KETIK, BANDUNG – Direktur Utama Bank bjb Ayi Subarna menyatakan kesiapan mendukung pembiayaan pengembangan perkebunan kopi di kawasan Perhutani Kamojang, Kabupaten Bandung, hingga mencapai target 1.000 hektare. Dengan asumsi kebutuhan modal Rp50 juta per hektare, pengembangan tersebut berpotensi membutuhkan pembiayaan hingga Rp50 miliar.
Komitmen itu disampaikan Ayi dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Kopi Speciality Java Preanger dan Penyediaan Akses Perlindungan Hari Tua melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bagi Kelompok Tani Kopi yang diselenggarakan Bank bjb bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Center of Excellence (CoE) Kopi, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Selasa (27/10/2026).
“Ke depan, tambah jadi 1.000 hektare, Bank bjb siap men-support untuk pendanaannya,” ujar Ayi.
Pengembangan perkebunan kopi di kawasan Perhutani Kamojang saat ini mencakup sekitar 136 hektare. Perluasan hingga 1.000 hektare diproyeksikan membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun. Dengan kebutuhan pembiayaan sekitar Rp50 juta per hektare, target tersebut membuka potensi pembiayaan Rp50 miliar untuk mendukung pengembangan kebun dan produktivitas petani. Nilai tersebut merupakan estimasi berdasarkan target luas lahan, bukan plafon kredit yang telah disetujui.
Ayi menegaskan, keberhasilan pembiayaan sektor kopi tidak cukup diukur dari jumlah kredit yang disalurkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan petani dan keberlanjutan usaha. Menurutnya, keterbatasan modal, kebutuhan sarana produksi, dan kepastian pemasaran masih menjadi tantangan yang harus dijawab melalui kemitraan terintegrasi.
Baca Juga:
OJK Jabar Dorong Pembiayaan Kopi Kamojang, Potensi Pengembangan 1.000 Hektare“Kemitraan Wanoja Coffee menunjukkan keberhasilannya bukan hanya diukur dari jumlah kredit yang disalurkan, tapi juga dari manfaat dan peningkatan produktivitas, memperkuat pendapatan petani kopi dan menjaga keberlangsungan usaha,” katanya.
Ia menambahkan, pembiayaan harus melibatkan seluruh unsur dalam rantai usaha kopi, mulai dari petani, offtaker, pemerintah daerah, hingga perbankan. Melalui pola kemitraan Wanoja Coffee, petani memperoleh akses permodalan, sedangkan offtaker mendapat dukungan terhadap kesinambungan pasokan. Di sisi lain, perbankan dapat menyalurkan pembiayaan secara lebih terarah dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Ayi berharap kemitraan tersebut menjadi fondasi penguatan program kerja Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) pada 2027. Kehadiran Bank bjb Cabang Majalaya juga diharapkan semakin mendekatkan layanan perbankan kepada petani kopi di kawasan Kamojang.
Pada kesempatan yang sama, Bank bjb menyerahkan pembiayaan senilai Rp2,3 miliar. Kegiatan tersebut juga ditandai dengan pelepasan ekspor 19,2 ton kopi spesialti Java Preanger. Pengiriman lanjutan sebanyak 19,2 ton direncanakan pada pekan berikutnya sehingga total kedua pengiriman mencapai 38,4 ton apabila terlaksana sesuai rencana. Kopi yang diekspor disebut telah melalui pengujian laboratorium lokal dan kegiatan tersebut merupakan ekspor keempat dalam rangkaian usaha kopi yang dikembangkan.
Baca Juga:
Berapa Batas Aman Minum Kopi Sehari? Pakar Kesehatan Ungkap Takaran KafeinKepala OJK Jawa Barat Darwisman turut mendorong perluasan akses pembiayaan bagi petani kopi, khususnya untuk pengembangan kopi arabika yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia menilai pelepasan ekspor tersebut menjadi momentum awal untuk memperkuat pemberdayaan petani di kawasan Perhutani Kamojang melalui dukungan pembiayaan dan peningkatan kesejahteraan.
“Pelepasan ini momentum awal pemberdayaan petani kopi di lahan Perhutani di Kamojang,” ujar Darwisman.
Selain mendorong pembiayaan produktif, Bank bjb dan OJK memperkenalkan akses Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bagi petani kopi. Program ini membuka kesempatan bagi petani untuk mempersiapkan dana hari tua sejak masih aktif bekerja.
Ayi mengajak petani kopi untuk memanfaatkan layanan perbankan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan keluarga, termasuk memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, membiasakan menyisihkan pendapatan sejak awal, serta menghindari aktivitas keuangan ilegal.
Melalui penguatan akses modal, kepastian pasar, dan perlindungan hari tua, Bank bjb berharap pengembangan kopi Java Preanger dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi petani sekaligus memperkuat potensi perkebunan Kabupaten Bandung.(*)