Deklarasi Sabhyanadipala, Komitmen Bersama Merawat dan Memulihkan Kehidupan

Kolaborasi Pemerhati Sungai, Sejarah dan Budaya Tuban

24 Agustus 2026 21:43 24 Agt 2026 21:43

Ahmad Istihar, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Deklarasi Sabhyanadipala, Komitmen Bersama Merawat dan Memulihkan Kehidupan

Tim Sabhyanadipala saat deklarasi di bantaran Bengawan Solo di Kecamatan Rengel dan Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Senin 24 Agustus 2026 (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)

KETIK, TUBAN – Deklarasi Sabhyanadipala menjadi awal gerakan bersama masyarakat Tuban, khususnya yang berada di bantaran Bengawan Solo untuk siap sedia menjaga, merawat dan memulihkan kehidupan. Sabhyanadipala mejadi wadah besar pemerhati lingkungan, sejarah dan budaya di Tuban.

Dihelat di dua titik pada Minggu, 23 Agustus 2026, deklarasi tersebut dihadiri semua elemen masyarakat, anggota DPRD Tuban, Forkopimda, Forkopimcam, Polsek Plumpang, Kodim 0811 Tuban, Kompilasi Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir hingga pemerhati sejarah dan budaya dari luar kota seperti Gresik, Nganjuk, Sidoarjo, Bojonegoro, Tulungagung, bahkan Magelang. 

BDPB Tuban hadir dengan mendukung pengawalan di air saat tim Ngintir atau pengarungan Sungai Bengawan Solodari dermaga I rasyi Ngadirejo, Rengel hingga dermaga Kebomlati, Plumpang bersama Basarnas Surabaya. Camat Rengel, Eko Wardono didapuk sebagai pemegang kendali pemberangkatan dari Ngadirejo didampingi Kepala Desa (Kades) Ngadirejo, Gatot Srikuntolo. 

Pemberangkatan diawali dengan ritual khusus di pelataran Prasasti Canggu dan dilanjutkan dengan kirab menuju dermaga I rasyi sejauh 400 meter dengan iringan Piweling, pesan atau amanat khusus yang dituturkan Ki Ompong Soedharsono, serta Pandito Dungo dan Tari Sufi.

Sementara itu, angagota DPRD Tuban, Tia Antika Prmaseti, bersama Camat Plumpang, Saefiyudin dan Ketua Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir, Atekan Andriono sebagai Pasrah Tinampi atau pemberi mandat tugas kepada pengurus Sabhyanadipala.

Perjalanan tim Sabhyanadipala menuju Lokasi deklarasi melalui perjalanan air menggunakan tiga perahu motor dengan kawalan BPBG Tuban dan Basarnas Surabaya menempuh jarak 15 kilometer dengan waktu kurang lebih 1 jam.

Sesampainya di dermaga Kebimlati, tim disambut langsung oleh lebih kurang 600 orang warga desa, Ketua Pelaksana Deklarasi, Syaiful Amin dan Penanggunhjawab Deklarasi, Moenijan yang juga Kades Kebomlati.

Dalam sambutannya, Penanggunhjawab Deklarasi, Moenijan menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah memberi dukungan sejak awal hingga terlaksanakanya deklarasi. Meski persiapan pendek, kegiatan dilaksanakan semaksimal mungkin.

“Kami berterima kasih atas dukungan yang diberikan dari awal hingga hari ini. Kami tidak menyangka antusias masyarakat, pemerintah daerah, komunitas, pemerhati lingkungan, sejarah dan budaya yang berkenan tumpel blek hari ini," ujarnya, Minggu, 23 Agustus 2026 di hadapan para undangan dan masyarakat yang hadir.

"Menjadi satu kebanggan bagi kami bisa menggelar deklarasi. Selain itu, meski persiapan yang pendek, kami berusaha menggelar kegiatan ini dengan baik. Kami yakin pasti ada kekurangannya, dan mohon berkenan memakluminya,” sambungnya.

