KETIK, BLITAR – Empat puluh hari kepergian Guruh Soekarnoputra menjadi momentum bagi keluarga besar PDI Perjuangan Kabupaten Blitar untuk kembali mengenang perjalanan dan pengabdian almarhum. Bukan sekadar mengenang sosok yang telah berpulang, para kader juga menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan yang pernah ditanamkannya, Kamis 5 November 2026.
Puluhan kader PDI Perjuangan bersama masyarakat menggelar tahlil dan doa bersama di Wisma Aspirasi, milik Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Supriadi, yang akrab disapa Kuwat. Suasana khidmat menyelimuti kegiatan yang digelar untuk memperingati 40 hari wafatnya Guruh tersebut.
Sejumlah tokoh dan pengurus partai turut hadir, di antaranya Didik dari jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Guntur Wahono, Sekretaris DPC Supriadi, serta sejumlah kader dan simpatisan.
Lantunan tahlil dan doa menjadi ungkapan penghormatan bagi almarhum. Di balik kegiatan keagamaan tersebut, tersimpan pula kerinduan dan kenangan para kader terhadap sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan perjuangan politik mereka.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur Wahono, menyampaikan bahwa wafatnya Guruh meninggalkan kehilangan tersendiri bagi keluarga besar partai. Menurutnya, sosok almarhum memiliki arti penting bagi para kader, terutama melalui kiprah dan nilai pengabdian yang ditinggalkan.
Baca Juga:
Jelang Pilkades Blitar 2026, Guntur Wahono Ingatkan Cakades: Jangan Obral Janji dan Picu Konflik“Genap 40 hari wafatnya tokoh panutan kami. Semoga arwah beliau diterima di sisi kemuliaan Allah SWT. Seluruh kebajikannya mendapatkan balasan dan kelapangan, sedangkan segala kekhilafannya mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT,” ujar Guntur.
Ia berharap, kegiatan doa bersama tidak berhenti sebagai agenda seremonial peringatan hari wafat. Lebih dari itu, kebersamaan yang terbangun diharapkan mampu memperkuat ikatan persaudaraan sekaligus menjaga semangat perjuangan di antara para kader.
Guntur menilai, setiap kader memiliki tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai perjuangan organisasi. Terlebih, keteladanan dan pengabdian seseorang tidak seharusnya berhenti dikenang, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Supriadi atau Kuwat, mengaku masih menyimpan banyak kenangan bersama Guruh. Kedekatan dan perjalanan yang pernah dilalui bersama membuat kepergian almarhum menjadi kehilangan yang dirasakan secara personal maupun organisatoris.
Baca Juga:
Guntur Wahono Soroti Dana Desa Dipangkas 70 Persen, Kades Blitar Kelimpungan Cari Anggaran“Kami sangat kehilangan Mas Guruh. Beliau memiliki banyak kenangan bersama para kader PDI Perjuangan, khususnya di Blitar Raya. Perjuangan dan pengabdian beliau menjadi inspirasi bagi kami untuk terus melanjutkan apa yang telah dirintis,” ungkap Supriadi.
Menurutnya, kepergian seorang tokoh tidak boleh membuat semangat kader ikut surut. Justru, momen tersebut harus menjadi pengingat bahwa perjuangan organisasi membutuhkan kesinambungan dan tidak boleh bergantung pada satu figur.
“Harapan kami, apa yang pernah diperjuangkan Mas Guruh tidak berhenti menjadi cerita dan kenangan. Semangat, kebersamaan, serta nilai pengabdiannya harus terus diteruskan oleh generasi kader berikutnya. Kami ingin perjuangan itu tetap hidup melalui kerja nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Bagi keluarga besar PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, peringatan 40 hari wafatnya Guruh menjadi ruang untuk merawat ingatan sekaligus memperkuat komitmen. Sebab, perjalanan organisasi tidak hanya dibangun oleh struktur dan kepemimpinan, tetapi juga oleh pengabdian, persaudaraan, serta kontribusi orang-orang yang pernah menjadi bagian di dalamnya.
Doa bersama tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa kehilangan memang tidak dapat dihindari, tetapi nilai kebaikan seseorang dapat terus dihidupkan. Para kader berharap Guruh Soekarnoputra mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara semangat perjuangan yang ditinggalkannya tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Bagi mereka, mengenang bukan berarti berhenti pada masa lalu. Ada tanggung jawab untuk membawa nilai-nilai baik yang pernah diwariskan menjadi kerja nyata pada masa mendatang.