Ra Hamid dan Kepemimpinan Transformatif di Bondowoso

Editor: Mustopa

26 Nov 2024 22:39

Thumbnail Ra Hamid dan Kepemimpinan Transformatif di Bondowoso
Oleh: Melfin Zaenuri*

Mengapa suatu daerah lebih maju ketimbang daerah lainnya? Memang ada banyak faktor kemajuan suatu daerah seperti ketersediaan sumber daya alam, tata kelola pemerintahan, letak geografis yang strategis, kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan.

Namun satu faktor yang pasti: kepemimpinan (leadership). Faktor-faktor tersebut hanya menjadi catatan statistik jika tidak dikelola dan diorkestrasi dengan kepemimpinan yang mumpuni.

Tommy Firman, seorang profesor Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam artikelnya Decentralization Reform and Local-Government Proliferation in Indonesia: Towards A Fragmentation of Regional Development (2010), menyatakan bahwa sebagian provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia mengalami kemajuan karena bergantung pada kualitas kepemimpinan elite lokal.

Dengan kata lain, di bawah kebijakan desentralisasi, kepemimpinan kepala daerah menentukan kemajuan daerah dalam pembangunan ekonomi dan kualitas penyediaan layanan publik yang lebih baik.

Baca Juga:
Budaya Konten Pendek & Dangkalnya Makna

Dalam konteks Kabupaten Bondowoso, faktor kepemimpinan tersebut juga berlaku. Pilkada Bondowoso Tahun 2024 ini menjadi momentum untuk mempercepat kemajuan daerah dengan memilih pemimpin yang tepat yang memiliki karakter kepemimpinan transformatif.

Sehingga mampu mentransformasi Bondowoso dari kota pensiun ke kota champion. Dan itu ada di sosok KH Abdul Hamid Wahid atau akrab disapa Ra Hamid.

Mengapa Ra Hamid?

Kepemimpinan transformatif adalah ‘kata kerja’ untuk selalu memotivasi dan menginspirasi banyak orang melalui visi masa depan serta senantiasa melakukan inovasi sebagai solusi atas persoalan yang terjadi. Dalam hal ini, kepemimpinan transformatif menekankan leading by example, memimpin dengan suri tauladan.

Baca Juga:
Mitos Bisnis yang Menyesatkan

Dalam konteks membangun Bondowoso, bagaimana kepemimpinan transformatif tersebut melekat dalam sosok Ra Hamid? Saya mengidentifikasinya ke dalam dua aspek. Pertama, Ra Hamid memiliki rekam jejak kepemimpinan yang sudah terbukti.

Karier politiknya dimulai dari bawah dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Probolinggo pada periode 1999-2004. Setelahnya, karier politik Ra Hamid terus menanjak dengan menjadi anggota DPR RI selama dua periode, yaitu 2004-2009 dan 2009-2014. 

Di bidang kemasyarakatan dan keagamaan, Ra Hamid pernah berkhidmat di PBNU sebagai wakil bendahara pada periode 2010-2015. Bahkan saat ini, Beliau mendapat amanah sebagai Sekretaris Jenderal Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren). 

Selain di tingkat nasional, Ra Hamid juga berkhidmat di tingkat lokal di berbagai lembaga dan organisasi. Rekam jejak tersebut adalah bukti nyata kepemimpinan, yang mendapat kepercayaan dari umat untuk berkhidmat kepada umat. Dengan kata lain, kepemimpinan Ra Hamid telah teruji.

Kedua, Ra Hamid memahami betul potensi dan persoalan Bondowoso serta menawarkan solusi yang tidak mengawang-awang. Ini termaktub dalam visi-misi pasangan Ra Hamid dan Ra As'ad (Rahmad) yang hendak membangun sektor-sektor prioritas, yaitu pertanian dan pariwisata serta industri kreatif. 

Ketiga sektor ini di-mention secara khusus dalam visi-misi Rahmad karena berangkat dari potensi dan persoalan pertanian, pariwisata dan industri kreatif Bondowoso.

