KETIK, JAKARTA – Fenomena blue fire atau api biru di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menarik perhatian setelah sejumlah rekaman pendaki beredar di media sosial.
Nyala api berwarna biru elektrik tersebut bukan berasal dari lava yang berpijar. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menjelaskan blue fire Papandayan muncul akibat pembakaran gas belerang yang keluar dari rekahan vulkanik.
Fenomena serupa lebih dahulu dikenal masyarakat melalui kawasan Kawah Ijen. Namun, mekanisme terbentuknya blue fire pada dasarnya berkaitan dengan keluarnya gas vulkanik dari rekahan di kawasan gunung api.
“Mekanisme blue fire adalah ketika magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H₂S) dan sulfur dioksida (SO₂) bersuhu sekitar 200–600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara,” jelas Sonni.
Gas H₂S yang keluar dari rekahan kemudian bereaksi dengan oksigen di udara. Reaksi tersebut memicu pembakaran dan menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, serta nyala api berwarna biru.
Baca Juga:
Ledakan Amunisi Tewaskan 13 Orang, TNI AD Bantu Proses Pemakaman Korban“Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius,” ujarnya.
Mengapa Api Berwarna Biru?
Warna biru pada fenomena tersebut berkaitan dengan proses pembakaran gas belerang. Nyala api memiliki intensitas cahaya yang relatif rendah sehingga lebih sulit terlihat ketika lingkungan masih terang.
Baca Juga:
Kronologi Pemusnahan Amunisi Kedaluarsa Garut yang Telan Korban Jiwa Hingga 13 OrangKarena itu, kondisi malam yang gelap membuat blue fire lebih mudah diamati. Di Papandayan, fenomena tersebut dapat terlihat di sekitar fumarol aktif, antara lain Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise.
Waktu pengamatan juga menjadi faktor penting. Blue fire disebut dapat terlihat ketika kondisi benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00–05.00 WIB.
Namun, waktu tersebut bukan berarti setiap malam pengunjung pasti dapat melihat api biru. Kemunculan blue fire bergantung pada kondisi fumarol dan proses keluarnya gas vulkanik dari rekahan.
Jangan Hanya Mengejar Pemandangan Api Biru
Meski menarik untuk diamati, pengunjung tidak boleh mengabaikan kondisi lingkungan di sekitar fumarol. Gas vulkanik dapat membahayakan pernapasan dan tanah di sekitar lubang fumarol dapat rapuh.
Karena itu, fenomena blue fire sebaiknya diamati dengan tetap memperhatikan jarak aman dan ketentuan keselamatan di kawasan Papandayan.
Selain mekanisme terbentuknya, sejarah kemunculan blue fire juga berkaitan dengan perubahan jalur fumarol setelah erupsi 2002 serta perubahan aktivitas vulkanik Papandayan dalam beberapa tahun terakhir. Dari sisi keselamatan, masyarakat juga perlu mewaspadai paparan gas vulkanik dan kondisi tanah rapuh di sekitar fumarol. (*)