KETIK, SLEMAN
– Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H, kesibukan luar biasa tidak hanya terlihat di pasar-pasar hewan, namun juga merambah hingga ke bengkel-bengkel pandai besi serta meja kerja kolektor bilah. Memilih pisau untuk menyembelih hewan kurban ternyata bukan sekadar soal gaya atau hobi semata. Ada perpaduan antara ilmu sains metalurgi, ketepatan teknik, dan rasa kemanusiaan yang mendalam di balik sebilah logam yang tajam.
Bagi Haryadi Widodo, seorang kolektor pisau yang juga menjabat sebagai Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Pemkab Sleman, urusan pisau kurban adalah soal akurasi yang tidak bisa ditawar. Sebagai pria yang sehari-hari berkutat dengan standarisasi proyek fisik dan infrastruktur, ia melihat logam dengan kacamata teknik yang sangat presisi.
Titik Temu Antara Mutu Beton dan Ketangguhan Bilah
Haryadi memiliki cara unik dalam memandang sebuah pisau, yakni dengan menggunakan analogi dunia konstruksi yang menjadi santapan hariannya. Bagi Haryadi, memilih pisau itu sangat mirip dengan menentukan mutu struktur beton dalam sebuah bangunan besar.
"Jika beton terlalu keras tanpa elastisitas, dia akan getas dan mudah retak. Begitu juga pisau. Kalau terlalu keras dia akan gampang patah, tapi kalau terlalu lunak dia akan luyut atau melengkung saat terkena beban," jelasnya, Rabu 13 Mei 2026.
Mencari titik keseimbangan atau sweet spot antara hardness (kekerasan) dan toughness (keuletan) inilah yang menjadi seni tersendiri bagi Haryadi dalam mengurasi koleksinya.
Terkait standar personal dalam memutuskan penambahan koleksi, Haryadi memiliki prinsip yang sangat pragmatis namun mendalam.
Baginya, sebuah pisau pertama-tama harus ia sukai secara estetika, namun yang paling utama adalah fungsionalitasnya yang nyata di lapangan.
Baca Juga:
Strategi Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman Wujudkan Kedaulatan Air Desa: Menuju PAMdes yang Mandiri
"Standar personal saya, yang pertama saya suka, kedua pisau harus fungsional. Bukan pisau main-main, bukan sekadar mainan," tegasnya dengan raut serius.
Ia menekankan bahwa jika itu pisau sembelih, maka spesifikasinya harus benar-benar mumpuni untuk mengeksekusi hewan dengan sempurna tanpa hambatan teknis. Prinsip fungsional ini bahkan ia bawa hingga ke urusan domestik agar sang istri bisa ikut merasakan manfaat dari hobi mahalnya ini. Haryadi sering memberikan pisau berkualitas tinggi untuk keperluan memasak di rumah.
"Pisau dapur juga saya pilihkan yang bagus agar istri ikut senang dengan hobi kita, meski biasanya tantangannya pisau dapur koleksi saya akan terasa terlalu tajam untuk pemakaian sehari-hari bagi orang awam," imbuh kolektor pisau ini sambil tersenyum.
Baginya, ketajaman ekstrem pada pisau dapur sering kali mengejutkan bagi mereka yang terbiasa dengan pisau pasar konvensional.
Keunggulan Baja Lokal dan Seni Memilih Gagang
Dalam jagat perpisauan, perdebatan abadi mengenai material mana yang paling unggul sering kali mengerucut pada dua pilihan besar: baja modern hasil teknologi serbuk (Modern Powder Metallurgy) atau baja karbon tinggi konvensional (High Carbon Steel). Haryadi menjelaskan bahwa pisau berbahan baja modern seperti CPM MagnaCut atau Bohler M390 saat ini menjadi primadona bagi para kolektor kelas atas. Baja jenis ini memiliki edge retention atau keawetan tajam yang sangat lama meski telah digunakan berkali-kali.
Baca Juga:
MPU Aceh Ajar Imam dan Pengusaha Rumah Jagal di Abdya Cara Sembelih Hewan Sesuai Syar'i
"Jika tujuannya adalah meminimalkan kebutuhan asah sekaligus tetap bisa diasah di lapangan, baja PM modern saat ini tidak tertandingi," ungkap Haryadi yang paham seluk beluk logam ini.
Namun, ia mengingatkan bahwa baja canggih ini menuntut perlakuan khusus, seperti penggunaan alat asah batu intan (diamond) jika ingin mengembalikan ketajamannya di lapangan secara instan.
