KETIK, PACITAN – Permintaan konsumen dari luar negeri turut memberi warna tersendiri bagi industri batik di Pacitan.
Produsen Batik Saji misalnya, salah satu sentra batik terkenal di Kabupaten Pacitan tersebut sempat mengaku menerima pesanan dari konsumen mancanegara dengan permintaan khusus, yakni menggunakan pewarna alami tanpa bahan sintetis.
Penerus Batik Saji Generasi ketiga, Danang Eko Hariyanto (45), mengatakan pasar produknya saat ini tidak hanya berasal dari lokal dan nasional.
Konsumen dari luar negeri juga masih melakukan pemesanan secara langsung, termasuk dengan membawa permintaan motif tertentu.
"Dari luar negeri juga masih ada, biasanya juga langsung WhatsApp, mintanya motif apa," kata Danang kepada Ketik.com, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, konsumen dari luar negeri memiliki karakteristik permintaan yang berbeda.
Mereka terkadang sudah memiliki ide motif sendiri untuk kemudian dikerjakan oleh perajin Batik Saji.
Tidak hanya soal motif, permintaan juga menyangkut bahan pewarna yang digunakan.
Danang mengatakan konsumen dari luar negeri banyak yang meminta penggunaan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
"Kalau yang luar negeri itu biasanya mereka motifnya pakai ide sendiri, nanti kita kerjakan. Dan kebanyakan dari yang kalau yang dari luar negeri itu warna alam. Warna dari pohon-pohon, jadi tanpa pewarna sintetis. Nggak ada bahan kimianya kalau yang dari luar negeri. Maunya warna alam," ujarnya.
Permintaan tersebut menjadi bagian dari aktivitas produksi Batik Saji yang hingga kini masih mempertahankan teknik tradisional.
Selain menggunakan proses batik tulis, para perajin juga mengerjakan batik cap dengan tahapan produksi yang dilakukan oleh pekerja sesuai bidang masing-masing.
Salah satu perajin, Tutung Prasetya, telah bekerja sejak 2013 dan secara khusus menangani proses batik cap.
Ia mengatakan terdapat banyak motif yang dikerjakannya.
"Kalau saya khususnya di batik cap, bagian cap. Kalau motifnya banyak, bermacam-macam," kata Tutung.
Untuk desain batik cap yang dikerjakannya, Tutung mengatakan desain tersebut berasal dari pemilik Batik Saji.
"Desainnya dari Bapak sendiri, sudah disiapkan, saya tinggal ngecap," ujarnya.
Dari sisi produksi, Batik Saji mampu menghasilkan sekitar 250 hingga 400 potong batik per pekan.
Harga batik yang diproduksi bervariasi, mulai dari Rp125 ribu, Rp150 ribu hingga Rp2 juta.
Di sisi lain, pengembangan motif tetap dilakukan mengikuti kebutuhan konsumen, termasuk motif Jagat yang kini menjadi salah satu motif baru Batik Saji.
Pesanan dari luar negeri menjadi salah satu bagian dari perjalanan Batik Saji dalam memperluas pasar.
Produk mereka telah menjangkau konsumen di sejumlah negara, termasuk Swiss dan Belanda.
Sebagai informasi, Batik Saji dirintis oleh perempuan bernama Saji dan suaminya, Samuri, sejak tahun 1987 dengan ciri khas batik tulis.
Salah satu karya fenomenalnya adalah Batik Pace yang kini menjadi ikon batik di Kabupaten Pacitan.(*)
