KETIK, MALANG – Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang terus berupaya menjaga dan melestarikan warisan sejarah. Salah satunya, dengan melakukan proses digitalisasi berbagai naskah kuno.
Pustakawan Ahli Muda Dispussipda Kota Malang, Nesyi Prima Dewi, mengatakan, proses digitalisasi dilakukan tiap tahun secara bertahap. Naskah-naskah kuno tersebut berasal dari koleksi perpustakaan yang didapat dari hibah serta hasil akuisisi atau pembelian maupun koleksi pribadi masyarakat.
"Hasil pendataan sampai dengan Desember 2025, ada sebanyak 31 naskah kuno. Dari jumlah tersebut, 12 naskah kuno milik masyarakat dan 6 naskah kuno koleksi kami telah dilakukan digitalisasi atau alih media," ujarnya kepada Ketik.com, Selasa, 19 Mei 2026.
Dirinya menjelaskan, proses digitalisasi dilakukan sebagai langkah modernisasi. Dengan dialihkan ke bentuk digital, mempermudah masyarakat untuk mengakses dan mempelajari isi naskah tanpa perlu kontak fisik langsung dengan naskah aslinya.
"Rata-rata naskah kuno ini berasal dari abad 19 dengan media beragam baik dari daun lontar, daluang, maupun kertas Eropa sehingga kondisinya sudah rapuh. Oleh karenanya, proses digitalisasi sangat perlu dilakukan," tambahnya.
Baca Juga:
Rak Perpustakaan Kota Malang Overkapasitas, Buku Fiksi Jadi Buruan PembacaKarena kondisinya tersebut, maka perawatan dan proses digitalisasi dilakukan secara hati-hati. Untuk proses pembersihan, dilakukan berkala tiap satu hingga dua bulan sekali untuk memastikan naskah kuno tetap bersih dari debu yang menempel.
"Jadi sebelum dilakukan alih media, naskah kuno itu terlebih dahulu diberi atau diolesi minyak sereh atau kemiri. Hasil dari proses digitalisasi, akan dimasukkan ke link E-Katalog aplikasi Malang Cilin dan ini sedang kami siapkan agar masyarakat bisa mengakses dengan mudah," terangnya.
Nesyi mengungkapkan, beberapa naskah kuno yang sudah dilakukan proses digitalisasi antara lain adalah Serat Yusuf, Babad Mambangul Ulum, Nahwu, Usadha dan Ala Ayuning Tanggal. Berbagai manuskrip itu ditulis dengan aksara Jawa, Arab, maupun aksara Bali.
Baca Juga:
Hari Buku Nasional 2026, Gencarkan Kembali Budaya Membaca"Isi dari tiap naskah kuno ini berbeda, ada yang primbon dan yang Usadha ini tentang pengobatan. Tetapi paling banyak adalah Serat Yusuf yang ditulis di media daun lontar maupun daluang," jelasnya.
Sementara itu, Pustakawan Mahir Dispussipda Kota Malang, Fedy Loysius mengungkapkan, proses digitalisasi memakai alat scan bernama Czur. Tiap halaman dari naskah kuno dibuka satu persatu untuk kemudian discan.
"Jadi, kita scan satu persatu mulai halaman pertama, tetapi kalau yang ditulis di daun lontar discan beserta kayu penutupnya juga. Setelah itu, hasilnya disimpan di dalam komputer," bebernya.
Ia mengaku, tantangan paling sulit adalah saat melakukan proses digitalisasi naskah kuno yang terbuat dari daun lontar. Karena ukurannya yang panjang dan tiap halamannya diikat menjadi satu bagian.
"Disamping itu, kami juga belum memiliki perangkat color checker yang bisa mengatur pencahayaan dan warna. Sehingga, kami masih agak kesulitan untuk mendapatkan hasil warna sesuai dengan naskah aslinya," tandasnya. (*)