Memimpin Itu Melampaui Batas Teritorial

Membangun daerah tidak bisa dengan cara-cara mengisolasi diri. Tak ada satu daerah yang maju dengan cara ‘menyendiri’ tanpa berkolaborasi dengan daerah tetangga dan daerah lain. Egoisme lokal sangat tidak relevan dalam membangun daerah, dan justru akan mendorong daerah ke dalam jurang kemunduran. 

Pendapat Tommy Firman (2010) sangat relevan dalam konteks ini, bahwa “desentralisasi juga dapat berarti perlunya menjalin kerjasama yang lebih erat dengan kabupaten dan kota tetangga, karena mereka mungkin tidak dapat menyelesaikan sendiri permasalahan pembangunan daerahnya tanpa adanya kerjasama.”

Oleh karena itu, jika suatu daerah ingin maju, pemimpinnya harus memimpin dengan cara melampaui batas teritorial. Dalam konteks Bondowoso, kolaborasi dalam lingkup aglomerasi tapal kuda dan Provinsi Jawa Timur merupakan sebuah keniscayaan. 

Tak hanya itu, kolaborasi dengan daerah lain di Indonesia –dan jika memungkinkan dengan pemerintahan lokal di luar negeri– telah jadi kebutuhan daerah.

Coba kita lihat Provinsi DKI Jakarta dengan segala kompleksitas dan kemajuannya senantiasa jadi kota terbuka dengan dipimpin oleh tokoh-tokoh nasional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bukan ‘asli’ Jakarta saja.

Dalam Pilkada Bondowoso Tahun 2024, Ra Hamid menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kolaborasi membangun Bondowoso tersebut. Jejaring kawasan, nasional dan internasional yang dimiliki oleh Ra Hamid merupakan modal yang sangat penting untuk mempercepat pembangunan Bondowoso.

Dengan jejaring yang ada, investasi bisa masuk, kerja sama program bisa dijalankan dan tentu saja diaspora Bondowoso yang berada di berbagai tempat bisa diberdayakan. Secara konklusif saya akan menyimpulkan: pasangan Rahmad adalah jawaban atas segudang kegelisahan dan pertanyaan kita tentang kota tercinta ini.

*) Melfin Zaenuri adalah Pemuda Bondowoso dan Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Kota Surabaya Diprediksi Diguyur Hujan saat Pencoblosan Pilkada 2024

Baca Selanjutnya

Pendistribusian Logistik Pilkada di Perairan Sungai Musi Palembang

Tags:

opini Melfin Zaenuri Ra Hamid

Berita lainnya oleh Mustopa

Resmi Dirilis, Buwas Ungkap Makna Logo Hari Pramuka Ke-65 dan Jamnas XII 2026

18 April 2026 18:36

Resmi Dirilis, Buwas Ungkap Makna Logo Hari Pramuka Ke-65 dan Jamnas XII 2026

Gandeng HKTI, Kwarnas Panen Raya Kedelai di Buperta Cibubur

18 April 2026 17:10

Gandeng HKTI, Kwarnas Panen Raya Kedelai di Buperta Cibubur

Budaya Konten Pendek & Dangkalnya Makna

17 April 2026 11:15

Budaya Konten Pendek & Dangkalnya Makna

Ketua Ombudsman RI Jadi Tersangka Dugaan Suap Tata Kelola Pertambangan Nikel Rp1,5 Miliar

16 April 2026 18:28

Ketua Ombudsman RI Jadi Tersangka Dugaan Suap Tata Kelola Pertambangan Nikel Rp1,5 Miliar

Pakai Rompi Pink Kejagung dan Tangan Diborgol, Ketua Ombudsman RI Jadi Tersangka

16 April 2026 16:27

Pakai Rompi Pink Kejagung dan Tangan Diborgol, Ketua Ombudsman RI Jadi Tersangka

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend