KETIK, BONDOWOSO – Pemkab Bondowoso mulai menyiapkan langkah besar untuk mengembalikan kejayaan daerah sebagai salah satu sentra kopi unggulan nasional. Setelah sempat meredup akibat berbagai tantangan dan persoalan yang menghambat pengembangannya, konsep Bondowoso Republik Kopi (BRK) kini kembali dihidupkan melalui gerakan baru bertajuk BRK Reborn.

Program ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Bondowoso untuk membangun kembali ekosistem perkopian yang lebih kuat, modern, dan berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, BRK Reborn juga diarahkan pada penguatan seluruh rantai nilai kopi mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, mengatakan bahwa langkah awal yang saat ini dilakukan adalah memperkuat pondasi sektor kopi dari tingkat petani sebagai ujung tombak produksi.

“BRK Reborn. Saat ini yang kami lakukan adalah membangun infrastruktur yang terutama dari hulunya dulu,” kata Hergiar, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, pengembangan sektor kopi tidak bisa dilakukan secara parsial atau berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar seluruh potensi yang dimiliki Bondowoso dapat berkembang secara maksimal.

Baca Juga:
Pemkab Bondowoso Sapu Bersih WTP 12 Tahun Beruntun, Bukti Reformasi Birokrasi dan Keuangan Kian Matang

Karena itu, Diskoperindag mulai membangun sinergi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama Dinas Pertanian dan sektor pariwisata. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pengembangan kopi yang saling terhubung, mulai dari budidaya, pengolahan, pemasaran hingga pengembangan wisata berbasis kopi.

Hergiar menilai Bondowoso memiliki modal besar untuk kembali bersaing di pasar nasional maupun internasional. Salah satu kekuatan utama daerah ini adalah keberadaan kopi specialty yang selama ini telah dikenal luas dan memiliki kualitas yang diakui berbagai kalangan.

Namun demikian, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya mendapatkan dukungan yang memadai sehingga belum mampu memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi petani maupun pelaku usaha kopi.

“Kami punya kopi specialty yang saat ini sudah cukup dikenal, tetapi kadang-kadang masih kurang mendapatkan dukungan yang optimal dari pemerintah,” ujarnya.

Baca Juga:
Bondowoso Bidik Cuan Panas Bumi, Wabup Perkuat Kemitraan Strategis dengan Medco Geothermal

Ia menjelaskan bahwa selama ini pengembangan kopi cenderung lebih banyak berorientasi pada peningkatan produksi. Padahal, keberhasilan industri kopi modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah hasil panen, melainkan juga kemampuan membangun pasar, memperkuat identitas produk, dan menciptakan nilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha.

Karena itu, BRK Reborn hadir dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Pemerintah ingin memastikan bahwa kopi Bondowoso tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tetapi juga memiliki daya saing yang kuat dalam aspek pemasaran dan branding.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berencana mengoptimalkan kembali fungsi Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Fasilitas tersebut nantinya akan menjadi pusat pengembangan UMKM kopi yang menyediakan berbagai layanan mulai dari pelatihan, pendampingan usaha, konsultasi bisnis hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi para pelaku industri kopi lokal.

Selain itu, transformasi digital menjadi salah satu fokus utama dalam kebangkitan BRK. Jika pada masa lalu promosi kopi Bondowoso masih mengandalkan pameran dan pemasaran konvensional, kini pemerintah melihat bahwa pemanfaatan teknologi digital merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari.

Melalui strategi pemasaran digital yang lebih agresif, kopi Bondowoso diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Penguatan branding melalui media digital juga diyakini dapat meningkatkan nilai jual sekaligus memperkuat identitas kopi Bondowoso di tengah persaingan industri kopi yang semakin kompetitif.

Meski menggunakan nama baru, Hergiar menegaskan bahwa BRK Reborn bukanlah konsep yang sepenuhnya berbeda dari Bondowoso Republik Kopi yang pernah menjadi ikon daerah. Program ini merupakan bentuk penyegaran dan penyesuaian terhadap perkembangan zaman serta tantangan industri kopi saat ini.

“Bagaimana konsep yang lama itu bisa diteruskan dengan semangat baru, dengan teknologi yang baru, sehingga lebih relevan dengan kebutuhan saat ini,” tegasnya.

Melalui BRK Reborn, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap dapat menghadirkan momentum baru bagi kebangkitan sektor perkopian daerah. Tidak hanya memperkuat identitas Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi berkualitas, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas peluang usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.

Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, BRK Reborn diyakini dapat menjadi tonggak baru dalam mengembalikan kejayaan Bondowoso sebagai salah satu pusat kopi terbaik di Indonesia. (*)