Gelaran yang bersentuhan langsung dengan Sungai Bengawan Solo kali ini menjadi kegiatan kedua yang digelar di Kebomlati. Sebelumnya Tim Misi Ekspedisi Bengawan Solo (MEBS) 2022 pernah singgah dan melakukan sarasehan lingkungan serta bedah sejarah. 

Terkait dengan deklarasi dan Bengawan Solo, Camat Plumpang, Saefiyudin menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan deklarasi dan komunitas yang secara rutin menggelar kegiatan. Menurutnya hal tersebut sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

"Kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan komunitas, yang secara istiqomah setiap tahun menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Ini adalah bentuk perwujudan kita menjaga sungai Bengawan Solo," kata Camat dalam sambutannya saat deklarasi.

Ia menuturkan, jika semua peradaban dunia diawali dari sungai. Kehidupan dimulai dari sungai tersebut. Dan manfaat banyak diambil dari sungai. Kewajiban masyarkat adalah menjada secara bersama-sama.

“Peradaban dunia ini selalu diawali disekitaran sungai. Baik yang di Amerika dengan Sungai Amazon, di timur Tengan ada Sungai Eufrat dan Tigris, India ada Sungai Gangga , Mesir ada Sungai Nil. Semua peradaban akan selalu diawali dari sungai. Kenapa demikian? Karena kehidupan dimulai dari sungai tersebut. Banyak manfaat yang diambil dri sungai," tuturnya.

"Oleh karena itu, kalau kita tidak sama-sama saling menjaga, khawatirnya seperti yang terjadi dibeberapa belahan dunia tersebut. Sungai banyak mengalami kekeringan. Bahkan sudah ditemukan reruntuhan jaman peradaban terdahulu,” lanjut Camat Plumlanv.

Ia menambahkan, sebelum adanya bendungan Gerak di Babat, air hanya lewat dan dimanfaatkan sebentar saja. Sekarang dengan adanya bendungan, masyarakat bisa memanfaatkan untuk pertanian khususnya.

"Plumpang menjadi salah satu kecamatan yang mendapatkan berkah. Satu kewajiban yang wajib ditularkan yakni kewjiban bersama menjaga Bengawan Solo, karena kita di sini sering mengalami banjir,” terangnha.

"Mudah-mudahan teman-teman Kepada Desa (Kades) yang berada di Rengel sampai di Widang bisa menyelenggarakan kegiatan ini, yang mempunyai manfaat sangat besar. Kita mempunyai tanggungjawab terhadap peradaban di wilayah sungai dan juga konservasi yang ada di wilayah Kecamatan Plumpang dan di Kabupaten Tuban pada khususnya,” pungkasnya.

Senada dengan itu, Ketua Kompilasi Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir, Atekan Andriono, menuturkan, jika hadirnya Sabhyanadipala akan menjadi kolaborasi baru sebagai komunitas pemerhati sungai di wilayah hilir. Ini akan melengkapi kekuatan di hilir.

“Kami ikut berbahagia atas terbentuknya Sabhyanadipala di Tuban. Ini akan menjadi kekuatan baru dalam hal pemerhati Bengawan Solo. Kekuatan di hilir akan bertambah dengan kolaborasi dari Bojonegoro, saat ini Tuban dan berlanjut Lamongan hingga Gresik,” tuturnya.

Menurutnya, Bengawan Solo menjadi objek yang sangat untuk tetap dijaga. Bengawan Solo memiliki kapasitas besar yang terkait dengan kehidupan manusia. Dimana semua yang ada didalamnya terus bersentuhan dengan masyarakat. Ia berharap, semakin banyak muncul kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sungai.

Lebih lanjut, ia menegaskan untuk masyarakat bisa berkoordinasi dengan Sekber. Semua permasalahan yang ada tidak perlu didemo, namun bisa menyampaikan ke Sekber untuk ditindaklanjuti secara baik.

