tidak dapat dilepaskan dari beragam perspektif sejarah yang melingkupinya. Ia mengingatkan bahwa kehati-hatian pemerintah daerah menjadi kunci dalam menyikapi pengusulan tokoh tersebut.
“Pihak Kesultanan sudah menyampaikan dari sisi historisnya, akademisi juga telah memaparkan referensi ilmiahnya. Namun ini membutuhkan dukungan pemerintah daerah berdasarkan undang-undang maupun peraturan pelaksanaannya. Karena banyak perspektif itulah, pemerintah harus berhati-hati agar langkah yang diambil tepat sasaran,” ujar Helmi.
Helmi kemudian mengurai empat faktor penting yang menurutnya menjadi pintu masuk untuk memahami posisi Boki Fatimah dalam sejarah pers nasional.
Pertama, keterkaitannya dengan Kesultanan Bacan. Menurut Helmi, Kesultanan Bacan memiliki kontribusi historis yang tak terpisahkan dalam narasi besar tersebut.
“Kalau kita bicara tentang Boki Fatimah, kita tidak bisa melepaskannya dari Kesultanan Bacan yang telah diwakili oleh Ompu Juru Tulis Kesultanan Bacan,” tuturnya.
Faktor kedua adalah sosok Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Helmi menjelaskan bahwa terdapat beberapa versi sejarah mengenai relasi antara Tirto dan Boki Fatimah. Salah satunya menyebutkan keduanya pernah saling mengenal saat menimba ilmu dan terhubung melalui kecerdasan serta kemampuan bahasa asing yang dimiliki Boki Fatimah.
“Ada versi yang menyebut Tirto tertarik pada kecerdasan Boki Fatimah yang mampu berbahasa Belanda dan menyampaikan catatan-catatan kepada Medan Prijaji. Versi lain menyebut Tirto diasingkan ke Bacan karena ketakutan pemerintah kolonial atas kapasitas intelektualnya, lalu di sanalah ia mengenal Boki Fatimah,” jelas Helmi.
Helmi menggambarkan Tirto sebagai sosok visioner yang memilih jalan perjuangan melalui jurnalisme. Ia bahkan menanggalkan status kebangsawanannya demi menjadi jurnalis kritis terhadap kolonialisme.
“Tirto mempunyai pemikiran bahwa media dan jurnalis adalah alat perjuangan dalam sejarah pergerakan. Ia ingin membuat surat kabar yang benar-benar milik pribumi, seperti Medan Prijaji yang berbagi saham,” katanya.
Dalam konteks itu pula, Helmi menyebut kemungkinan adanya dukungan finansial dari Kesultanan Bacan terhadap pendirian Medan Prijaji berbahasa Melayu sebagai salah satu surat kabar awal milik pribumi.
“Bisa jadi dalam perjalanan sejarah itu, Sultan Bacan memberikan dukungan finansial atas dasar nasionalisme yang kuat. Ini menjadi bagian penting yang perlu kita riset agar koneksinya benar-benar pas,” ungkapnya.
Faktor ketiga dan keempat, lanjut Helmi, adalah keterkaitan antara Medan Prijaji, Puteri Hindia, serta representasi perempuan di dalamnya. Ia menyinggung adanya sejumlah perempuan yang terlibat dalam surat kabar tersebut, termasuk istri Tirto.
“Ada sekitar lima perempuan di dalam surat kabar itu. Ini menunjukkan kontribusi Kesultanan Bacan dalam pendirian media tersebut dan memperlihatkan ruang perempuan dalam sejarah pers,” ucap Helmi.
Tak hanya itu, Helmi juga menyoroti peran sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dalam mengangkat figur Boki Fatimah melalui karya-karyanya.
“Siapa yang tak kenal Pramoedya Ananta Toer. Dalam karya-karyanya seperti Bumi Manusia dan Jejak Langkah, ia mengangkat sosok perempuan dari Bacan yang digambarkan cantik, cerdas, berani, serta menguasai bahasa asing,” katanya.
Menurut Helmi, meskipun karya Pramoedya berbentuk novel sejarah, basisnya tetap berangkat dari fakta historis yang kuat. Penggambaran Boki Fatimah sebagai perempuan berintelektualitas tinggi dinilai semakin memperkaya narasi perjuangan pers pribumi.
“Ini catatan-catatan yang perlu kita faktualkan dalam bentuk buku agar mempermudah tujuan besar kita. Kita harus riset secara komprehensif supaya koneksinya utuh dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Helmi.
FGD tersebut menjadi ruang reflektif untuk menata kembali ingatan sejarah, sekaligus menguatkan ikhtiar menjadikan Boki Fatimah sebagai salah satu kebangkitan jurnalis perempuan Nusantara.
