KETIK, BATU – Di tengah derasnya arus informasi digital, budaya membaca masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri. 

Melalui momentum Hari Buku Nasional, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Batu berupaya memperkuat literasi dengan menghadirkan berbagai program kreatif agar masyarakat semakin akrab dengan buku dan perpustakaan.

Kepala Bidang Perpustakaan Disperpusip Kota Batu, Ernawati Wahyuningsih, mengatakan perpustakaan daerah terus berupaya menghadirkan program yang mampu menarik masyarakat agar lebih gemar membaca sekaligus aktif memanfaatkan layanan perpustakaan.

Menurutnya, Hari Buku Nasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat.

“Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terus berupaya meningkatkan kegemaran membaca masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menarik masyarakat agar semakin gemar membaca dan berkunjung ke perpustakaan, salah satunya melalui program literasi, lomba, hingga pelatihan,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026.

Baca Juga:
Hari Buku Nasional 2026, Kurangnya Insentif Pemerintah Disebut Bikin Industri Penerbitan BukuTerpuruk

Selama Mei 2026, Disperpusip Kota Batu menyiapkan sedikitnya tiga kegiatan utama untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan, yakni lomba bertutur, bimbingan teknis kepenulisan berbasis konten lokal, serta lomba resensi buku.

Kegiatan tersebut juga mensyaratkan peserta menjadi anggota perpustakaan sebagai bagian dari promosi layanan literasi kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan dan koleksi perpustakaan semakin meningkat,” katanya.

Selain program tersebut, pihaknya juga terus menjalankan kegiatan rutin seperti BABEKU atau Membaca dan Berkreasi dalam Kunjungan Perpustakaan yang dikembangkan dengan konsep Forest Literacy Adventure di kawasan Perpustakaan Hutan Kota.

Baca Juga:
Nongkrong Sambil Membaca Buku? Story Coffee and Pizza Jadi Tempat Favorit Baru di Malang

Ernawati menilai perpustakaan saat ini tidak lagi hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga ruang publik yang aktif menjangkau masyarakat hingga ke sekolah dan wilayah pelosok desa.

“Perpustakaan daerah terus berusaha menjadi ruang publik yang aktif menjemput bola ke sekolah dan desa agar semua kalangan bisa mengakses bacaan berkualitas secara setara,” jelasnya.

Tak hanya menyediakan bahan bacaan, perpustakaan juga menjadi wadah pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan hingga pendampingan komunitas literasi lokal.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk menjaga identitas budaya lokal sekaligus menjadikan ilmu pengetahuan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Untuk menarik minat berbagai kelompok usia, Disperpusip Kota Batu juga menghadirkan sejumlah inovasi layanan. Bagi anak-anak tersedia program BABEKU dan layanan perpustakaan keliling SI BOLING atau Literasi Mobil Keliling.

Sementara bagi remaja, perpustakaan menyediakan layanan e-book yang dinilai lebih dekat dengan kebiasaan penggunaan gawai di kalangan generasi muda.

Sedangkan bagi masyarakat dewasa, Disperpusip menghadirkan pelatihan berbasis inklusi sosial melalui inovasi SITATU atau Inklusi Sosial Perpustakaan Kota Batu.

Selain itu, berbagai lomba dan kegiatan literasi juga rutin digelar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Meski demikian, Ernawati mengakui tingkat kegemaran membaca masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, angka kegemaran membaca nasional masih tergolong rendah.

“Untuk Kota Batu sendiri, angka tingkat kegemaran membaca berada di angka 56,71, sedangkan rata-rata nasional 54,8,” ungkapnya.

Selama tahun 2026, rata-rata jumlah kunjungan perpustakaan di Kota Batu, baik layanan offline maupun e-book, tercatat mencapai sekitar 6.646 kunjungan per bulan.

Di momentum Hari Buku Nasional ini, Ernawati juga mengajak generasi muda menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus kebutuhan belajar sepanjang hayat.

“Buku adalah jendela dunia dan membaca merupakan langkah kecil menuju masa depan yang besar. Membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih pola pikir kritis agar tidak mudah terpengaruh hoaks dan arus informasi digital yang tidak terfilter,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda semakin aktif membaca, baik melalui buku fisik maupun digital, agar mampu melahirkan ide, inovasi, serta karya nyata bagi masa depan bangsa.

“Generasi yang membawa bangsa maju adalah generasi yang kaya ilmu, kuat karakter, dan terus mau belajar. Karena itu, mari luangkan waktu untuk membaca hari ini dan ubah ilmu pengetahuan menjadi karya nyata,” pungkasnya. (*)