KETIK, BATU – Sebanyak 20 lulusan SMKN 1 Batu diproyeksikan bekerja di luar negeri melalui program Penguatan Kebekerjaan Luar Negeri.
Para alumni tersebut saat ini tengah menjalani pelatihan bahasa hingga tes kesehatan sebelum diberangkatkan ke Turki dan Jepang.
Program tersebut dijalankan dengan dukungan Direktorat SMK sebagai bagian dari penguatan pendidikan vokasi agar lulusan SMK mampu bersaing di pasar kerja global.
Kepala SMKN 1 Batu, Arik Harianto, mengatakan pihak sekolah kini serius mempersiapkan lulusan agar dapat terserap di dunia kerja luar negeri.
“Tahun ini kami mulai fokus menjalankan program penguatan kebekerjaan luar negeri. Saat ini ada sekitar 20 lulusan yang sedang dipersiapkan,” ujarnya, Senin, 18 Mei 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 lulusan telah mendaftar untuk bekerja di Turki pada sektor hospitality dan tata boga.
Sementara tiga lulusan lainnya diproyeksikan berangkat ke Jepang pada akhir tahun 2026 dengan bidang pekerjaan serupa.
Menurut Arik, seluruh peserta saat ini menjalani berbagai tahapan persiapan, mulai dari pelatihan bahasa asing hingga pemeriksaan kesehatan dan psikotes.
“Anak-anak sekarang sedang menjalani penguatan bahasa Inggris dan bahasa Turki. Pengajarnya berasal dari lembaga kursus bahasa, tetapi proses pembelajarannya dilakukan di sekolah,” katanya.
Selain pelatihan bahasa, sekolah juga menggandeng Koramil setempat untuk membantu tes fisik para calon pekerja luar negeri.
Langkah itu dilakukan guna memastikan kondisi kesehatan dan kesiapan mental para peserta sebelum diberangkatkan.
“Minggu depan mereka juga akan mengikuti psikotes dan medical check up bersama rumah sakit. Semua tahapan ini untuk memastikan kesiapan mereka mengikuti program,” jelasnya.
Ia menilai kemampuan bahasa asing menjadi salah satu faktor penting yang menentukan peluang karier para lulusan setelah bekerja di luar negeri.
Menurutnya, pengalaman kerja di Turki dapat membuka kesempatan lebih luas untuk berkarier di industri perhotelan negara lain.
“Kontrak kerja di Turki rata-rata enam bulan. Kalau kemampuan bahasa Inggris mereka bagus, peluang untuk lanjut bekerja di hotel-hotel Eropa atau Australia dengan penghasilan lebih tinggi juga terbuka,” ungkap Arik.
Meski demikian, pihak sekolah mengakui program kerja luar negeri masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi kesiapan siswa dan orang tua. Tidak sedikit wali murid yang masih merasa berat melepas anak bekerja di luar negeri.
“Program ini sebenarnya sudah kami sosialisasikan kepada siswa dan orang tua. Tetapi memang masih ada yang belum siap jika anaknya bekerja jauh di luar negeri,” katanya.
Arik menegaskan, SMK tidak boleh hanya berfokus pada kelulusan siswa semata, melainkan juga harus memastikan para lulusan memiliki peluang kerja yang jelas setelah menyelesaikan pendidikan.
“Sekolah tidak cukup hanya meluluskan siswa, tetapi juga harus memastikan mereka bisa bekerja, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tegasnya.
Pada tahun 2026, SMKN 1 Batu memiliki sekitar 350 lulusan dari empat jurusan, yakni perhotelan, kuliner, tata busana, dan kecantikan.
Namun, penyerapan tenaga kerja masih didominasi sektor pariwisata, khususnya perhotelan dan kuliner.
“Sekitar 80 persen lulusan sudah terserap kerja, meskipun sebagian masih bekerja sebagai casual worker,” ujarnya.
Pihak sekolah, harapnya, melalui program penyaluran kerja luar negeri dapat menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi mampu mencetak lulusan yang siap kerja dan kompetitif di tingkat internasional.
“Mudah-mudahan program ini berjalan sukses sehingga cita-cita SMK untuk melahirkan lulusan siap kerja dan benar-benar terserap industri bisa terwujud,” pungkasnya.(*)
