KETIK, PACITAN – Dalam beberapa pekan terakhir, harga telur ayam ras di Kabupaten Pacitan di tingkat peternak terus merosot.
Sejumlah peternak mengaku kelimpungan untuk memutar otak agar tak mengalami kerugian.
Salah satu peternak ayam petelur, Misdi (53) asal Dusun Krajan, Desa Wonogondo, Kecamatan Kebonagung, mengatakan kondisi harga telur di Pacitan saat ini terus mengalami penurunan.
Serupa dengan yang dialami peternak lain di wilayah Jawa Timur.
Ia menyebut, harga telur di tingkat eceran kini berkisar Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
Baca Juga:
Meski Suhu Kian Panas, Pacitan Masih Nihil Permintaan Dropping Air Bersih“Harga telur sekarang turun, sementara harga pakan justru naik. Kondisi ini cukup berat bagi peternak,” kata Misdi kepada Ketik.com, Senin, 25 Mei 2026.
Yang memberatkan, imbuhnya, harga pakan ayam saat ini mencapai sekitar Rp370 ribu per sak, naik dari sebelumnya sekitar Rp365 ribu per sak.
Dalam sekali pengiriman, peternak minimal harus membeli sekitar 20 sak pakan.
“Kenaikannya memang tidak terlalu besar, tetapi karena kebutuhan pakan banyak, pengaruhnya cukup terasa bagi peternak,” ujarnya.
Baca Juga:
RSUD dr Darsono Pacitan Jajaki Kerja Sama Pendidikan Dokter Spesialis dengan UMYSelain pakan, biaya kebutuhan pendukung lain seperti vitamin, mineral hingga stimulan ternak juga ikut mengalami kenaikan.
“Harga vitamin sekarang sekitar Rp90 ribuan per liter, belum kebutuhan mineral, stimulan dan lainnya,” katanya.
Misdi mengaku saat ini usaha peternakan yang dijalankannya masih bisa bertahan karena merupakan bantuan kelompok ternak.
Namun menurutnya, peternak mandiri kemungkinan akan lebih berat menghadapi kondisi sekarang.
“Mungkin kalau peternak milik pribadi bisa lebih rugi. Kalau kami ini masih sedikit tertolong karena bantuan kelompok,” ucapnya.
Menurut Misdi, hasil penjualan telur saat ini nyaris hanya cukup untuk memenuhi biaya operasional harian seperti membeli pakan, membayar tenaga kerja dan kebutuhan kandang lainnya.
“Kalau dibilang rugi besar memang belum, tetapi hasil penjualannya hanya cukup untuk biaya operasional,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Bayu Saputra Mahadi Kusuma (23), peternak ayam petelur asal Dusun Sumber, Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku.
Ia mengatakan harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir, sedangkan harga pakan terus merangkak naik.
“Harga telur turun cukup drastis, sedangkan harga pakan justru naik. Ini yang membuat peternak semakin tertekan,” katanya.
Menurut Bayu, kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin kecil.
Bahkan tidak sedikit peternak yang kini hanya bertahan agar usaha tetap berjalan.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk membantu menjaga stabilitas harga telur dan pakan ternak agar usaha peternakan rakyat tidak semakin terpuruk.
"Kami khawatir apabila kondisi harga telur terus rendah sementara biaya produksi meningkat, banyak peternak kecil akan kesulitan mempertahankan usahanya dalam jangka panjang," ungkapnya. (*)