Flexing di Dunia Maya: Strategi Komunikasi atau Krisis Identitas Digital?

Editor: Mustopa

7 Nov 2025 09:02

Thumbnail Flexing di Dunia Maya: Strategi Komunikasi atau Krisis Identitas Digital?
Oleh: Silvi Aris Arlinda*

Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya digital. Mulai dari menampilkan barang bermerek, gaya hidup mewah, hingga pencapaian pribadi yang berlebihan, flexing menjadi “strategi” untuk menarik perhatian dan validasi sosial. 

Namun, di balik layar gemerlapnya, muncul pertanyaan penting: apakah flexing adalah bentuk komunikasi strategis untuk membangun citra, atau justru cerminan krisis identitas digital yang semakin mengkhawatirkan?

Fenomena Flexing dalam Konteks Komunikasi Digital

Dalam perspektif ilmu komunikasi, flexing dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi simbolik. Melalui unggahan dan narasi visual, individu menyampaikan pesan tentang siapa dirinya, apa yang dimilikinya, dan bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh khalayak. 

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Dalam era media sosial, representasi diri (self presentation) menjadi penting karena citra digital sering kali lebih menentukan reputasi dibandingkan realitas sehari-hari.

Namun self presentation yang berlebihan dapat bergeser menjadi self promotion yang tak sehat. Fenomena ini dipicu oleh budaya algoritma media sosial yang memberi penghargaan pada popularitas, jumlah likes, dan interaksi, bukan pada substansi komunikasi. 

Akibatnya, ruang digital dipenuhi pesan-pesan pamer yang membentuk norma sosial baru: bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kemewahan yang ditampilkan, bukan oleh kontribusi atau karakter.

Krisis Nilai dan Identitas Sosial

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Dari perspektif komunikasi sosial, flexing menimbulkan dampak terhadap nilai-nilai kemasyarakatan. Budaya pamer memunculkan kesenjangan simbolik antara “yang punya” dan “yang tidak punya”. 

Hal ini dapat memicu rasa iri, rendah diri, hingga perilaku konsumtif demi meniru gaya hidup yang ditampilkan di media. Dalam konteks ini, flexing tidak lagi menjadi komunikasi positif, tetapi memunculkan disonansi sosial dan psikologis.

Lebih jauh, fenomena flexing juga mencerminkan krisis identitas digital. Banyak pengguna media sosial membangun persona yang berbeda jauh dari realitas hidupnya. 

Identitas digital menjadi “topeng sosial” yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan pengakuan. Ketika pengakuan itu tak datang, muncul tekanan emosional, rasa tidak cukup, dan hilangnya makna autentik dalam berkomunikasi.

Peran Literasi Komunikasi Digital

Untuk memahami dan meredam dampak negatif flexing, literasi komunikasi digital menjadi kunci. Pengguna media sosial perlu diajak memahami bahwa setiap unggahan adalah pesan yang memiliki makna sosial. 

Literasi komunikasi tidak hanya tentang cara menggunakan media, tetapi juga tentang memahami konsekuensi etis dan psikologis dari pesan yang disampaikan.

Institusi pendidikan, komunitas digital, dan para influencer memiliki peran penting dalam membangun budaya komunikasi yang lebih empatik dan reflektif. Alih-alih menormalisasi budaya pamer, ruang digital seharusnya menjadi tempat berbagi inspirasi, kolaborasi, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Penutup

Fenomena flexing adalah cermin perubahan pola komunikasi di era digital. Ia bisa menjadi strategi untuk membangun citra, tetapi juga bisa menjadi gejala krisis identitas sosial jika dilakukan tanpa kesadaran etis. 

Dalam dunia yang semakin terkoneksi, komunikasi bukan lagi sekadar tentang apa yang ditampilkan, melainkan tentang makna yang ingin dibangun. Karena pada akhirnya, kredibilitas dan empati jauh lebih bernilai daripada sekadar tampilan mewah di dunia maya.

*) Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom merupakan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Pelantikan Pengurus dan 1 Dekade Berjalan Sukses, PWI Nagan Raya Ucapkan Terima Kasih

Baca Selanjutnya

Keren! Juara 1 GTK Provinsi, Kepsek SMAN 6 Abdya Wakili Aceh ke Kancah Nasional

Tags:

opini Silvi Aris Arlinda flexing

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar