Mahasiswa ITS Ciptakan Turbin Hybrid untuk Usir Hama, Tembus Top 6 Kompetisi AS

6 Mei 2026 14:40 6 Mei 2026 14:40

Gracio Pardomuan, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mahasiswa ITS Ciptakan Turbin Hybrid untuk Usir Hama, Tembus Top 6 Kompetisi AS

Turbin angin modular Terangin, rancangan tim mahasiswa ITS, yang telah berhasil terpasang di lahan pertanian. (Foto: Humas ITS)

KETIK, SURABAYA – Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi internasional lewat inovasi energi terbarukan karya mahasiswanya. Melalui startup bernama Terang dan Angin (Terangin), tim mahasiswa ITS berhasil masuk jajaran Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026 di San Diego University, Amerika Serikat.

Inovasi tersebut berupa turbin angin modular berbasis energi hybrid angin dan surya yang dirancang untuk membantu petani mengendalikan hama sekaligus mengurangi penggunaan pestisida.

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif, mengatakan ide itu berawal dari riset kompetisi yang terinspirasi potensi angin di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

“Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan PT sebagai legalitas,” ujarnya mengutip laman resmi ITS.

Berbeda dari turbin konvensional, Terangin menggunakan sistem microgrid yang memanfaatkan energi angin dan panel surya untuk menyalakan lampu jebakan hama secara otomatis. Sistem tersebut dibuat sederhana agar mudah digunakan petani tanpa teknologi rumit.

Tim juga menghadirkan pondasi modular non permanen yang diklaim mampu memangkas biaya hingga delapan kali lebih murah dibanding pondasi beton. Desain itu memungkinkan turbin dibongkar pasang sehingga cocok digunakan di lahan sewa maupun berpindah lokasi.

Selain itu, Terangin dibekali sistem rem otomatis bernama “remin” yang bekerja tanpa listrik maupun sensor. Mekanisme ini memanfaatkan dorongan angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri.

“Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibanding sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” kata Hanif.

Untuk proses perawatan, tim memanfaatkan teknologi drone guna memantau kondisi turbin dari jarak jauh. Dengan sistem tersebut, potensi kerusakan dapat dideteksi lebih awal tanpa harus membongkar struktur.

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS angkatan 2024 itu menjelaskan sistem Terangin mampu menghasilkan energi sekitar 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya digunakan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi hingga sprinkler tanaman.

Menurut Hanif, penggunaan teknologi tersebut mampu menekan risiko gagal panen akibat hama yang sebelumnya mencapai sekitar 50 persen. Di sisi lain, pengurangan pestisida dinilai turut menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen.

“Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen,” jelasnya.

Dalam pengembangannya, Hanif bekerja bersama empat anggota inti lintas disiplin, yakni Rafi Pradana dan Rafi S Lamikan dari Teknik Mesin, Diah Ayu NurFadillah dari Statistika, serta Anindya Khoirunnisya dari Manajemen Bisnis.

Berkat inovasi tersebut, Terangin berhasil meraih hadiah sebesar 3.000 dolar AS dalam ajang Fowler Global Innovation Challenge 2026 yang digelar di Amerika Serikat pada Sabtu 2 Mei 2026 lalu.

Tak hanya berhenti sebagai proyek kompetisi, Terangin kini berkembang menjadi startup yang menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah melalui penjualan produk maupun hibah pengembangan inovasi.

“Kami berharap inovasi ini dapat menjangkau lebih luas hingga tingkat internasional,” tutup Hanif. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kampus Its San Diego University inovasi teknologi Affordable Clean Energy Responsible Consumption pertanian modern Renewable Energy S D Gs