KETIK, PACITAN – Tangan Runtami (57) bergerak pelan mengelap meja kayu di teras rumahnya. 

Kain lap yang digenggamnya baru beberapa kali menyapu permukaan meja, tetapi warna kain itu sudah berubah kecokelatan.

Padahal pagi itu belum lama berlalu. 

Matahari baru meninggi ketika kendaraan demi kendaraan melintas di Jalan Prof. Dr. Moestopo, tepat di depan rumahnya di Dusun Duduhan, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan.

Setiap roda yang berputar di atas jalan rusak itu seolah mengirimkan debu ke rumah Runtami.

Baca Juga:
Sudah Tahunan Rusak, Mengapa Jalan Mentoro–Pagutan Pacitan Tak Kunjung Diperbaiki?

"Sekarang dibersihkan, nanti siang sudah kotor lagi," ucapnya saat ditemui Ketik.com dikediamannya, Kamis, 11 Juni 2026.

Di hadapan rumahnya, jalan yang menghubungkan Kecamatan Arjosari dan Pacitan itu tampak lebih mirip hamparan tanah berbatu daripada jalan kabupaten. 

Aspal yang dulu menutupi badan jalan sebagian besar telah menghilang, menyisakan lubang dan permukaan yang tidak rata.

Saat kendaraan melintas, debu langsung membumbung ke udara seperti kabut tipis berwarna cokelat.

Baca Juga:
Peredaran Rokok Ilegal di Perbatasan Pacitan-Ponorogo Digulung Petugas, 1.360 Batang Disita

Bagi orang yang hanya lewat, debu itu mungkin hanya mengganggu beberapa detik. 

Namun bagi Runtami dan keluarganya, debu itu adalah teman yang hadir setiap hari selama bertahun-tahun.

Debu masuk ke ruang tamu, menempel di dinding, hinggap di kursi, merayap ke dapur, bahkan masuk ke makanan jika tidak segera ditutup rapat.

Karena debu itulah, Runtami akhirnya harus merelakan usaha kecil yang pernah menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga.

Mulyono (68), warga Dusun Duduhan, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan, menunjukkan kondisi Jalan Prof. Dr. Moestopo yang rusak parah, Kamis (11/6/2026). Jalan yang telah rusak selama bertahun-tahun itu menjadi sumber debu yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga, serta disebut telah menyebabkan sejumlah kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut.

Tiga tahun lalu, teras rumah yang kini dipenuhi debu itu pernah menjadi tempat warga singgah membeli lotek dan minuman segar.

"Sekarang udah nggak jualan lotek lagi. Debunya ke makanan semua, nggak bisa kalau dilanjutkan," keluhnya.

Hanya ada rasa pasrah yang tersisa dalam ucapan Runtami.

Di sampingnya, sang suami, Mulyono (68) mengangguk pelan.

Menurutnya, kerusakan jalan sudah berlangsung sekitar tujuh tahun.

Namun dua tahun terakhir menjadi masa paling berat karena kondisi jalan semakin hancur.

Jika dulu debu hanya muncul sesekali, kini hampir setiap kendaraan yang lewat membawa awan debunya sendiri.

Setiap pagi dan sore, pasangan lansia itu harus menyiram jalan menggunakan air agar debu tidak langsung masuk ke rumah.

"Bapak yang tiap hari menyirami jalan, nekat, padahal bapak punya penyakit jantung" sahut Runtami.

Aktivitas itu telah menjadi rutinitas yang tak pernah mereka rencanakan sebelumnya.

Namun air hanya mampu menahan debu untuk sementara.

Begitu jalan kembali kering dan kendaraan melintas, debu kembali berterbangan.

Yang paling mereka khawatirkan bukan lagi soal meja yang kotor atau lantai yang harus terus disapu.

Mulyono menyebut banyak warga mulai mengeluhkan gangguan pernapasan akibat debu yang setiap hari terhirup.

Selain itu, sedikitnya ada 13 pengendara yang kecelakaan akibat jalan berlubang di lokasi itu.

"Ada balita yang sampai sakit pernapasan. Kalau kecelakaan yang paling parah sampai patah tulang," ungkapnya.(*)