KETIK, JAKARTA – Memasuki hari ke-13 operasional haji 2026, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat bertambah menjadi delapan orang.

Serangan jantung dan pneumonia atau radang paru-paru masih menjadi penyebab dominan di tengah padatnya aktivitas ibadah serta tingginya suhu di Arab Saudi.

Data Kementerian Haji dan Umrah sebelumnya mencatat tujuh jemaah wafat hingga Sabtu, 2 Mei 2026.

Namun pada Minggu, 3 Mei 2026, satu jemaah kembali dilaporkan meninggal dunia saat berada di Madinah.

Jemaah tersebut berinisial SMP (73), asal Embarkasi Kertajati kloter KJT-14. Ia dilaporkan mengalami penurunan kesadaran saat menjalani proses imigrasi di bandara setibanya di Tanah Suci.

Baca Juga:
376 Jamaah Haji Kloter 46 Asal Gresik Bertolak ke Surabaya, Dilepas Langsung Bupati Gus Yani

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, menjelaskan petugas langsung melakukan penanganan awal begitu mengetahui kondisi jemaah menurun.

“Jemaah berinisial SMP, usia 73 tahun, dari Embarkasi Kertajati KJT-14, sempat turun kesadarannya saat proses imigrasi di bandara. Begitu diketahui kondisinya menurun, petugas langsung melakukan penanganan dan jemaah dibawa ke klinik bandara,” ujarnya di Madinah, Minggu, 3 Mei 2026.

Setelah mendapatkan penanganan di klinik bandara, jemaah tersebut dirujuk ke Rumah Sakit Mouwasat Madinah untuk perawatan lanjutan.

Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan wafat setelah menjalani proses medis.

Baca Juga:
Update Haji 2026: Jemaah Wafat Bertambah Jadi 7 Orang, Ribuan Jalani Rawat Jalan

Di sisi lain, layanan kesehatan jemaah terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kedatangan.

Secara kumulatif, 6.823 jemaah menjalani rawat jalan, 117 dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 141 jemaah dirawat di rumah sakit Arab Saudi, dengan 59 orang masih dalam perawatan.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan operasional haji tetap berjalan lancar meski tantangan kesehatan meningkat, terutama pada fase kedatangan jemaah di Tanah Suci.

Menurutnya, fase kedatangan menjadi titik krusial pelayanan karena setiap jemaah datang dengan kondisi fisik yang berbeda setelah perjalanan panjang.

“Kami terus memastikan setiap jemaah mendapatkan layanan terbaik sejak tiba di bandara hingga mobilisasi ke kota suci,” ujarnya.

Ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan jemaah dengan penyakit penyerta, mengingat cuaca ekstrem dapat memperparah risiko kesehatan.

Di Madinah, tren penyakit yang muncul didominasi hipertensi, infeksi saluran pernapasan atas, dan nyeri otot.

Data KKHI Madinah mencatat hipertensi primer mencapai 736 kasus, diikuti flu 493 kasus, serta myalgia 331 kasus.

Kepala Seksi Kesehatan KKHI Madinah, Enny Nuryanti, mengimbau jemaah untuk membatasi aktivitas agar tidak kelelahan menjelang puncak ibadah.

“Jemaah yang memiliki penyakit penyerta harus dipastikan dalam kondisi terkontrol. Aktivitas perlu dibatasi agar tidak terjadi kelelahan sebelum puncak ibadah,” ujarnya.

Sementara itu, mobilisasi jemaah terus berlangsung. Hingga hari ke-13, sebanyak 192 kloter dengan 74.652 jemaah telah diberangkatkan ke Tanah Suci.

Sebanyak 184 kloter dengan 71.362 jemaah telah tiba di Madinah, dan 36 kloter dengan 14.503 jemaah sudah berada di Makkah untuk melaksanakan umrah wajib.

Pemerintah juga menyiagakan layanan Bus Sholawat selama 24 jam di Makkah guna mendukung mobilitas jemaah, termasuk layanan ramah lansia dan disabilitas.

Lebih lanjut, pemerintah memastikan seluruh jemaah yang wafat mendapatkan hak badal haji serta penanganan sesuai prosedur.(*)