KETIK, JAKARTA – Gaya pengasuhan anak era 1990-an kembali menarik perhatian seiring keinginan sejumlah orang tua dari generasi milenial untuk menghadirkan suasana masa kecil mereka kepada anak-anaknya.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, pola pengasuhan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk mendorong interaksi keluarga, kreativitas, dan kemandirian anak.

Masa kecil pada era 1990-an memiliki perbedaan dengan kehidupan anak-anak saat ini.

Jika sekarang ponsel pintar dan media sosial menjadi bagian dari keseharian, pilihan hiburan pada masa itu relatif terbatas.

Anak-anak lebih banyak mengandalkan permainan fisik, interaksi langsung, dan kegiatan bersama keluarga.

Baca Juga:
Harganas 2026 dan Upaya Pemkot Malang Mengikis Fatherless dari Bangku Sekolah

Menghidupkan kembali suasana tersebut tidak berarti harus meninggalkan teknologi sepenuhnya.

Orang tua dapat menerapkan sejumlah kebiasaan yang membantu anak lebih seimbang dalam menggunakan perangkat digital dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Salah satunya dengan membatasi waktu penggunaan layar atau screen time.

Anak-anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam bermain gim atau mengakses media sosial jika tidak mendapatkan pendampingan yang memadai.

Baca Juga:
Kekerasan di Daycare Yogyakarta Jadi Alarm Perbaikan Sistem Pengasuhan Anak

Orang tua dapat menetapkan batas waktu penggunaan gawai, mengawasi aktivitas digital anak, serta menunda pemberian ponsel pribadi hingga anak dinilai cukup siap menggunakannya.

Penggunaan media sosial juga perlu memperhatikan batas usia yang ditetapkan masing-masing platform.

Cara berikutnya adalah menjadikan anggota keluarga sebagai teman bermain dan sumber hiburan.

Orang tua dapat mengajak anak bermain permainan papan, menyusun balok, mengobrol, atau melakukan aktivitas lain yang melibatkan interaksi langsung.

Kegiatan sederhana tersebut dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kedekatan.

Bagi anak yang memiliki saudara, permainan bersama juga bisa menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarsaudara.

Selain itu, orang tua dapat membangun ritual keluarga secara rutin. Misalnya, makan malam bersama, menonton film pada akhir pekan, atau merencanakan kegiatan liburan keluarga.

Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk berinteraksi tanpa terganggu aktivitas masing-masing.

Anak juga dapat merasakan adanya rutinitas yang membuat kehidupan keluarga lebih teratur.

Hal lain yang bisa diterapkan adalah memberi anak kesempatan untuk merasa bosan.

Ketika tidak selalu disibukkan dengan gawai, les, atau kegiatan terjadwal, anak memiliki ruang untuk mencari aktivitas sendiri.

Dalam situasi tersebut, anak dapat terdorong menggunakan imajinasi, mencoba permainan baru, dan belajar menyelesaikan masalah.

Orang tua tetap perlu memastikan aktivitas yang dipilih sesuai usia dan aman bagi anak.

Terakhir, orang tua dapat memberikan kebebasan bermain di luar rumah dengan batasan yang jelas.

Bermain di lingkungan sekitar dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan mengenal lingkungannya.

Kebebasan tersebut tetap perlu disertai aturan, seperti batas wilayah bermain, waktu pulang, serta pendampingan sesuai usia dan kondisi keamanan lingkungan.(*)