KETIK, SURABAYA – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) yang merupakan anggota Holding BUMN Danareksa, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kenyamanan masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H melalui program Mudik Gratis 2026.
Sebanyak 576 pemudik diberangkatkan dari kompleks Wisma SIER pada Rabu, 18 Maret 2026, dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Para peserta mayoritas merupakan karyawan tenant di kawasan industri SIER, serta masyarakat sekitar.
Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang bertujuan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Para pemudik diberangkatkan menggunakan 12 armada bus menuju berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Plt Direktur Utama PT SIER yang juga Direktur Keuangan, Administrasi dan Manajemen Risiko, Rizka Syafittri Siregar, mengatakan jumlah armada tahun ini mengalami peningkatan signifikan seiring tingginya minat masyarakat.
“Awalnya pada tahun 2026 ini kita sediakan 10 armada bus. Tapi karena animo masyarakat yang mendaftar mudik gratis ini sangat tinggi, akhirnya bus kami tambah dua, jadi total 12 bus,” ujarnya di sela-sela pemberangkatan.
Rizka menjelaskan tren peningkatan armada terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, SIER menyediakan 5 bus, kemudian meningkat menjadi 7 bus pada 2024, 8 bus pada 2025 dan kini mencapai 12 bus pada 2026.
Tak hanya menambah armada, SIER juga memperluas jangkauan rute perjalanan. Tahun ini terdapat dua rute baru, yakni Surabaya–Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi serta Surabaya–Ponorogo–Pacitan.
Rute lainnya meliputi Surabaya–Solo–Klaten–Yogyakarta, Surabaya–Probolinggo–Lumajang–Jember, Surabaya–Madiun–Ponorogo, Surabaya–Caruban–Madiun, Surabaya–Ngawi–Magetan, Surabaya–Madiun–Magetan, serta Surabaya–Tulungagung–Trenggalek.
Manajemen PT SIER memberangkatkan armada bus mudik gratis ke sejumlah daerah pada Rabu, 18 Maret 2026. (Foto: Humas PT SIER)
Sementara itu, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT SIER, Jefri Ikhwan Ma’arif, menambahkan bahwa SIER tidak hanya menyediakan transportasi gratis, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung bagi pemudik.
Setiap orang mendapatkan kaos, topi serta goodie bag berisi kue Lebaran yang merupakan produk UMKM binaan SIER. Inisiatif ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Menurut Jefri, program mudik gratis ini memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya dalam mengurangi beban biaya perjalanan yang biasanya meningkat saat musim mudik. Selain itu, program ini juga berkontribusi dalam menekan risiko kecelakaan lalu lintas akibat penggunaan kendaraan pribadi.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan para pekerja dan masyarakat dapat pulang ke kampung halaman dengan aman, nyaman, dan selamat, sekaligus bisa berkumpul bersama keluarga di momen Lebaran,” ujar Jefri.
Ia juga menyampaikan harapan agar program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat di masa mendatang.
Sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa, SIER turut mendukung program mudik gratis yang diselenggarakan oleh berbagai BUMN lainnya. Program ini merupakan tindak lanjut arahan Badan Pengaturan (BP) BUMN yang mengusung tema “Mudik Aman Berbagai Harapan 2026,” sebagai wujud kehadiran negara dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Selain itu, Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Gibran Rakabuming Raka secara resmi melepas peserta Mudik Bersama Holding BUMN Danareksa 2026 pada Selasa, 17 Maret, 2026 di Jakarta. Kegiatan ini berasal dari upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memfasilitasi masyarakat agar dapat melakukan perjalanan mudik secara aman, nyaman, dan terkondisi mejelang Hari Raya.
Program Mudik Bersama Holding BUMN Danareksa tahun ini diikuti oleh 1.900 peserta yang berasal dari 475 kepala keluarga di wilayah Jabodetabek. Selain pemberangkatan dari Jakarta, program ini juga dilaksanakan di sejumlah kota lain, seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Makassar.
Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, dengan sekitar 50 persen merupakan pekerja dan pedagang, sementara 50 persen lainnya berasal dari masyarakat umum, termasuk pelajar dan ibu rumah tangga. (*)
