KETIK, SURABAYA – Permintaan produk hewani khususnya unggas, seperti ayam terus tumbuh. Namun, tingginya permintaan itu tidak sejalan dengan rangkaian jalur distribusi yang rumit dan mahal.
Alhasil dengan jalur yang cukup rumit dan mahal, ada kalanya keinginan masyarakat untuk menikmati ayam tidak bisa dilakukan. Melihat hal tersebut, salah atau pelaku industri ini, PT Ladang Pangan Indonesia membawa cara baru.
Perusahaan penyedia rantai pasok pangan itu selama dua tahun perjalanannya tidak sekadar mencari keuntungan, melainkan mengusung misi sosial, memastikan seluruh masyarakat bisa menikmati ayam dengan mudah dan terjangkau.
"Tidak semua orang itu bisa makan ayam, entah karena harganya mahal atau karena keterbatasan pasokan. Kami punya value supaya semua orang bisa makan ayam," kata Direktur PT Ladang Pangan Indonesia, Lukman I Marpaung, Sabtu, 7 November 2026.
Cara yang dilakukan Ladang Pangan Indonesia agar konsumen mendapatkan ayam dengan mudah, melalui membangun ekosistem digital (marketplace) yang memangkas jalur distribusi. Sehingga konsumen dengan mudah membelinya.
Pihaknya menjelaskan, konsumen cukup melakukan tiga langkah, pilih, bayar dan sampai. Model bisnis langsung dari peternak (direct to customer) ini menjadikan rantai pasok lebih efisien tanpa perantara yang panjang.
"Kami tidak hanya menyasar pasar ritel, hotel, restoran, kafe, hingga korporasi B2B besar. Bahkan untuk mendukung efisiensi industri makanan, mereka turut memproduksi Mechanically Deboned Meat (MDM) sebagai bahan baku olahan seperti pentol," tuturnya.
Komisaris PT Ladang Pangan Indonesia, Haidar Ali menambahkan, target selanjutnya bakal bersiap merilis produk ready-to-cook. Sehingga aspek kepraktisan bagi konsumen semakin maksimal.
"Misi kami menjadi jembatan percepatan untuk semua kalangan dalam mendapatkan produk berkualitas, praktis, dan harga yang kompetitif," tutupnya. (*)
