KETIK, SURABAYA – Ciputra Film Festival (CFF) 2026 resmi dibuka di Surabaya dengan menampilkan sejumlah pembaruan signifikan yang menjadikannya salah satu festival film berbasis kampus paling ambisius di Indonesia.

Pada penyelenggaraan kelima ini, CFF menerima 280 kiriman film dari 35 negara dan membuka program baru bernama CFF Project Hunt sebuah kompetisi pitching ide film yang menyediakan beasiswa kuliah di Fakultas Komunikasi Universitas Ciputra (UC) senilai lebih dari Rp1 miliar bagi pemenangnya.

Festival yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Film dan Komunikasi UC ini bukan sekadar ajang apresiasi sinema, melainkan sepenuhnya merupakan proyek akademik nyata.

Dekan Fakultas Komunikasi dan Bisnis Media UC, Cosmas, menegaskan bahwa CFF adalah bukti konkret dari pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan kampus.

"Ini adalah bagian dari perkuliahan yang merupakan proyek langsung dari mahasiswa benar-benar real client dengan dunia film yang sebenarnya," ujar Cosmas dalam sesi jumpa pers pada 3 Juni 2026.

Baca Juga:
Polres Bondowoso Ungkap Empat Kasus Kejahatan, Kapolres: Tak Ada Ruang bagi Pelaku Kriminal

 

Jason Cliff Kurniawan sebagai Festival Direktur 5th CFF saat sesi doorstop di V Atrium Mall Ciputra World Surabaya pada 3 Juni 2026. (Foto: Ali Azhar D/Ketik.com)

 

CFF 2026 mengusung tema "Mosaik" — sebuah metafora seni yang merayakan keberagaman perspektif dan ide. Festival Direktur CFF, Jason Cliff Kurniawan atau akrab disapa CJ, menjelaskan bahwa tema ini secara sengaja dipilih untuk mencerminkan semangat inklusivitas sinema.

Baca Juga:
FIKOM Universitas Ciputra Gelar 5th CFF Bertema “MOSAIC”, Hadirkan Sineas Nasional dan Karya dari 35 Negara

"Mosaik itu terbentuk dari banyak kepingin yang berbeda warna dan bentuk. Hal itu kami terjemahkan kepada manusia semua orang memiliki ide yang berbeda, perspektif yang berbeda, dan di sana mosaik itu terbentuk," tutur CJ. Tagline festival tahun ini pun selaras: Stories in Every Shape and Form.

Terobosan terbesar CFF tahun ini adalah peluncuran CFF Project Hunt, program pitching yang secara khusus menyasar siswa SMA. Para peserta tidak diwajibkan memiliki film jadi cukup membawa konsep dan ide.

Mereka akan mendapatkan pendampingan tentang cara menyusun logline, menulis skrip, hingga menyusun anggaran produksi. "Kami tahu membuat film itu tidak mudah dan tidak murah. Di sini kami memberikan wadah untuk anak-anak SMA agar ide film mereka bisa naik ke level yang lebih profesional," jelas CJ.

Puncak program ini berlangsung pada 6 Juni 2026, di mana para peserta terpilih akan mempresentasikan konsep mereka di hadapan para profesional industri.

Selain program pitching, CFF 2026 menggelar 16 sesi pemutaran film enam di antaranya dilaksanakan di bioskop XXI Mall Ciputra World Surabaya, ditambah delapan sesi layar terbuka dan beberapa pemutaran khusus. Pemilihan bioskop komersial sebagai venue pemutaran disebut sebagai salah satu pembeda utama CFF dibanding festival serupa. 

CFF 2026 juga menghadirkan lima pakar industri dalam sesi diskusi harian yang terbuka dan gratis untuk umum. Jajaran narasumber tersebut antara lain Robert Tony yang membahas bisnis perfilman, sineas konten kreator Chandra Liow, aktris Adinia Wirasti, sutradara senior Riri Riza, serta Wregas Bhanuteja yang baru saja merilis film terbarunya. Seluruh sesi ini dapat diikuti tanpa biaya masuk.

Di luar pemutaran dan diskusi pakar, CFF turut menyelenggarakan workshop fotografi bersama Plaza Kamera sebagai kegiatan kreatif pendamping. Jauh sebelum festival utama dimulai, panitia telah menggelar CFF Roadshow ke sejumlah kota di luar Surabaya, termasuk sesi pemutaran dan diskusi film di berbagai kafe serta sekolah menengah atas.

Keunggulan pengelolaan festival diakui langsung oleh salah satu peserta sekaligus pemenang CFF keempat. Dwi Pratiwi, Line Producer dari PH People Film yang membawa film Mencatat Rindu Yang Hilang di Tengah Malam meraih dua penghargaan sekaligus Best Fiction dan Audience Choice mengungkapkan pengalaman positifnya.

 

Foto Dwi Pratiwi saat sesi doorstop sebagai pemenang Best Fiction and Audiens Choice 4th CFF. (Foto: Ali Azhar D/Ketik.com)

 

"Sebagai filmmaker, setelah membuat film, tujuan utamanya adalah bertemu penonton. CFF memberikan wadah penayangan di bioskop yang sangat proper, dan waktu itu full house," kata Pratiwi. Ia juga memuji sistem pendaftaran berbasis FilmFreeway yang dinilai transparan dan memudahkan proses kurasi.

Memanfaatkan momentum festival, pihak UC turut mengumumkan rencana pengembangan dua peminatan baru di Program Studi Komunikasi untuk tahun akademik 2027–2028, yaitu Global Marketing Communication dan International Relations and Communication.

Cosmas menyatakan kedua peminatan tersebut juga akan menjalankan proyek berskala besar serupa CFF.

"Harapannya melalui CFF, UC semakin berdampak kepada masyarakat, khususnya komunitas film dan seluruh ekosistem yang mendukungnya," pungkasnya.

CFF 2026 berlangsung dari 3 hingga 6 Juni 2026 di Ciputra World Surabaya. Festival Direktur CJ berharap CFF dapat terus berkembang menjadi jembatan bagi para sineas muda Indonesia.

"Tempat ini kami harapkan menjadi tempat transit dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu," ucapnya. (*)