KETIK, BLITAR – Upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi di pasar tradisional Kota Blitar terus digencarkan. Pasca pandemi COVID-19, perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja menjadi tantangan tersendiri, terutama dengan semakin maraknya transaksi digital yang dinilai lebih praktis dan efisien.

 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto, mengakui bahwa pasar tradisional sempat mengalami penurunan pengunjung akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat tersebut.

 

“Pasca pandemi COVID-19, salah satu dampak yang dirasakan adalah perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja. Masyarakat makin akrab dan terbiasa dengan belanja secara digital atau online, karena lebih praktis dan kadang lebih murah,” jelas Parminto, Senin, 4 Mei 2026.

Baca Juga:
Anak Muda Blitar Bergerak! Satsu Fest 2026 Jadi Bukti Nyata Kekuatan Generasi Baru

 

Menurutnya, kondisi ini turut berdampak pada sepinya sejumlah pasar tradisional, termasuk di Kota Blitar. Ia menyebut ada beberapa faktor yang mempengaruhi, mulai dari kualitas produk, kepastian harga, hingga aspek kebersihan, keamanan, dan kenyamanan pasar.

 

“Selain itu, metode pembayaran yang praktis seperti QRIS, OVO, DANA dan sejenisnya juga belum sepenuhnya tersedia di pasar tradisional,” imbuhnya.

Baca Juga:
Target Tambah Pasar SNI Tiap Tahun, Diskopindag Malang Ungkap Kendala Zonasi

 

Meski demikian, Parminto menegaskan tidak semua pasar tradisional mengalami penurunan aktivitas. Beberapa pasar justru masih memiliki pola keramaian yang khas pada jam dan hari tertentu.

 

Seperti Pasar Templek, yang setiap dini hari hingga menjelang subuh menjadi pusat aktivitas para pedagang grosir dan bakul ethek.

 

“Pasar Templek misalnya, setiap hari antara pukul 02.00 hingga 04.30 akan sangat ramai oleh bakul ethek yang belanja grosiran untuk dijual kembali. Bahkan sejak pukul 01.00 dini hari, pedagang sayur dari Pujon, Malang dan sekitarnya sudah mulai berdatangan,” paparnya.

 

Hal serupa juga terjadi di Pasar Legi. Aktivitas jual beli di pasar tersebut cenderung meningkat pada pukul 10.00 hingga 12.00 siang, kemudian kembali ramai pada sore hari.

 

“Pasar Legi itu punya pola sendiri, biasanya ramai antara pukul 10.00 sampai 12.00, lalu berlanjut lagi pukul 15.00 hingga 17.00, terutama di kios sisi selatan dan Jalan Mayang,” jelasnya.

 

Sementara itu, Pasar Pon juga menjadi pusat kulakan bagi pedagang keliling pada dini hari.

 

“Di Pasar Pon, pembeli mulai ramai sekitar pukul 03.30 sampai 05.30, terutama bakul ethek yang belanja untuk dijual keliling,” tambah Parminto.

 

Untuk menjaga dan meningkatkan kembali keramaian pasar tradisional, Pemkot Blitar tidak bisa bekerja sendiri. Parminto menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, hingga para pedagang.

 

“Kami sedang menyiapkan pembangunan fisik atau revitalisasi pasar seperti Pasar Legi, pasar kuliner dan Pasar Pahing, agar lebih tertata dari sisi kebersihan, keamanan, kenyamanan serta tata kelolanya,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, konsep pengembangan pasar ke depan juga diarahkan lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat saat ini.

 

“Pasar tidak hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga bisa menjadi ruang kreatif anak muda, ruang seni dan budaya, serta terintegrasi dengan jualan online,” lanjutnya.

 

Ia juga menyoroti peran DPRD yang dinilai krusial dalam mendukung penganggaran serta pengawasan program pengembangan pasar tradisional.

 

“Peran DPRD sangat penting dalam penganggaran dan pengawasan, termasuk memberikan ide dan gagasan untuk pengembangan pasar ke depan,” tegasnya.

 

Di sisi lain, Parminto mengingatkan bahwa kesiapan pedagang menjadi kunci utama keberhasilan transformasi pasar tradisional.

 

“Pedagang juga harus siap berubah mengikuti perkembangan zaman. Misalnya mulai menggunakan pembayaran digital, meningkatkan kualitas dan tampilan produk agar lebih menarik,” pungkasnya.

 

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Blitar berharap pasar tradisional tidak hanya bertahan, tetapi mampu kembali menjadi pusat ekonomi rakyat yang hidup, adaptif, dan relevan di tengah era digital.