KETIK, PROBOLINGGO – Arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital tidak mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan berbasis pesantren.
Hal itu terlihat dari pelaksanaan Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid, Kabupaten Probolinggo, yang dipadati ribuan calon santri beserta orang tua mereka pada Rabu, 1 Juli 2026.
Sejak pagi, kawasan pesantren dipenuhi calon santri yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti proses pendaftaran.
Antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa Ponpes Nurul Jadid masih menjadi salah satu tujuan utama masyarakat dalam menanamkan pendidikan agama sekaligus membentuk karakter anak di tengah derasnya pengaruh era digital.
Konsistensi Ponpes Nurul Jadid dalam menjaga tradisi kesantrian sembari mengikuti perkembangan zaman dinilai menjadi alasan utama tingginya kepercayaan masyarakat.
Baca Juga:
Ketika NU Sibuk Memilih Pemimpin, Kiai Wahid Zaini Mengajarkan Cara BerkhidmatSalah seorang calon santri, Anaisa Afnan, mengaku memilih melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Jadid setelah mendengar pengalaman positif dari santri yang lebih dulu belajar di pesantren tersebut.
"Memang pengen di sini, di MTs Nurul Jadid. Soalnya dengar cerita anaknya ustazah saya di MI yang mondok di sini, katanya seru mondok di Nurul Jadid, jadi pengen di sini deh," ujarnya.
Fenomena serupa juga terlihat dari banyaknya keluarga yang kembali mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada Ponpes Nurul Jadid. Tidak sedikit orang tua yang mendaftarkan anak kedua, ketiga, bahkan generasi berikutnya di pesantren yang sama.
Salah seorang wali santri mengungkapkan, anak yang didaftarkan tahun ini merupakan anak ketiganya yang menempuh pendidikan di Ponpes Nurul Jadid.
Baca Juga:
Khofifah: Kerja Produktif Harus Diiringi Religiusitas agar Sukses dan Berkah"Ini anak yang ke-3, kakaknya juga di sini. Alasan kami meletakkan mereka di sini karena amanah di sini terjaga. Sistem pengajarannya terbukti mencetak santri yang berkualitas. Meski begitu, tetap mengikuti era yang semakin modern," katanya.
Kepercayaan tersebut tidak lepas dari rekam jejak Ponpes Nurul Jadid dalam mempertahankan keseimbangan antara pendidikan keagamaan, pembentukan karakter, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Di tengah maraknya penggunaan gawai dan media digital yang memengaruhi kehidupan generasi muda, banyak orang tua menilai pesantren menjadi tempat yang tepat untuk membentuk kedisiplinan, kemandirian, serta akhlak anak sejak dini.
Fenomena ini juga diperkuat dengan banyaknya alumni Ponpes Nurul Jadid yang kini kembali memondokkan anak-anak mereka di almamater yang sama.
Pengalaman selama menjadi santri dan hubungan erat dengan para guru menjadi alasan mereka tetap mempercayakan pendidikan keluarga kepada pesantren tersebut.
Bagi para wali santri, keputusan memondokkan anak bukan sekadar memilih lembaga pendidikan, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.
Pelaksanaan Penerimaan Santri Baru tahun ini sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tetap memiliki posisi strategis di tengah masyarakat.(*)