KETIK, MALANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang bersiap menghadapi musim kemarau. Strategi untuk melakukan perawatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun tanaman hias pun telah disiapkan.

Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, menjelaskan persiapan telah dimulai sejak jauh-jauh hari melalui penanaman pohon di bulan Oktober 2026. Penanaman pohon menyasar lahan kosong milik Pemkot Malang sebagai langkah penghijauan.

"Selama mulai bulan Oktober dari DLH Kota Malang rutin melaksanakan penanaman pohon. Apakah itu dilaksanakan di tanah-tanah Pemkot ataupun di tanah makam. Banyak juga yang kami lakukan di sekitar area rusunawa, kuburan, dan lainnya," ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.

DLH Kota Malang telah melakukan pengecekan terhadap pohon-pohon maupun tanaman yang harus rutin mendapatkan penyiraman pada musim kemarau. Beberapa titik yang menjadi fokus perhatian ialah tanaman hias yang berada di taman kota maupun sepanjang Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan Ijen, dan Jalan Veteran. 

"Untuk sementara yang jadi perhatian itu tanaman hias. Kalau yang pohon-pohon besar kan daya tahannya lama sehingga tidak perlu rutin disiram. Tetapi untuk tanaman-tanaman hias yang memang butuh air tambahan itu kita lakukan rutin penyiraman," ungkap Raymond.

Baca Juga:
Kebakaran Gudang Pabrik Rokok di Malang, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Plh Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, menjelaskan rencana penyiraman RTH selama musim kemarau nanti. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

Pada saat musim hujan, tidak dilakukan penyiraman untuk sementara waktu dan hanya mengandalkan air hujan. Menghadapi musim kemarau, jadwal penyiraman kembali diaktifkan meskipun hanya dengan mengandalkan tiga mobil tangki air.

"Kalau yang sebelumnya kan mungkin begitu musim hujan jarak-jarak satu minggu itu kita selingi penyiraman hari kedua, hari ketiga. Tetapi kalau sekarang dipantau karena memang jumlah tangki penyiraman kami kan tidak banyak, sehingga jadwalnya keliling," katanya.

Raymond menjelaskan musim kemarau biasanya identik dengan angin kencang. Untuk itu perempesan pohon juga rutin dilaksanakan setiap minggunya, terlebih permintaan masyarakat pun turut berdatangan.

Baca Juga:
Perkuat Sinergi Pendidikan Swasta Nasional, Rektor Unikama Hadiri Rakornas ALPTKSI 2026 di Jakarta

"Antrean perempesan cukup banyak, berdasarkan surat masukan dari masyarakat maupun dari hasil penilaian teman-teman sendiri memang ada beberapa pohon yang harus dirempes bahkan ditebang," lanjutnya.

Pada awal Agustus 2025 terdapat 400 antrean perempesan pohon di DLH Kota Malang dan kini tersisa 124 antrean. Sedangkan untuk penebangan pohon terdapat 150 antrean kini menjadi sekitar 52 antrean.

"Jumlah pohon yang ada di Kota Malang itu kurang lebih sekitar 12.600 pohon. Sehingga satu hari kegiatan perempesan itu tiga regu maksimal 3 atau 4 pohon karena bisa jadi satu pohon itu sampai dua hari," pungkasnya.(*)