KETIK, MALANG – Suasana berbeda tampak di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Rabu, 15 April 2026. Bukan sekadar forum presentasi biasa, kegiatan Diseminasi Program Kerja Organisasi Kemahasiswaan justru menjadi ajang “uji kelayakan” bagi seluruh rencana kerja ormawa sebelum benar-benar dijalankan.
Alih-alih seremoni, forum ini berubah menjadi ruang evaluasi terbuka yang menuntut setiap organisasi mahasiswa memaparkan arah geraknya secara konkret dan terukur. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), semuanya duduk setara dalam satu forum.
Kegiatan yang digagas Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni (DKA) ini menjadi langkah strategis untuk memastikan tidak ada lagi program kerja yang berjalan tanpa arah. Setiap perwakilan ormawa diminta mempresentasikan roadmap organisasi mereka—lengkap dengan target, indikator keberhasilan, hingga dampak yang akan dirasakan mahasiswa.
Fokus program yang diusung pun beragam. BEM menitikberatkan pada advokasi kebijakan kampus, HMPS mengembangkan program berbasis keilmuan yang terintegrasi dengan pengabdian masyarakat, sementara UKM lebih menonjolkan strategi pencetakan atlet dan seniman berprestasi.
Dalam arahannya, Kepala Pusat Pengembangan Potensi Mahasiswa Unikama, Romadhon, menegaskan pentingnya transformasi pola pikir dalam menyusun program kerja.
"Kami ingin tidak ada lagi program yang bersifat 'tidur' atau sekadar formalitas. Setiap rencana harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas," ujar Romadhon, S.Pd., M.Pd., Kepala Pusat Pengembangan Potensi Mahasiswa Unikama, saat memberikan arahan di sela-sela presentasi.
Ia menambahkan, diseminasi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan pintu awal untuk membangun akuntabilitas organisasi mahasiswa. Menurutnya, ormawa harus dipandang sebagai ruang belajar kepemimpinan yang nyata, bukan sekadar aktivitas pelengkap di bangku kuliah.
"Setiap anggaran yang direncanakan harus berbanding lurus dengan output yang dirasakan oleh mahasiswa secara umum," tegas Romadhon.
Sorotan utama muncul saat sesi evaluasi dari Direktur DKA, Dr. Teguh Sulistyo. Dengan pendekatan kritis namun tetap memotivasi, ia menekankan bahwa semangat saja tidak cukup tanpa eksekusi yang nyata.
"Saya melihat antusiasme yang baik, tapi kita butuh loncatan kuantitas dan kualitas. Saya berharap ormawa ke depan lebih aktif lagi. Jangan sampai program kerja hanya berhenti di proposal," ujar Dr. Teguh di hadapan puluhan peserta.
Ia juga memberikan penekanan khusus kepada BEM sebagai motor penggerak organisasi mahasiswa. Menurutnya, peran BEM tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus mampu menjadi penghubung dan penggerak seluruh elemen ormawa.
"Jika BEM-nya dinamis, maka ekosistem ormawa lainnya akan ikut bergerak. BEM adalah katalisatornya," imbuh Dr. Teguh.
Menariknya, forum ini tidak berjalan satu arah. Setiap sesi presentasi langsung diikuti diskusi terbuka. Mahasiswa dari berbagai organisasi aktif memberikan kritik, saran, hingga solusi atas berbagai tantangan yang kerap muncul di lapangan.
Peran DKA sebagai fasilitator juga terlihat aktif, memastikan setiap masukan tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar diakomodasi dalam penyempurnaan program kerja.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini akhirnya ditutup dengan komitmen bersama. Seluruh ormawa sepakat untuk tidak hanya menyusun program, tetapi juga mengawal realisasinya agar tepat waktu dan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa.
Dengan pola seperti ini, Diseminasi Program Kerja di Unikama bukan lagi sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi mekanisme kontrol sekaligus akselerator kualitas organisasi mahasiswa di lingkungan kampus. (*)
