KETIK, PACITAN – Hasil uji laboratorium mengungkap penyebab dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalombo, Pacitan.
Sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi siswa dinyatakan positif terkontaminasi bakteri.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, mengatakan jenis makanan yang terindikasi tercemar di antaranya sayuran sawi dan edamame.
“Jadi dapat dipastikan makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut yang menyebabkan para siswa mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan pusing,” kata dr. Daru, Jumat, 17 April 2026.
Baca Juga:
Dilaporkan Warga, Penjual Ciu di Pacitan Diciduk Polisi: Kedapatan Simpan 41 BotolIa menjelaskan, hasil tersebut diperoleh dari pemeriksaan sampel makanan di laboratorium Surabaya dan Yogyakarta.
Sampel berasal dari menu yang disajikan pada 8 hingga 10 April di SPPG Sejahtera Kebondalem.
Tak hanya makanan, hasil uji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Pacitan juga menemukan adanya kontaminasi bakteri pada air di lokasi tersebut.
“Iya, termasuk juga air,” ujarnya.
Baca Juga:
22 Pasien Rawat Inap MBG di Tegalombo Pulih, Dinkes Pacitan Lanjutkan PenangananKombinasi dari beberapa komponen tersebut diduga kuat menjadi pemicu munculnya gejala mual, pusing, dan diare pada ratusan siswa-guru penerima MBG.
Meski demikian, Dinkes belum merinci jenis bakteri yang ditemukan.
Pun dr. Daru menyampaikan, hasil pemeriksaan ini akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG.
Termasuk keputusan apakah operasional SPPG Kebondalem akan dihentikan atau tetap berjalan.
“Nanti hasil ini kami serahkan ke BGN untuk bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Sejahtera Kebondalem, Sugeng Priyatmoko, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang berdampak pada siswa.
“Saya pribadi memohon maaf atas kejadian yang terjadi pada siswa-siswa,” ucapnya di Pendopo Kecamatan Tegalombo, Kamis, 16 April 2026.
Ia juga menyebut pihaknya siap mengikuti prosedur yang ditetapkan jika terbukti ada kaitan antara makanan yang diproduksi dengan kejadian tersebut.
“BGN juga tidak diam, nanti ada prosedurnya. Biaya perawatan dan hal lain akan dicover oleh badan gizi,” katanya.
Informasi terbaru, total korban terdampak dalam kasus ini mencapai 158 orang.
Dari 28 korban yang sempat menjalani rawat inap, sebanyak 22 siswa telah dinyatakan pulih. Sementara, 6 lainnya kini masih dalam perawatan.(*)