KETIK, BOGOR – Setelah melalui proses yang berliku, ahli pemuliaan tanaman yang juga Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur, berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia. Keempatnya yaitu Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.
Dengan demikian, cabai habanero yang dikenal sebagai salah satu cabai paling pedas di dunia kini resmi memiliki varietas lokal Indonesia. Keempat varietas cabai habanero hasil pemuliaan IPB itu kini juga telah terdaftar di Kementerian Pertanian RI sekaligus memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
Kehadiran varietas ini menjadi tonggak penting karena merupakan cabai habanero lokal pertama yang memperoleh perlindungan varietas di Indonesia.
“Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” ujar Prof Syukur, Rabu, 15 Juli 2026.
Salah satu daya tarik utama cabai tersebut terletak pada tingkat kepedasannya. Berdasarkan pengukuran menggunakan Scoville Heat Units (SHU), Tabia Sala 1 IPB memiliki tingkat kepedasan mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU atau sekitar lima kali lebih pedas dibandingkan cabai rawit pada umumnya.
Sementara itu, Margi 2 IPB memiliki warna peach dengan tingkat kepedasan sekitar 350 ribu hingga 500 ribu SHU. Tabia Sala Oranye IPB dan Tabia Sala Kuning IPB juga berada pada kisaran kepedasan yang sama, tetapi masing-masing menawarkan karakter warna buah yang berbeda.
“Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan ekstrem mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Margi 2 IPB memiliki warna peach dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Kuning IPB yang berwarna kuning juga memiliki tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU,” bebernya.
Selain menawarkan sensasi pedas ekstrem, keempat varietas tersebut juga dirancang agar mampu beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia dan memiliki ketahanan terhadap penyakit keriting kuning. Keunggulan tersebut membuka peluang pengembangan di tingkat petani hingga industri pengolahan pangan.
Di balik keberhasilan itu terdapat proses penelitian yang tidak singkat. Prof Syukur mengungkapkan timnya mengembangkan varietas tersebut selama sekitar enam tahun dengan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pendanaan hingga kebutuhan fasilitas penelitian yang memadai. (*)
.png)