KETIK, MALANG – Di balik penemuan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu di UB Forest, Kabupaten Malang, terdapat sosok ilmuwan yang perjalanan hidupnya dimulai dari sebuah dusun kecil di selatan Kabupaten Malang.

Ia adalah Prof. Dr. Agr. Sc. Ir. Hagus Tarno, S.P., M.P., Guru Besar Entomologi Pertanian dan Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB), sekaligus salah satu entomolog muda Indonesia yang kini dikenal luas di jejaring ilmiah internasional.

Namun siapa sangka, perjalanan ilmiahnya berawal dari kehidupan sederhana sebagai anak petani di Dusun Tegaron, Kepanjen.

"Saya ini sebenarnya orang kampung. Asal saya dari Dusun Tegaron, Kepanjen. Orang tua saya petani," tutur Prof. Hagus.

Menurutnya, kehidupan di lingkungan pertanian sejak kecil membuat dirinya akrab dengan berbagai persoalan yang dihadapi petani. Pertanyaan sederhana seperti tanaman terserang apa dan obatnya apa justru menjadi pemantik ketertarikannya pada ilmu hama dan penyakit tumbuhan.

Baca Juga:
Terbongkar! Suami Bacok Istri di Kasembon Kabupaten Malang, Dipicu Dugaan Selingkuh dari Facebook

"Orang tua dan petani sering bertanya, tanaman ini sakit apa, obatnya apa. Dari situ akhirnya saya memilih ilmu hama dan penyakit tumbuhan," ujarnya.

Pilihan itu membawanya masuk Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada 1995. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1999, melanjutkan magister di kampus yang sama hingga lulus pada 2002, sebelum akhirnya diterima menjadi dosen muda di Universitas Brawijaya pada akhir tahun yang sama.

Awalnya, Hagus menekuni bidang nematologi atau ilmu tentang nematoda. Bahkan ketika memperoleh kesempatan melanjutkan studi doktor di Kyoto University, Jepang, pada 2008, ia berangkat dengan rencana memperdalam bidang tersebut. 

Namun, takdir membawanya kembali ke dunia serangga. Profesor pembimbingnya di Jepang justru meminta dirinya meninggalkan penelitian tentang penyakit layu pinus dan beralih mempelajari penyakit layu pohon oak Jepang yang ternyata berkaitan erat dengan serangga pembawa penyakit.

Baca Juga:
Dari Ekspedisi hingga Identifikasi, Dua Tahun Perjalanan Prof. Hagus Tarno Menemukan Empat Spesies Baru di UB Forest

"Dari situ saya kembali lagi ke serangga. Padahal saya sudah bertahun-tahun belajar nematoda. Akhirnya saya kembali ke entomologi," kenangnya.

Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam karier akademiknya.

Prof. Hagus kemudian mendalami kelompok kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu atau bark beetle, kelompok serangga kecil yang memiliki peran besar dalam ekosistem hutan maupun penyebaran penyakit tanaman.

Kumbang ambrosia memiliki perilaku unik. Mereka menggali terowongan di batang pohon, membawa jamur tertentu di tubuhnya, menanam jamur tersebut di dalam kayu, lalu memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

"Mereka membuat galeri di dalam kayu, menanam jamur yang dibawa di tubuhnya, lalu memakan jamur itu sendiri," jelasnya.

Keahlian tersebut tergolong langka di Indonesia. Tidak mengherankan jika publikasi ilmiahnya kemudian banyak menjadi rujukan internasional dalam bidang kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu.

Dalam lima tahun terakhir saja, Prof. Hagus menghasilkan puluhan publikasi internasional bereputasi, mulai dari penelitian tentang keanekaragaman kumbang ambrosia di Indonesia, pola penyebarannya di perkebunan dan hutan tropis, hingga studi perilaku unik kumbang tersebut. Salah satu publikasinya yang menarik perhatian dunia adalah artikel berjudul Why do Indonesian Ambrosia Beetles Carry Eggs on Their Heads? yang terbit di jurnal American Entomologist pada 2025.

Penelitian lainnya terbit di berbagai jurnal internasional seperti Zoological Studies, Forests, Biologia, hingga Journal of Plant Protection Research. Sebagian besar membahas biodiversitas, bioekologi, hingga potensi ledakan populasi kumbang ambrosia di kawasan tropis Indonesia.

Jejaring riset internasionalnya pun terus berkembang sejak masa studinya di Kyoto University. Publikasi pertamanya mengenai kumbang ambrosia di Jepang membuat dirinya dihubungi peneliti dari University of Florida, Amerika Serikat, untuk membangun jaringan riset internasional mengenai kumbang ambrosia.

Hubungan tersebut terus berkembang hingga kini melibatkan peneliti dari Jepang, Amerika Serikat, China, Taiwan, Prancis hingga Eropa.

"Saya merasa tidak mungkin kuat sendirian di Brawijaya, sehingga saya membangun jejaring di luar negeri," ujarnya.

Jejaring itu pula yang kemudian mengantarkan Universitas Brawijaya menjadi tuan rumah pelatihan internasional kumbang ambrosia pada 2024 yang dihadiri sekitar 30 peneliti mancanegara.

Baginya, jejaring bukan semata soal reputasi pribadi, melainkan membuka kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk belajar lebih jauh.

Ia mengirim peneliti muda Indonesia ke Florida, Jepang, hingga Thailand untuk mempelajari taksonomi dan bioekologi kumbang ambrosia secara langsung.

"Saya ingin yang muda-muda punya kesempatan belajar lebih jauh tentang kumbang yang sedang saya pelajari," katanya.

Kerja panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil penting ketika tim peneliti yang dipimpinnya berhasil mengungkap empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu dari kawasan UB Forest.

Penemuan tersebut menjadi salah satu kontribusi penting Indonesia dalam pemetaan biodiversitas serangga tropis dunia sekaligus mempertegas posisi UB Forest sebagai laboratorium alam penting bagi penelitian internasional.

Sebelumnya, Prof. Hagus dan timnya juga berhasil mengungkap lima spesies baru nematoda dari Indonesia. Dua di antaranya bahkan diberi nama Caenorhabditis brawijaya dan Caenorhabditis ubi sebagai bentuk pengenalan nama Universitas Brawijaya di dunia ilmiah internasional.

Meski lebih nyaman berada di lapangan dan laboratorium, kiprah Prof. Hagus justru membawanya ke panggung organisasi profesi nasional.

Setelah bertahun-tahun aktif memimpin Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Malang, ia akhirnya dipercaya menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia periode 2023-2027.

Menariknya, jabatan tersebut justru datang ketika dirinya berusaha menghindarinya.

"Saya sebenarnya sudah menolak. Saya bilang jangan ditaruh jadi ketua-ketua begini, saya tidak bisa jalan-jalan," ujarnya sambil tertawa.

Namun dalam pemilihan pengurus pusat, namanya justru menjadi salah satu peraih suara terbanyak. Ia bahkan tidak sempat mengikuti rapat presidium karena sudah terlanjur memiliki tiket perjalanan ke luar negeri.

"Saya maunya tetap bisa riset dan jalan-jalan," katanya lagi.

Di balik candaan tersebut, tersimpan filosofi sederhana yang selama ini ia pegang: ilmu pengetahuan harus dibangun melalui kolaborasi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baginya, menemukan spesies baru memang penting. Namun membangun jejaring ilmiah dan melahirkan peneliti muda baru jauh lebih penting daripada sekadar menambah daftar publikasi.