Meski teknologi baja dunia terus berkembang pesat, Haryadi menegaskan bahwa baja per mobil seperti seri AISI 5160 masih sangat relevan dan tangguh untuk urusan penyembelihan kurban di tanah air. Dibandingkan baja impor seperti D2 atau Bohler K110 yang cenderung chipping (gompel) jika menghantam benda keras, baja per memiliki keuletan yang sulit dikalahkan.
"Baja per dikenal memiliki kombinasi kekuatan dan keuletan yang luar biasa. Dalam penyembelihan, terutama jika pisau mengenai tulang, baja per lebih tahan banting dibandingkan baja modern yang lebih getas," tuturnya.
Kuncinya terletak pada proses heat treatment (penyepuhan) yang benar. Jika suhunya tepat saat ditempa dan didinginkan, baja per bekas sekalipun bisa memiliki performa yang mampu menandingi pisau impor bermerek mahal.
Selain urusan logam, Haryadi memiliki preferensi pribadi yang sangat spesifik mengenai kenyamanan genggaman atau ergonomi. Menurutnya, kegagalan eksekusi sering terjadi karena pegangan yang licin saat tangan mulai berlemak.
"Kalo saya pribadi memilih gagang tanduk rusa yang lebih ngegrip kalo dipegang tidak licin," katanya memberikan alasan keamanan.
Urusan teknik memotong pun tak luput dari perhatiannya. Banyak orang keliru mengira bahwa memotong sendi hewan memerlukan tenaga besar untuk menghantam tulang. Padahal, menurutnya teknik yang benar adalah kelembutan dan akurasi posisi.
"Sendi hewan sebenarnya dipotong urat di sela tulangnya. Pakai pisau yang lancip dan sedikit flex atau lentur agar bisa bermanuver dengan presisi di ruang yang sempit," tambahnya.
Edukasi Kurban: Tajam untuk Kemanusiaan dan Kualitas Daging
Bagi Haryadi, edukasi pemakaian pisau menjelang Iduladha sangat diperlukan demi menjaga aspek kesejahteraan hewan (animal welfare). Ia mengingatkan agar panitia kurban selalu menggunakan pisau yang tajam sesuai fungsinya, terutama untuk pisau sembelih yang bersentuhan langsung dengan nyawa hewan.
"Ini penting agar hewan kurban yang disembelih bisa cepat tuntas darahnya sehingga tidak tersiksa. Hewan yang mati dengan cepat mutu dagingnya bagus dan tidak mudah busuk karena darahnya keluar tuntas," jelasnya serius.
Darah yang tersisa di dalam jaringan daging akibat proses kematian yang lambat memang menjadi pemicu utama pertumbuhan bakteri pembusuk yang mempercepat kerusakan daging.
Satu hal yang kerap kali terlewatkan adalah faktor korosi akibat paparan darah yang bersifat asam. Haryadi sangat menyarankan penggunaan baja tahan karat (stainless steel) premium seperti seri Bohler N690, VG10, atau Sandvik 14C28N bagi mereka yang mengutamakan kepraktisan.
"Pemilihan baja stainless hampir menjadi keharusan jika pisau tersebut akan digunakan secara maraton. Setelah digunakan, pisau hanya perlu dibilas dan dilap kering tanpa takut muncul bercak karat mendadak," jelas Haryadi.
Hal ini penting untuk memastikan daging kurban tetap higienis dan tidak terkontaminasi residu logam yang muncul mendadak di sela-sela kesibukan panitia.
Sebagai panduan praktis, Haryadi memberikan standar "uji layak" sebelum eksekusi dimulai yang bisa dipraktikkan oleh siapapun. Menurutnya pisau sembelih perlu diuji ketajamannya dengan memotong atau membelah selembar kertas HVS pada posisi tegak lurus muka kertas.
"Posisikan kertas tegak lurus, lalu sayat dari atas sampai bawah. Jika terputus lancar tanpa hambatan, berarti pisau sudah dalam kondisi prima," terangnya.
Selain itu, ia menyarankan penggunaan honing rod atau stik pengasah di sela-sela penyembelihan untuk menjaga ketajaman seketika. Bagi Haryadi, pisau bukan sekadar alat potong, melainkan instrumen untuk menjalankan syariat dengan cara yang paling terhormat, efisien, dan penuh kasih sayang terhadap makhluk hidup. (*)