KETIK, PACITAN – Selepas pembukaan kembali aktivitas penambangan di sepanjang aliran Sungai Grindulu Pacitan, sopir material dan pelaku usaha tambang pasir setempat ramai-ramai mengumumkan terkait kenaikan harga pasir.

Mereka mengatakan bahwa aktivitas pertambangan pasir sudah kembali normal, namun harga material mengalami lonjakan cukup tinggi.

“Sementara pertambangan material pasir sudah kembali normal, tapi dengan harga yang melonjak tinggi, mohon maaf nggih bagi pelanggan pasir, harga pasir naik 50 persen,” demikian isi unggahan pelaku usaha material, Anjar dalam status WhatsAppnya, Kamis, 28 Mei 2026.

Pihaknya juga meminta agar pelanggan tidak kaget soal kenaikan itu.

“Ojo podo njumbul para pelanggan, harga pasir naik dari pusatnya,” tulis akun tersebut.

Baca Juga:
Tambang Pasir Grindulu Pacitan Dibuka Lagi usai Polisi-Pekerja Ada Kesepakatan

Kenaikan harga tersebut juga dibenarkan oleh sopir truk material, Dedi Hendratmoko.

Ia menyebut harga pasir saat ini mencapai Rp400 ribu per rit untuk truk engkel.

“Minimal harga pasir sekarang Rp400. Itu 1 rit engkel,” ujar Dedi saat ditanya harga pasir terkini.

Menurutnya, kenaikan harga dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk naiknya harga sparepart kendaraan dan kondisi distribusi material pasir pasca penghentian sementara aktivitas tambang.

Baca Juga:
Pacitan Pastikan Pelayanan Publik Tetap Optimal saat Momentum Iduladha 1447 H

"Harga sparepart naik dan harga pasir naik," ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, aktivitas tambang pasir sempat ditutup sementara sejak 20 Mei 2026 menyusul persoalan lingkungan dan keluhan masyarakat. 

Penutupan itu berdampak terhadap distribusi material serta aktivitas ekonomi para penambang maupun sopir angkutan pasir.

Dalam musyawarah yang digelar di Bakesbangpol Pacitan pada Senin, 25 Mei 2026, aparat dan pemerintah daerah akhirnya memperbolehkan aktivitas penambangan kembali berjalan dengan sejumlah syarat, di antaranya menjaga lingkungan serta mencegah kerusakan jalan akibat aktivitas truk pengangkut pasir.

Meski aktivitas tambang kembali berjalan, penghentian sementara distribusi material diduga memicu kenaikan harga pasir di tingkat lapangan.(*)