KETIK, SURABAYA – Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, menghadiri Peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus penutupan Pesantren Anak Ramadan PP Muslimat NU di Kantor PP Muslimat NU, Jakarta, Sabtu 7 Maret 2026.
Serangkaian kegiatan yang dimulai dengan buka puasa bersama tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Acara ini dihadiri jajaran pengurus serta jemaah Muslimat NU dari berbagai daerah.
Dalam kesempatan itu, Khofifah menegaskan bahwa Muslimat NU berperan penting sebagai pilar pergerakan perempuan Nahdliyin dalam menanamkan nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin di tengah masyarakat.
Khofifah juga menyampaikan bahwa tersebarnya Muslimat NU hingga pelosok desa bahkan di berbagai negara menunjukkan besarnya kontribusi organisasi tersebut dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
“Mudah-mudahan semuanya menjadi amal ibadah kita dan menjadi jariyah kita. Bahwa ada organisasi yang bernama Muslimat Nahdlatul Ulama yang anggotanya ada di mana-mana, di pelosok desa, di gunung-gunung, bahkan juga di Jerman, Mesir, Jepang, dan berbagai negara lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran Muslimat NU tidak hanya sekadar berkontribusi bagi bangsa dan negara, tetapi juga dalam menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan keberkahan bagi seluruh umat manusia.
Menurut Khofifah, anggota Muslimat NU yang mayoritas berperan sebagai ibu memiliki tanggung jawab penting dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun karakter generasi muda sejak usia dini.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) yang membatasi akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
“ntuk itu, kita menyampaikan terima kasih kepada Ibu Menkomdigi. Karena sudah mengeluarkan keputusan bahwa mulai tanggal 26 Maret, anak-anak di bawah 16 tahun sudah dilarang mengakses media sosial,” katanya.
Menurut Khofifah, kebijakan tersebut menjadi langkah penting dalam melindungi anak-anak dari segala bentuk dampak negatif penggunaan media sosial yang berlebihan, termasuk potensi kecanduan gawai yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan anak.
Khofifah menilai tidak semua orang tua dapat terus memantau aktivitas digital anak-anaknya, sehingga kebijakan tersebut menjadi keputusan yang baik dalam rangka menjaga tumbuh kembang generasi muda.
Peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus penutupan Pesantren Anak Ramadan itu juga diisi penampilan para peserta. Dipimpin cucu Khofifah, Aisyah Nabila, anak-anak menampilkan pembacaan sholawat serta lagu-lagu Islami.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Muslimat NU Arifah Fauzi yang juga menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyampaikan apresiasi atas pengabdian Khofifah.
Ia menyebut berbagai arahan dan gagasan Khofifah memberikan manfaat tidak hanya bagi Muslimat NU, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Jika biasanya kita lihat kegiatan Pesantren Ramadhan buat anak-anak, ini adalah ide dari Ibu Khofifah yang kemudian kami sampaikan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, kemudian disupport oleh 6 kementerian dan Menko PMK,” ujarnya.
Menurut Arifah, program tersebut kemudian disebarkan ke berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya pembinaan anak selama bulan Ramadan.
“Jadi ini disebarkan di seluruh Indonesia berkat inisiasi dan ide yang luar biasa dari Ibu Khofifah. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan ganjaran pahalanya, paling tidak ya karena ide-ide yang luar biasa,” pungkasnya. (*)
