Tragedi Bocah SD Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Menteri Arifah Fauzi Akui Kelalaian Negara

Editor: Muhammad Faizin

6 Feb 2026 09:05

Headline

Thumbnail Tragedi Bocah SD Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Menteri Arifah Fauzi Akui Kelalaian Negara
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (tengah) bersama ponakannya ( kanan ) saat di Madura (Foto: Dok Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengakui adanya kelalaian negara dalam kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa tersebut menjadi cerminan bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih belum berjalan secara utuh dan menyeluruh.

Kasus ini mencuat setelah seorang siswa SD berinisial YBR (10), yang duduk di kelas IV, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kamis, 29 Januari 2026. Dugaan sementara, korban mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga, khususnya ketidakmampuan untuk membeli buku dan alat tulis sekolah.

Di lokasi kejadian, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang ditujukan kepada ibu korban. Surat tersebut memperkuat dugaan bahwa persoalan ekonomi dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan pendidikan menjadi beban psikologis bagi anak tersebut.

YBR sebelumnya meminta kepada ibunya untuk dibelikan buku tulis dan alat tulis dengan nominal sekitar Rp 10 ribu. Namun, kondisi ekonomi sang ibu yang merupakan ibu tunggal tanpa suami dan dengan pekerjaan serabutan membuatnya tak mampu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sang anak.

Baca Juga:
Kasus Bunuh Diri di Malang Kembali Marak, Psikolog Beber Faktor Internal dan Eksternal

Menanggapi tragedi itu, Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyebut peristiwa tersebut menjadi pengingat keras bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan. “Peristiwa ini mengingatkan kita semua bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya bisa kita penuhi,” ujar Arifah pada Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut Arifah, peristiwa tragis tersebut tidak dapat dilihat dari satu penyebab tunggal. Ia menegaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan dan memperparah kondisi psikologis korban. “Kami melihat ini bukan satu faktor saja. Banyak faktor pendukung di belakangnya sehingga anak melakukan hal yang di luar dugaan,” tutur menteri yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU itu.

Hasil penelusuran Kementerian PPPA di lapangan menunjukkan bahwa keluarga YBR termasuk dalam kategori keluarga tidak mampu. Kondisi ini, menurut Arifah, seharusnya menjadi perhatian serius negara agar pelayanan dasar, terutama pendidikan dan perlindungan sosial, benar-benar menjangkau kelompok paling rentan.

“Keluarga ini bisa dikatakan keluarga yang tidak mampu. Ini menjadi perhatian kita bersama, bagaimana seluruh stakeholder memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang memang seharusnya mendapatkan kesempatan dan pelayanan dari pemerintah,” ujarnya.

Baca Juga:
Diduga Sengaja Jatuhkan Diri dari Apartemen Soehat Malang, Mahasiswa PTN Asal Jakarta Ditemukan Meninggal

Lebih lanjut, Arifah menekankan bahwa kasus ini harus menjadi momentum evaluasi bersama, baik di tingkat pusat maupun daerah. Ia mengajak seluruh pihak untuk melakukan introspeksi agar sistem perlindungan anak dapat diperkuat secara nyata dan berkelanjutan. “Ini menjadi introspeksi kita bersama agar bisa saling menguatkan dan memberikan dukungan nyata kepada masyarakat,” pungkasnya.

Tragedi yang menimpa YBR memicu sorotan dan keprihatinan yang luas. Bahwa di pelosok negeri masih banyak anak-anak yang belum bisa mendapatkan hak dasarnya untuk memperoleh akses pendidikan yang layak. Pada saat yang sama, Indonesia juga akan menyumbang iuran sebesar Rp 17 Triliun kepada Amerika Serikat guna keanggotaan Board of Peace (BoP) yang dinilai hanya menguntungkan Israel di Gaza. (*)

Baca Sebelumnya

Wali Kota Dedy Lepas Ekspor Perdana 2 Kontainer Sepatu ke Spanyol, dari Tegal Siap Merajai Pasar Eropa

Baca Selanjutnya

Lagi, KPK Tangkap Tangan Hakim Terima Suap

Tags:

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi anak sd bunuh diri karena tak mampu beli buku anak SD di Ngada NTT Ngada ntt kelalaian negara akhiri hidup

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Kembangkan Teknologi RFID Tanpa Baterai untuk Pertanian Cerdas, Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang

16 April 2026 08:00

Kembangkan Teknologi RFID Tanpa Baterai untuk Pertanian Cerdas, Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang

Penugasan Agrinas via Inpres Disorot, Akademisi Nilai Berpotensi Langgar Prinsip Pasal 33 UUD 1945

16 April 2026 06:58

Penugasan Agrinas via Inpres Disorot, Akademisi Nilai Berpotensi Langgar Prinsip Pasal 33 UUD 1945

Penugasan Agrinas Kelola Koperasi Merah Putih Tuai Sorotan, Potensi Langgar Konstitusi dan Aturan Lain

16 April 2026 05:50

Penugasan Agrinas Kelola Koperasi Merah Putih Tuai Sorotan, Potensi Langgar Konstitusi dan Aturan Lain

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

15 April 2026 08:50

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

15 April 2026 08:07

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

15 April 2026 05:41

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H