Sambut Delegasi Se-Nusantara, Khofifah Sebut Munas-Konbes NU 2026 Jadi Forum Strategis Solusi Umat

22 Juni 2026 17:03 22 Jun 2026 17:03

Simon Naldi E., Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Sambut Delegasi Se-Nusantara, Khofifah Sebut Munas-Konbes NU 2026 Jadi Forum Strategis Solusi Umat

Mewakili Jatim, Khofifah menyambut hangat delegasi Munas-Konbes NU 2026 di Ponpes Al Falah Ploso. Ia menegaskan, forum ini strategis merumuskan solusi umat sekaligus memperkuat peran pesantren menjaga nilai kebangsaan.( Foto : Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, tampak istimewa dengan kehadiran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pada Sabtu, 20 juni 2026 malam.

Suara kentongan yang ditabuh sembilan kali oleh Rais Aam PBNU menggema di ruangan, menandai dibukanya gelaran akbar tersebut. Di atas panggung, ia didampingi oleh jajaran tokoh penting, mulai dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen, Khatib Aam, Gubernur Khofifah, hingga perwakilan tuan rumah, Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan perlunya lompatan strategis dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Langkah besar ini dinilai krusial agar NU mampu menjawab tantangan peradaban yang kian kompleks dalam menjalankan khidmat kepada umat.

Menatap tantangan masa kini dan masa depan, menurutnya ada tiga pilar kebutuhan mendesak yang harus segera diperkokoh oleh internal jam’iyah NU.

Pertama, membangkitkan dhamir ijtima’i atau kesadaran sosial. Jam'iyah NU dituntut hadir di tengah umat melalui berbagai langkah konkret yang menyentuh langsung urat nadi kehidupan masyarakat.

Kedua, mengawal opini publik berbasis moral. Dengan fondasi nilai yang kuat, opini ini diharapkan mampu menjelma menjadi kontrol sosial yang sehat dalam menjaga ritme kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, menempa kualitas kepemimpinan yang bernapaskan semangat jihad dan ijtihad. Karakter pemimpin seperti inilah yang dinilai mampu melahirkan solusi cerdas atas berbagai sengkarut persoalan kontemporer yang tengah dihadapi umat, bangsa, dan negara.

“Jam’iyah kita yang terorganisasi ini, demi menghadapi tuntutan masa kini dan masa depan, berada dalam kondisi sangat membutuhkan tiga hal penting,” ujar KH Miftachul Akhyar.

Rais Aam menegaskan, kepemimpinan NU wajib ditopang oleh empat pilar utama: kesungguhan juang, keluasan ilmu, kecerdasan, dan ketajaman eksekusi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan kontemporer umat.

Menelisik makna Jihad dan Ijtihad, Kiai Miftach mendeskripsikan jihad sebagai pengerahan segala daya dan puncak kesungguhan untuk menggapai rida tertinggi. Capaian terbesar dari jihad ini adalah lahirnya ketaatan kepada Allah, ketundukan pada syariat-Nya, serta berserah diri sepenuhnya pada perintah-perintah-Nya.

“Hal tersebut membutuhkan perjuangan (jihad) yang panjang lagi berat dalam melawan segala hal yang merongrong ketaatan tersebut," ujarnya.  

Mengenai ijtihad, Kiai Miftach mengingatkan bahwa memimpin jam'iyah sebesar NU membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi. Intelektualitas yang mumpuni menjadi syarat mutlak bagi sang nakhoda.

“Ijtihad artinya orang yang memimpin organisasi atau jam'iyah yang diberkahi ini harus memiliki kemampuan untuk memberikan keputusan atau solusi yang tepat terhadap masalah-masalah kontemporer. Ia juga harus memiliki kecerdasan, aktivitas, kesungguhan, serta keluasan ilmu yang mumpuni dan layak untuk posisi tersebut," tambah Kiai Miftach.

Senada dengan pesan mendalam tersebut, Gubernur Khofifah menilai arahan dari Rais Aam bukan sekadar pidato biasa, melainkan cetak biru (blueprint) penting. Bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama, arahan ini menjadi pemandu langkah untuk memperkuat jangkar organisasi di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Bagi Khofifah, ada dialog yang indah antara tema Munas-Konbes kali ini, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa,” dengan kegelisahan Rais Aam. Keduanya sama-sama bermuara pada satu kesimpulan besar: NU hari ini harus memperkokoh kesadaran sosial, menjaga kompas moral publik, dan menaikkan kelas kualitas kepemimpinannya.

“Pesan yang disampaikan Rais Aam menjadi pengingat bahwa menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas dan moralitas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang semakin nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Khofifah.

Selaku Ketua PBNU, Gubernur Khofifah menyebut Munas-Konbes NU sebagai forum strategis yang memikul dua misi besar: merumuskan pandangan keagamaan yang adaptif dan menghadirkan solusi konkret bagi persoalan umat, bangsa, serta negara.

Lewat forum ini, ia optimistis keputusan yang lahir akan memperkokoh peran nyata NU di masyarakat: memperkuat kemaslahatan sosial, merekatkan persaudaraan, dan menjawab tuntas berbagai tantangan kontemporer yang dihadapi umat.

“Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian musyawarah dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah,” ujarnya.

Menyadari potensi Jawa Timur sebagai basis ribuan pesantren, Khofifah menekankan pentingnya sinergi strategis dengan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, pesantren kini punya tanggung jawab baru yang lebih luas: tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga bertransformasi menjadi pilar penguatan ekonomi umat dan pengawal nilai-nilai kebangsaan.

“Kami meyakini pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial sebagaimana yang menjadi pesan utama Rais Aam,” tegasnya.

Khofifah juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada PBNU, keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso, serta para kiai. Apresiasi tinggi pun ia sematkan bagi para santri, relawan, dan seluruh panitia yang telah bekerja keras di balik layar demi menyukseskan gelaran akbar Munas dan Konbes NU 2026 ini.

Bertindak atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Khofifah secara resmi menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh delegasi dari berbagai penjuru tanah air. Kehadiran para peserta dari berbagai daerah ini dinilai menjadi simbol kuatnya rajutan silaturahmi nasional di Jawa Timur.

“Ahlan wa sahlan kepada seluruh peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Jawa Timur. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, penuh hikmah, dan membawa keberkahan serta kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” ucapnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

nahdlatul ulama PBNU Munas Alim Ulama Khofifah Indar Parawansa Jawa timur Munas-konbes Nu Konbes Nu 2026