KETIK, SURABAYA – Ketertarikan terhadap film membawa Dimas Ramadhiansyah untuk mendalami kajian dan kritik film. Alumni Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) tersebut melihat film bukan hanya sebagai tontonan untuk hiburan, tetapi juga sebagai produk budaya yang dapat menggambarkan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Ketertarikan Dimas terhadap film mulai berkembang ketika dirinya menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi. Selama kuliah, ia banyak bersinggungan dengan kajian media, komunikasi, budaya populer, hingga persoalan representasi yang kemudian membentuk caranya dalam membaca sebuah film.
“Saya melihat film bukan hanya sebagai sesuatu yang ditonton. Di dalamnya ada cara masyarakat melihat dirinya sendiri, ada nilai, representasi, bahkan persoalan sosial yang bisa kita baca. Karena itu, saya tertarik melihat film tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai objek kajian,” ujar Dimas.
Menurut Dimas, kritik film juga tidak sebatas menentukan apakah sebuah film bagus atau tidak. Melalui kritik, sebuah film dapat dibaca lebih jauh, mulai dari cara cerita dibangun, karakter ditampilkan, isu yang diangkat, hingga bagaimana pesan dalam film berkomunikasi dengan penontonnya.
Perkembangan media digital turut membuat ruang bagi kritik film semakin luas. Masyarakat kini dapat membagikan pandangan dan berdiskusi mengenai film melalui media sosial, platform digital, maupun komunitas film. Hal tersebut membuat pembicaraan mengenai film tidak lagi terbatas pada media massa atau lingkungan akademik.
“Ketika sebuah film masih dibicarakan, diperdebatkan, dan dikaji, berarti film itu masih memiliki kehidupan di ruang publik. Kritik bagi saya bukan akhir dari sebuah film, tetapi bagian dari perjalanan film itu sendiri,” ujar Dimas.
Perjalanan Dimas dalam dunia kritik film juga membawanya mengikuti berbagai ruang penulisan, salah satunya melalui Festival Film Indonesia (FFI). Karya kritik film yang ditulisnya berhasil masuk shortlist hingga mencapai tahap nominasi.
Pengalaman tersebut semakin memperluas keterlibatannya dalam ekosistem perfilman Indonesia. Selain film, Dimas juga memiliki ketertarikan pada isu media, budaya populer, gender, dan fandom. Ia aktif mengikuti berbagai diskusi mengenai film dan budaya populer, baik dalam ruang akademik maupun forum publik.
Saat ini, Dimas menjadi asisten dosen di Departemen Komunikasi Universitas Airlangga. Ia juga aktif dalam kegiatan akademik dan pengembangan kajian komunikasi, khususnya yang berkaitan dengan media digital, budaya populer, film, dan masyarakat.(*)
