KETIK, BLITAR – Aroma kemenyan yang mengepul memenuhi Balai Kesenian Istana Gebang, Kota Blitar, Minggu 12 Juli 2026. Di tengah alunan tembang mocopat yang menggema, puluhan pegiat budaya dari berbagai daerah mengikuti prosesi Jamasan Pusaka dalam rangkaian Gebyar Suro Lintas Komunitas.
Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni menyambut datangnya Bulan Suro. Bagi para pelaku budaya, jamasan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus pengingat agar nilai-nilai budaya Jawa tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Ketua Panitia Gebyar Suro Lintas Komunitas, Hendra Setiyawan, mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang sebagai ruang bersama untuk merawat identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
“Prinsipnya kita ini menjaga marwah supaya Jawa itu tetap hidup. Budaya adalah dasar bagi kita untuk melangkah menjadi masyarakat yang maju dalam kemajemukan. Nilai Jawa ini menjadi dasar yang kuat bagi berbagai latar belakang yang ada,” kata Hendra.
Prosesi diawali dengan Suguh Leluhur dan doa Suronan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Setelah itu peserta melaksanakan ritual memule mata air di sumur tua kawasan Istana Gebang. Ritual tersebut dipercaya sebagai simbol permohonan agar sumber mata air terus membawa keberkahan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga:
Ribuan Warga PSHT dari Berbagai Daerah Hadiri Tasyakuran di Blitar, Ketua Cabang Tekankan Persaudaraan dan KesetiaanSuasana semakin khidmat ketika memasuki prosesi inti, yakni Jamasan Pusaka. Sekitar 35 pusaka dibersihkan menggunakan tata cara adat Jawa, mulai dari keris, tombak, cundrik hingga berbagai benda pusaka lainnya.
Bagi para pegiat budaya, prosesi penyucian pusaka tidak dimaknai sebagai unsur mistis semata, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga nilai luhur, menghormati sejarah, serta merawat peninggalan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Lantunan mocopat yang mengiringi prosesi menghadirkan nuansa khas tradisi Jawa. Perpaduan doa-doa adat, seni, dan ritual budaya tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan jalannya acara.
Gebyar Suro Lintas Komunitas juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarpegiat budaya. Sejumlah komunitas dan tokoh budaya dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan Komunitas Karawitan Indonesia (KKI), Mbah Raban dari Serang, Ki Amang Pringgaleh, serta pemerhati budaya dari Sidoarjo, Surabaya, Kediri, hingga Tulungagung.
Baca Juga:
Kirab Budaya Nusantara Wonorejo Blitar Sedot Ribuan Penonton, Bersih Desa Jadi Panggung Pelestarian Budaya dan Penggerak UMKMHendra berharap kegiatan serupa mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal. Menurutnya, tradisi yang diwariskan leluhur hanya akan tetap hidup apabila terus dipelajari, dijaga, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Harapan kami, estafet pelestarian budaya ini terus dilanjutkan oleh generasi muda sehingga tradisi leluhur tetap hidup dan memberi makna bagi kehidupan masyarakat di masa depan,” tutupnya.