“Bengawan Solo itu sama seperti kita, sama hidup. Artinya apa saja yang dilakukan oleh manusia diatasnya, sungai juga akan bereaksi. Bengawan Solo menjadi obyek vital yang perlu dijaga bersama-sama, bekerja bersama antara masyarakat, komunitas dan pemerintah," terangnya.

"Semakin banyak muncul komunitas dengan perhatian yang besar akan berdampak kepada kelangsungan sungai itu sendiri dan masyarakat. Komunitas tidak perlu untuk melakukan aksi yang berlebihan saat terjadi polemik, bahkan menggelar demo. Cukup sampaikan ke kami, dan kami akan menuntaskan,” tambah pria kharismatik yang akrab disapa Pak Yosi ini.

Menurutnya, gerakan menjaga sungai sesuai dengan konsep dasar yang dijalankan oleh Konferensi Sungai Indonesia 202 dibawah Kementrian Lingkungan Hidup, yakni mendukung Taubatan Ekologis. Selain itu, merawat sungai merupakan langkah konkrit untuk menjaga dan memulihkan kehidupan.

“Gerakan menjaga lingkungan dalam hal ini sungai, sesuai hasil Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026. KSI menghasilkan Konsorsium Sungai Indonesia yang bertekad mendukung program Taubatan Ekologis yang dicanangkan Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Menjaga sungai bukan hanya slogan, namun kita mempunyai tugas untuk Merawat Sungai dan Memulihkan Kehidupan. Ini merupakan agenda Pembangunan yang wajib kita lakukan bersama,” pungkasnya

Perjalanan Sabhyanadipala di Tuban juga mendapatkan dukungan dan atensi dari anggota DPRD Tuban sejak awal pembentukan hingga deklarasi.

Anggota DPRD Tuban, Tia Antika Pramesti mengucapkan selamat untuk masyarakat Tuban, khususnya yang tinggal di bantaran Bengawan Solo atas deklasrasi Sabhyanadipala di Kebomlati yang telah dihelat dengan dihadiri semua elemen masyarakat, pegiat lingkungan dan sejarah.

“Saya mengucapkan selamat yang mendalam untuk masyarakat Tuban yang tinggal di bantaran Bengawan Solo atas terbentuknya Sabhyanadipala. Ini bukan untuk masyarakat yang tinggal di bantaran saja, namun untuk semua masyarakat di Tuban. Bengawan Solo adalah milik kita semua yang wajib kita perhatikan dan jaga,” ujarnya

Menurutnya, hal tersebut menjadi langkah berani dan penuh dedikasi dari masyarakat untuk penjagaan ekologi, sejarah dan budaya. Sabhyanadipala akan menjadi wadah bersama untuk untuk semakin melestarikan secara massif.

“Ini menjadi gerakan untuk alam yang masif dari masyarakat untuk masyarakat. Tidak hanya pemerhati sungai dengan semua problematikanya, namun lebih luas yakni dengan melibatkan tokoh sejarah dan budaya yang akan bersinergi secara luas dalam pelestarian sejarah dan budaya Bengawan Solo yang sudah terjadi ratusan tahun,” pungkasnya.

Sabyanadipala, yang dimaknai sebagai Penjaga Peradaban Sungai, hadir sebagai komunitas yang berkomitmen membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga Bengawan Solo sebagai sumber kehidupan sekaligus warisan peradaban.

Deklarasi di Tuban menjadi momentum awal untuk memperkenalkan gerakan tersebut kepada masyarakat serta mengajak berbagai elemen untuk bersama-sama merawat Bengawan Solo.

Kegiatan dikemas dalam rangkaian kegiatan lingkungan dan budaya, yakni Deklarasi Sabyanadipala, Ngintir Bengawan Solo, Tukon Banyu Nggawan, Wayang Blang Bleng bersama Ki Ompong Sudharsono, serta Pagelaran Budaya lainnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Bengawan solo Bwws Solo Politik dan pemerintahan