KETIK, BANDA ACEH – Beberapa tahun yang lalu, setiap hari Andriy Anta Kacaribu harus berjalan kaki lebih dari 10 kilometer untuk pergi dan pulang sekolah. Di sela perjalanan mengejar pendidikan, ia juga berjualan makanan ringan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Kini, langkah kaki itu telah membawanya jauh. Pada usia 26 tahun, Andriy resmi meraih gelar doktor dari Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK).
Perjalanan tersebut dikukuhkan melalui Sidang Promosi Doktor Sekolah Pascasarjana USK, Rabu (23/9/2026). Andriy berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Biokonversi Anaerobik Limbah Pertanian Menggunakan Kultur Mikroba Campuran untuk Produksi Asam Organik.”
Kisahnya menjadi gambaran bagaimana pendidikan dapat mengubah arah perjalanan hidup seseorang.
Andriy merupakan putra kelahiran 16 Juni 2000 dan anak bungsu dari empat bersaudara. Ia tumbuh di Subulussalam dalam kondisi keluarga yang tidak mudah.
Baca Juga:
Cegah Bullying, Siswa SMAN 5 Banda Aceh Antusias Ikuti Pembinaan PSGAOrang tuanya berpisah ketika ia berusia delapan tahun. Dua tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Namun, keadaan tersebut tidak membuat Andriy berhenti mengejar pendidikan.
Saat bersekolah di SMP Negeri 3 Sultan Daulat, jarak lebih dari 10 kilometer menuju sekolah harus ditempuhnya dengan berjalan kaki setiap hari. Di tengah keterbatasan itu, ia tetap mempertahankan prestasi akademiknya.
Sejak SD hingga SMA, Andriy konsisten berada di peringkat pertama di kelas. Pendidikan kemudian membawanya keluar dari keterbatasan tersebut.
Setelah lulus SMA pada 2018, ia diterima di USK melalui jalur SNMPTN dengan dukungan Beasiswa Bidikmisi.
Baca Juga:
Pangdam IM Pimpin Pantukhir Cata PK TNI AD Gelombang III, 901 Calon Prajurit Ikuti Tahap AkhirDi Program Studi Kimia FMIPA USK, Andriy menyelesaikan pendidikan S1 dalam waktu sekitar 3,5 tahun dengan IPK 3,67.
Perjalanan itu berlanjut ke jenjang magister. Ia menempuh S2 Teknologi Industri Pertanian USK dan menyelesaikannya sekitar 1,4 tahun dengan IPK 4,00. Untuk pendidikan tersebut, ia memperoleh Beasiswa Program Riset Unggulan USK.
Pada 2023, Andriy melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor melalui Program Percepatan Doktor (PRUUPD).
Dari Jalan Kaki ke Jurnal Internasional
Kecepatan menyelesaikan pendidikan bukan satu-satunya catatan dalam perjalanan akademik Andriy.
Ia juga aktif melakukan penelitian dan publikasi ilmiah. Hingga kini, Andriy telah menghasilkan lebih dari 20 artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Q1, Q2, dan Q3, dengan H-index Scopus 6.
Selama penyusunan disertasi, ia menghasilkan 10 artikel jurnal internasional bereputasi tinggi.
Topik penelitiannya beragam, mulai dari limbah pertanian, palm oil mill effluent (POME), sustainable aviation fuel, hingga material karbon berbasis biomassa.
Pada sidang promosi doktor, penelitian Andriy berfokus pada biokonversi anaerobik limbah pertanian menggunakan kultur mikroba campuran untuk menghasilkan asam organik bernilai tambah.
Riset tersebut mengarah pada upaya memanfaatkan limbah pertanian melalui pendekatan bioteknologi sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Sidang promosi dipimpin Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan USK, Dr. Fairuzzabadi, dengan Direktur SPs USK, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, sebagai sekretaris.
Andriy dibimbing Prof. Dr. Darwin, Prof. Dr. Yuliani Aisyah, dan Prof. Dr. Febriani. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Murna Muzaifa, Prof. Dr. Ir. Irfan, serta Prof. Dr. Ir. Tyas Utami dari Universitas Gadjah Mada.
Keterbatasan Bukan Titik Akhir
Kisah Andriy memperlihatkan sebuah perjalanan yang bermula dari keterbatasan, kemudian berkembang melalui kesempatan pendidikan, kerja keras, dan konsistensi.
Ia pernah berjalan kaki belasan kilometer untuk bersekolah. Ia pernah berjualan makanan ringan untuk membantu kebutuhan hidup. Namun, ia juga tidak pernah melepaskan pendidikan dari tujuan hidupnya.
Beasiswa menjadi salah satu pintu yang memperluas kesempatan tersebut. Dari penerima Bidikmisi, Andriy kemudian menempuh pendidikan magister, melanjutkan doktor, melakukan penelitian, dan menghasilkan publikasi internasional.
Kini, di usia 26 tahun, ia telah berdiri di ruang sidang doktor. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kondisi awal seseorang tidak selalu menentukan sejauh mana ia dapat melangkah.
Apa yang dahulu dimulai dengan langkah kaki panjang menuju sekolah, kini kisah inspiratif itu berlanjut menjadi langkah akademik menuju dunia penelitian dan pengabdian.
Gelar doktor yang diraihnya bukanlah garis akhir. Justru dari titik itulah perjalanan baru dimulai—membawa ilmu pengetahuan yang telah diperoleh untuk terus dikembangkan dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (*)
Penulis: Mazwan, dosen Universitas Al Washliyah Darussalam