KETIK, JAKARTA – Posisi awal kapal saat berada di kawasan Selat Sunda ternyata dapat memengaruhi jalur pergerakan objek setelah kapal kehilangan daya gerak.
Pakar Oseanografi IPB University Prof Agus Saleh Atmadipoera menjelaskan, perbedaan posisi kapal pada transek Selat Sunda dapat membuat objek mengikuti pola arus yang berbeda ketika bergerak menuju perairan lepas.
Menurut Agus, kapal yang mesinnya mati akan diperlakukan sebagai objek terapung dalam pemodelan dinamika laut. Karena itu, arus menjadi salah satu faktor penting dalam memperkirakan lintasannya.
Jika kapal berada di bagian utara Selat Sunda, Agus memperkirakan objek dapat terbawa arus secara langsung menuju Pulau Enggano. Namun, kondisi berbeda dapat terjadi apabila kapal berada di bagian selatan yang berbatasan dengan kawasan Krakatau.
Pada posisi tersebut, terdapat dua sumbu arus yang membuat pola pergerakan objek menjadi lebih kompleks. Objek dapat mengikuti lintasan yang berputar sebelum bergerak menuju wilayah perairan berikutnya.
Baca Juga:
Helikopter Basarnas Evakuasi 7 Korban Kapal Virgo Transport 8, Jenazah Menuju BanjarmasinPerbedaan pola ini membuat pencarian kapal tidak cukup hanya mengandalkan titik terakhir kapal diketahui. Tim pencari perlu memperhitungkan posisi awal sekaligus karakteristik arus yang bekerja di wilayah tersebut.
Agus sebelumnya menjelaskan bahwa pemodelan dinamika laut pada September menunjukkan arus kuat dari arah timur setelah objek keluar dari Selat Sunda.
“Begitu keluar Selat Sunda, arus sedang kencang-kencangnya dari arah timur, tertarik sampai ke Enggano. Tanggal 7 sampai 12 itu perkiraannya kapal sudah terbawa arus ke Enggano,” terangnya.
Dengan memperhitungkan posisi awal dan arah arus, tim pencarian dapat menyusun kemungkinan lintasan objek secara lebih terarah. Pendekatan ini penting untuk menentukan wilayah yang memiliki peluang lebih besar menjadi lokasi keberadaan kapal atau korban.
Baca Juga:
Tim SAR Gabungan Evakuasi 10 Korban Kapal Virgo Transport 8Agus menyarankan agar pola tersebut digunakan dalam penyusunan probability search area. Dengan cara ini, wilayah pencarian dapat diprioritaskan berdasarkan kemungkinan pergerakan objek, bukan hanya berdasarkan radius dari titik terakhir kapal terdeteksi.
Informasi dari lapangan juga dapat memperkuat pemodelan tersebut. Nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda hingga Enggano dapat membantu melaporkan temuan objek yang berada di luar jalur pencarian awal.
Kolaborasi antara pemodelan arus dan informasi lapangan menjadi penting karena kondisi laut dapat berubah dari waktu ke waktu. Data tersebut kemudian dapat diperbarui untuk menyesuaikan area pencarian.
Selain pendekatan berbasis arus, Prof Agus menyebut teknologi satelit juga dapat membantu memantau wilayah perairan yang luas. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat menjadi pelengkap bagi model oseanografi dalam proses pencarian. (*)