KETIK, BOGOR –  

Keunggulan cabai habanero hasil pemuliaan IPB University tidak hanya terletak pada tingkat kepedasannya. Varietas baru tersebut juga dirancang agar mampu tumbuh optimal di iklim tropis Indonesia sehingga berpotensi memperkuat industri cabai nasional hingga pasar ekspor.

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur, menjelaskan bahwa cabai habanero impor selama ini memiliki kemampuan adaptasi yang relatif rendah terhadap kondisi lingkungan Indonesia. Karena itu, tim peneliti mengembangkan varietas yang lebih sesuai dengan karakter iklim tropis sekaligus tahan terhadap penyakit keriting kuning.

Benih empat varietas habanero tersebut kini telah didiseminasikan melalui Benih Dramaga sehingga dapat diakses petani secara lebih luas.

Menurut Prof Syukur, peluang pemanfaatannya juga cukup besar. Di pasar domestik, cabai dengan tingkat kepedasan tinggi dibutuhkan industri karena penggunaan bahan bakunya lebih efisien dibandingkan cabai biasa.

Baca Juga:
IPB Berhasil Rakit Cabai Habanero Lokal Pertama di Indonesia, Kepedasannya Tembus 1,3 Juta SHU

“Di dalam negeri kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat untuk mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, potensi besar juga untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membuat hot pack yang digunakan saat musim dingin,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan varietas baru tersebut dapat membuka pasar baru bagi petani sekaligus meningkatkan daya saing komoditas hortikultura Indonesia di tingkat internasional.

Empat varietas habanero ini sebelumnya juga mencatat sejarah sebagai varietas habanero lokal pertama Indonesia yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian dan memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman.

Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Prof Syukur mengungkapkan proses pemuliaan berlangsung sejak 2020 dan membutuhkan dukungan pendanaan, rumah kaca, sumber daya manusia, hingga peralatan laboratorium yang tidak sedikit. (*)

Baca Juga:
Kepala BPOM RI Cek Langsung Proses Produksi Pocari dan Soyjoy di Pasuruan