KETIK, SLEMAN – Kabupaten Sleman resmi mengukuhkan diri sebagai pionir dalam transformasi layanan kesehatan nasional. Di bawah kepemimpinan Bupati Harda Kiswaya, wilayah ini dinobatkan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia.
Predikat prestisius tersebut diberikan langsung oleh Ketua Angels Initiative dan World Stroke Organization (WSO) Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, di Pendopo Parasamya, Senin, 11 Mei 2026.
Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah baru karena Sleman dinilai mampu membangun ekosistem layanan kesehatan yang sangat solid. Penghargaan tersebut diberikan atas kesuksesan pemerintah daerah dalam mengintegrasikan peran rumah sakit, tenaga kesehatan, hingga operator ambulans dalam satu sistem yang responsif.
Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan bahwa capaian ini adalah hasil dari kerja keras kolektif yang tak kenal lelah. Ia menekankan bahwa dalam penanganan stroke, kecepatan adalah kunci utama antara hidup dan mati seseorang.
"Syukur alhamdulillah dengan sinergi ini, Sleman ditetapkan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia. Sebuah pencapaian besar yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menjadi tanggung jawab bagi kita untuk terus menjaga, meningkatkan, dan mempertahankan kualitas layanan kesehatan," jelas Bupati Harda.
"Kita ingin memastikan bahwa setiap warga yang membutuhkan pertolongan darurat mendapatkan penanganan secepat mungkin tanpa birokrasi yang berbelit," tegasnya.
Perwakilan Angels Initiative, dr Fiarry Fikaris, turut memberikan pandangannya mengenai standar tinggi yang telah dicapai Sleman. Menurutnya, komitmen Sleman dalam menghadirkan layanan yang terintegrasi telah berhasil menekan angka kematian dan risiko disabilitas permanen bagi penderita stroke.
"Sinergi seluruh pihak yang terlibat serta kerja keras Tim Sleman Siaga Stroke telah mengantarkan Kabupaten Sleman pada pengakuan internasional. Ini adalah bukti bahwa komitmen pemerintah daerah yang kuat dapat menghadirkan layanan stroke yang cepat, tepat, dan terintegrasi guna menyelamatkan lebih banyak nyawa," ujar dr Fiarry.
Kekuatan medis Sleman dalam menangani kasus stroke didukung oleh enam rumah sakit yang telah meraih predikat siaga stroke berstandar internasional hingga tahun 2026.
Jaringan rumah sakit tersebut meliputi RSUD Sleman, RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RS JIH, RSIY PDHI, serta RS Hermina. Kehadiran fasilitas ini memastikan masyarakat Sleman berada dalam jangkauan layanan medis darurat yang mumpuni.
Apresiasi senada datang dari Gubernur DIY yang disampaikan melalui Kepala Dinas Kesehatan DIY, Anung Trihadi. Pemerintah Daerah DIY memberikan selamat atas prestasi Sleman yang kini menjadi acuan nasional.
Anung berharap capaian luar biasa ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun jaringan siaga stroke yang kuat, terpadu, dan sepenuhnya berorientasi pada keselamatan pasien. (*)
