KETIK, SLEMAN – Alun-Alun Sleman atau Lapangan Denggung yang terletak di Jalan Magelang, Dusun Jaran, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, mendadak berubah menjadi lautan manusia yang sarat nuansa budaya Jawa pada Sabtu sore, 23 Mei 2026.
Ribuan warga bersama abdi dalem dan jajaran pemerintahan berkumpul khidmat untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Upacara tersebut diikuti sekitar 2.500 peserta yang mengular rapi di tengah lapangan, menciptakan pemandangan megah sekaligus sakral.
Kemegahan upacara dimulai saat pasukan upacara memasuki lapangan dan dipimpin oleh Panewu Berbah Djaka Sumarsono selaku Komandan Upacara, didampingi Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), Widodo, selaku Perwira Upacara. Alur prosesi berjalan sangat runtut, dimulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga momen sakral saat Panji Lambang Daerah Kabupaten Sleman memasuki lapangan upacara dengan penghormatan penuh dari seluruh peserta.
Atmosfer budaya begitu kental berkat kehadiran deretan barisan seni dan instansi yang tertata rapi. Defile diawali oleh Bregada Cucuk Lampah, Bregada Pengampil Pusaka, Bregada Abdi Dalem, Bregada Mega Ngampak, Bregada Dimas Diajeng, hingga kemeriahan korps musik dari Bregada Marching Band STPN.
Keindahan budaya lokal semakin memuncak dengan melintasnya Bregada Bedhol Projo serta perwakilan bregada dari seluruh wilayah, mulai dari Kapanewon Tempel, Sleman, Ngaglik, Turi, Depok, Pakem, Ngemplak, Cangkringan, Berbah, Prambanan, Kalasan, Seyegan, Moyudan, Minggir, Godean, Gamping, hingga Kapanewon Mlati beserta kalurahannya masing-masing.
Baca Juga:
Salim di Sekolah: Feodalisme atau Pendidikan Hormat dalam Budaya Jawa?Keterlibatan aktif unsur pemerintahan dan pelayanan publik juga terlihat dari barisan Bregada Setda, Bregada Setwan, Bregada Inspektorat, serta dinas-dinas teknis seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas PUPKP, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Satpol PP, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pemuda dan Olahraga, hingga Dinas P3AP2KB.
Sektor ketahanan dan administrasi pun tak kalah anggun menampilkan Bregada Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan; Bregada Dinas Lingkungan Hidup; Bregada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; Bregada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan; Bregada Dinas Perhubungan; serta Bregada Dinas Komunikasi dan Informatika.
Barisan parade disempurnakan oleh Bregada Dinas Koperasi dan UKM, Bregada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Bregada Dinas Kebudayaan, Bregada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Bregada Dinas Pariwisata, Bregada Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Bregada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Bregada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Bregada RSUD Sleman dan RSUD Prambanan, serta ditutup kokoh oleh Bregada PDAM Sleman, Bregada Bank Sleman, Bregada Bank Sleman Syariah, dan Bregada Badan Pusat Statistik.
Sri Sultan HB X Ingatkan Makna Pusaka
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir langsung dan bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam kesempatan tersebut. Untuk mengantisipasi kelancaran prosesi, posisi Cadangan Inspektur Upacara diamanatkan kepada Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X. Sementara itu, tugas pemanduan jalannya acara dipercayakan sepenuhnya kepada Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan.
Baca Juga:
Putus Rantai Kemiskinan, Pemkab Sleman Gandeng 34 KampusKehadiran Sri Sultan disambut hangat oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya beserta istri dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa beserta istri. Sederet pejabat penting lintas sektoral juga hadir memberikan penghormatan, di antaranya Kepala BNN Sleman Kombes Pol Teguh Tri Prasetya beserta istri, Kapolresta Sleman Kombes Pol Bambang Purwanto beserta istri, Dandim 0732/Sleman Letkol Arh Reindi Trisetyo Nugroho beserta istri, Kepala Kejaksaan Negeri Sleman Bambang Yunianto beserta istri, Ketua Pengadilan Negeri Sleman Wari Juniati, serta Ketua Pengadilan Agama Sleman Dr. Yuniati Faizah.
