Mengubah Kesadaran Palsu di Medsos Menjadi Aksi Nyata Pekerja Sosial

1 Juni 2026 18:23 1 Jun 2026 18:23

Mustopa

Editor
Thumbnail Mengubah Kesadaran Palsu di Medsos Menjadi Aksi Nyata Pekerja Sosial

Oleh: Diwani Qudsyi*

Di era digital sekarang di mana satu tagar #mentalhealth di TikTok dan Instagram dalam sehari bisa meraup jutaan viewers dan like dalam 1 postingan hingga menjadi salah satu topik paling populer saat ini, hingga membuat pembahasan kesehatan mental bukan hal yang tabu lagi.

Bahkan WHO pun turun tangan: sejak November 2024, WHO menggandeng TikTok dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan untuk mengajak kreator lokal menerjemahkan riset ilmiah menjadi konten video singkat tentang kesehatan mental. 

Namun di balik semua hal tersebut ada kesunyian yang tersembunyi di dalamnya. Survei kesehatan indonesia pada tahun 2023 mencatat 20% penduduk atau setara dengan 54 juta orang di indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.

WHO juga menyebutkan 70% penderita gangguan kesehatan mental di dunia tidak mendapat bantuan yang mereka perlukan. 

Namun hal tersebut justru lebih menyedihkan ketika kita melihat data I-NAMHS menyatakan dari 15,5 juta orang yang mengalami gangguan mental hanya 2,6% saja yang benar benar mengakses layanan kesehatan mental.

Survei I-NAMHS yang sama juga menemukan bahwa hanya 4,3% orang tua atau pengasuh yang menyadari anaknya mengalami gangguan kesehatan mental. 

Saat ini pertanyaan nya bukan hanya sekedar mengapa konten edukasi belum cukup, melainkan mengapa jutaan tayangan tidak berhasil mengubah perilaku dan cara berpikir. Jawabannya dapat kita pastikan terletak pada satu hal yang tidak bisa dikalahkan algoritma dan sudah mengakar pada masyarakat yakni stigma itu sendiri. 

Hal ini jelas menunjukkan literasi saja belum tentu menjadi bukti nyata untuk seseorang benar benar paham dan peduli akan kesehatan mental diri sendiri maupun orang lain. Sebab saat ini terdapat gap yang sangat besar antara literasi dan sikap orang ketika mereka mengalami dan melihat seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu. 

Banyak orang yang masih memberikan stigma pada penderita gangguan kesehatan mental meskipun kognisi masyarakat telah banyak terisi berbagai macam konten kesehatan mental namun sayangnya konten tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan. Hal itu dikarenakan marak terjadinya fenomena performative awareness. 

Fenomena di mana orang-orang mempertontonkan kesadaran, kepedulian, atau nilai-nilai tertentu hanya untuk dilihat orang tanpa ada pemahaman atau ketulusan yang murni di dalamnya.

Seakan akan mereka melakukan interaksi digital dalam suatu postingan kesehatan mental merupakan bentuk atas kesadaran mereka terhadap kesehatan mental namun kenyataan nya itu hanya sebagai bentuk membangun citra diri di media sosial. 

Fenomena ini justru membahayakan bagi penderita, ketika kepedulian malah dijadikan sebagai ajang pamer hal ini membuat penderita asli merasa masalah mereka justru diremehkan. 

Banyak masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental malah menormalisasi gangguan kesehatan mental mereka karena fenomena tersebut. Alih-alih membantu justru malah membangun tembok yang cukup besar bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan mental.

Hal ini menjadikan peran pekerja sosial menjadi krusial, di mana sebagai pekerja sosial yang dituntut untuk adaptif dengan teknologi. Peran pekerja sosial adalah menjadi penggeser nilai media sosial yang awalnya jadi ajang pamer kepedulian menjadi bentuk nyata dengan tidak hanya membagikan konten edukasi kesehatan mental.

Namun juga menjadi penghubung layanan kesehatan mental yang layak dan bisa diakses kapan saja dan dimana saja tentu dengan tetap menjunjung tinggi kerahasiaan klien untuk menumbuhkan keberanian melawan stigma yang ada. 

Pekerja sosial juga melakukan intervensi secara makro dengan melakukan pengedukasian yang berbasis dengan bukti agar konten edukasi tidak hanya menjadi tontonan semata melainkan menjadi tuntutan aksi nyata hal ini bertujuan agar stigma di masyarakat bisa terkikis.

Sehingga masyarakat akan benar-benar sadar akan pentingnya kesadaran kesehatan mental pada dirinya dan orang lain, dengan munculnya rasa kesadaran tersebut masyarakat tidak akan memberikan stigma pada orang yang mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya.

Karena dari kesadaran tersebut muncul pemahaman dan empati bahwa stigma sangat berdampak buruk bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. 

*) Diwani Qudsyi merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

opini Diwani Qudsyi kesehatan mental Universitas Muhammadiyah Malang