KETIK, SURABAYA – Gejolak geopolitik global dan dampak perubahan iklim mulai menekan ketahanan pangan Indonesia. Pemerintah merespons kondisi ini dengan memperkuat sektor peternakan, khususnya industri unggas, sebagai penopang utama ketersediaan protein hewani nasional.
Pemerintah mempercepat langkah strategis untuk menjaga stabilitas pangan di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sektor perunggasan menjadi salah satu fokus utama karena berperan besar dalam memasok kebutuhan protein hewani masyarakat.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ali Agus, menegaskan pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dan investasi di industri unggas guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kita ingin mendorong peningkatan ketersediaan berbagai macam protein hewani, termasuk daging, mendorong bagaimana investasi di bidang industri peternakan unggas ini semakin meningkat,” ujarnya dalam seminar di Universitas Gadjah Mada, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Kamis, 23 April 2026.
Ia menyebut Indonesia memiliki keunggulan dalam menjaga stabilitas harga ayam dan telur dibanding banyak negara lain. Namun, tantangan utama masih terletak pada distribusi yang belum merata, dengan sekitar 63 persen produksi terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Baca Juga:
Program Makan Bergizi Gratis Diklaim Dongkrak Permintaan Ayam hingga 40.000 Ton per Bulan“Distribusinya masih terpusat di Jawa,” ujarnya.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pemerintah memperbaiki sistem distribusi dan mendorong kemandirian produksi di setiap wilayah. Strategi ini diharapkan mampu mengurangi risiko gangguan logistik sekaligus meminimalisir dampak wabah penyakit seperti flu burung dan PMK.
Pemerintah juga mengoptimalkan peran BUMN dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti cold storage dan fasilitas pengeringan jagung terus dipercepat guna menekan biaya pakan.
“Ke depan, setiap pulau harus mandiri protein hewani. Kami juga memperkuat ekosistem melalui Perpres dan Inpres tahun 2026 untuk membangun gudang penyimpanan dan fasilitas pengeringan jagung agar harga pakan terkendali,” jelasnya.
Baca Juga:
Bank Muamalat Makin Agresif Salurkan Pembiayaan Emas SyariahKetua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia, Achmad Dawami, menilai sektor unggas merupakan infrastruktur strategis karena menyumbang sekitar dua pertiga konsumsi protein masyarakat.
Namun, ia mengingatkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan masih menjadi tantangan utama yang berpengaruh terhadap stabilitas harga dan daya saing industri.
“Terjadinya perubahan mulai dari pembibitan hingga distribusi akan berdampak langsung ke harga pasokan dan daya saing,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada, Michael Haryadi Wibowo, menekankan pentingnya penguatan manajemen kesehatan unggas. Ia menilai kualitas pullet yang rendah dan risiko penyakit masih menjadi hambatan utama pengembangan industri.
“Diperlukan ada SOP (standar operasional prosedur) terutama untuk biosekuriti sebelum dan sesudah masuk pullet,” katanya.
Ia juga mengimbau peternak rutin melakukan vaksinasi untuk mencegah penyakit seperti Newcastle Disease, Avian Influenza, dan lainnya. (*)