Unsur legislatif dan eksekutif daerah turut mengawal jalannya upacara dengan kehadiran para pimpinan DPRD Kabupaten Sleman, mulai dari Wakil Ketua I Ani Martanti, Wakil Ketua II Hasto Karyantoro beserta istri, hingga Wakil Ketua DPRD HR Sukaptana beserta istri. Dari jajaran sekretariat daerah, tampak hadir Sekda Kabupaten Sleman Drs. Susmiarto, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs. Agung Armawanta beserta istri, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Makwan beserta istri, Asisten Administrasi Umum Ir. Dwi Anta Sudibya beserta istri, seluruh kepala OPD, kepala BUMD, kepala instansi vertikal, jajaran Forkopimkap se-Kabupaten Sleman, serta lurah se-Kabupaten Sleman.
Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan bahwa kehadiran Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Turunsih dalam kirab hari jadi ini bukan sekadar pelengkap seremonial belaka. Pusaka tersebut merupakan perlambang batin mengenai laku ambeg paramarta, yakni watak kepemimpinan yang penuh welas asih, menimbang rasa, dan mengutamakan keselamatan hidup bersama. Sri Sultan HB X juga mengaitkan perjalanan sejarah Sleman dengan candra sengkala Anggana Catur Sastra Tunggal yang menandai berdirinya Kabupaten Sleman pada tahun 1846 Jawa sebagai bukti bahwa daerah ini dibangun atas fondasi sejarah, budaya, dan pengabdian yang mendalam kepada nagari.
Filosofi Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman
Lebih lanjut, Sri Sultan HB X mengupas tema hari jadi kali ini, yakni “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”. Menurut Sri Sultan, membangun Sleman tidak boleh hanya mengejar kemajuan fisik atau lahiriah semata. Membangun Sleman berarti harus ikut menggendong harapan rakyat, memikul tanggung jawab bersama, menjaga kelestarian bumi, merawat kerukunan, dan mengupayakan keselamatan universal. Arti kata rahayu sendiri bukan sekadar terhindar dari marabahaya, melainkan ketenteraman batin, tegaknya ikhtiar, dan suburnya welas asih tanpa kehilangan akar budaya aslinya.
Nilai tersebut selaras dengan filosofi luhur Ngayogyakarta, hamemayu hayuning bawana, yang mengandung dharma kemanusiaan dalam Tri Satya Brata dari ajaran agung warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma, yakni Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, dan Memayu Hayuning Bawana.
Sultan merinci tiga pilar ajaran tersebut. Pertama, rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa, bahwa keselamatan dunia ditentukan oleh kejernihan batin dan kewaskitaan manusia. Kedua, dharmaning manungsa mahanani rahayuning nagara, yang berarti pengabdian manusia melahirkan keselamatan nagari. Ketiga, rahayuning manungsa dumadi amarga rasa kamanungsaning sarira piyambak, yakni keselamatan manusia lahir dari kesadaran kemanusiaan di dalam dirinya sendiri.
Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta berharap momentum usia ke-110 ini menjadi ajang mulat sarira atau refleksi batin bagi segenap pemimpin dan warga untuk melihat kembali apa yang telah dijalani, meneguhkan apa yang harus diperbaiki, dan melangkah bersama menuju Sleman yang semakin ayom, ayem, sejahtera, lestari, dan bermartabat.
Upacara ditutup secara khidmat dengan pembacaan doa dan penghormatan akhir kepada Panji Lambang Daerah sebelum dilarung meninggalkan lapangan. Peringatan hari jadi tahun ini memang sengaja dirancang sebagai sarana evaluasi atas pencapaian masa lalu sekaligus meneguhkan tekad kolektif untuk masa depan. Seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir pun berhasil berjalan aman, tertib, dan kondusif. (*)