KETIK, PACITAN – Musim kemarau mulai membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan air bersih.
Sumur dan sumber air yang biasanya menjadi andalan perlahan mengalami penurunan debit, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.
Di Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung misalnya, kondisi tersebut mendorong sebagian warga membeli air bersih yang didatangkan menggunakan truk.
Air sebanyak 3.000 liter dibanderol Rp210-250 ribu sekali pengiriman.
Bagi warga yang kesulitan mendapatkan air dari sumber sekitar rumah, pilihan tersebut menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga:
RSUD dr Darsono Pacitan Siap Perkuat Pelayanan, Evaluasi Ombudsman Jadi Bahan PembenahanSalah satu pengemudi truknya adalah Rozul Saputro (21), warga Dusun Salam, Desa Klesem.
Bersama kernetnya Imam Muzaki (21), Rozul mengisi air dari sumber di Desa Banjarjo untuk kemudian dibawa ke wilayahnya yang membutuhkan.
“Biasanya angkut material, tapi karena ada permintaan dari warga, ini beralih ngambil air. Tahun lalu juga sama, banyak yang minta,” kata Rozul saat ditemui Ketik.com, Rabu, 19 Agustus 2026.
Air sebanyak 3.000 liter itu kemudian dijual kepada warga dengan harga sekitar Rp210 ribu sekali angkut.
Baca Juga:
Kronologi Pencurian 40 Kg Porang Nawangan Pacitan, Polisi Ungkap Pelaku Beraksi di 7 TKP"Satu tangki ukuran 1.000 liter harganya Rp70 ribu rupiah. Ini yang pesan dua keluarga, menghitungnya menyesuaikan jarak," ungkapnya.
Tak hanya untuk minum dan memasak, Rozul menyebut air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan mencuci pakaian bahkan mandi.
“Iya dipakai mandi juga, sudah susah cari air sekarang. Ada yang mau mandi saja sampai ke sungai,” ujar Rozul.
Dia mengungkapkan, selain Dusun Salam, air bersih juga mulai langka di sekitar wilayahnya.
24.263 Warga Mulai Merasakan Dampak
Fenomena truk pengangkut air tersebut menjadi gambaran kecil dari persoalan kekeringan yang kini melanda sejumlah wilayah Pacitan.
Berdasarkan data penanganan bencana kekeringan BPBD Pacitan, sebanyak 24.263 jiwa dari 8.338 kepala keluarga terdampak krisis air bersih.
Dampak tersebut tersebar di 34 desa dan 112 dusun yang mencakup sekitar 240 RT/RW di delapan kecamatan.
Wilayah perbukitan dan kawasan karst menjadi salah satu kawasan yang cukup rentan karena debit sumber air mengalami penurunan selama musim kemarau.
Kecamatan Kebonagung menjadi salah satu wilayah dengan sebaran terdampak cukup luas.
Permohonan pasokan air tercatat berasal dari sembilan desa, yakni Kalipelus, Klesem, Gembuk, Karanganyar, Plumbungan, Ketro, Gawang, Purwoasri dan Sanggrahan.
Di Kecamatan Sudimoro, dampak kekeringan mencakup Desa Sumberejo, Pagerlor, Karangmulyo, Sukorejo, Pagerkidul, Ketanggung dan Sudimoro.
Sementara Kecamatan Punung mencakup Kebonsari, Punung, Mendolo Lor, Ploso, Gondosari dan Mendolo Kidul.
Kemudian Kecamatan Tegalombo meliputi Kasihan, Kemuning, Pucangombo, Tahunan Baru dan Ploso.
Krisis air juga tercatat terjadi di Kecamatan Donorojo, meliputi Desa Donorojo dan Gedompol.
Kecamatan Ngadirojo mencakup Hadiwarno, Cokrokembang dan Pagerejo.
Sementara Kecamatan Arjosari terdampak di Desa Mangunharjo dan Kecamatan Pacitan di Desa Ponggok.
Droping Air Mulai Digencarkan
Pemerintah Kabupaten Pacitan mulai menggencarkan distribusi atau dropping air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan distribusi dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung.
“Droping air bersih sudah mulai jalan hari ini. Penanganan bantuan armada dan logistik ini didukung langsung dari BPBD Provinsi Jawa Timur,” ujar Erwin, Selasa, 18 Agustus 2026.
Distribusi diprioritaskan ke penampungan komunal di tingkat RT/RW serta wilayah yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.
Pola tersebut dilakukan agar pasokan air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara bersama dan didistribusikan secara merata kepada warga terdampak.
82 Hari Tanpa Hujan
Kondisi kekeringan juga diperkuat oleh data hari tanpa hujan dari BMKG.
Berdasarkan pemutakhiran data per 10 Agustus 2026, wilayah Pringkuku tercatat telah mengalami 82 hari tanpa hujan.
Durasi hari tanpa hujan yang panjang berpotensi memperparah kekeringan, terutama di wilayah yang bergantung pada sumber air permukaan maupun sumur.
BMKG juga memberikan peringatan terhadap sejumlah wilayah di Jawa Timur yang mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan pertanian, kelangkaan air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan.(*)