Industri Makanan dan Minuman Jatim Tumbuh 11,6 Persen, PDRB Tembus Rp451 Triliun

15 Juni 2026 22:16 15 Jun 2026 22:16

Fitra Herdian, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Industri Makanan dan Minuman Jatim Tumbuh 11,6 Persen, PDRB Tembus Rp451 Triliun

Konferensi pers pameran East Food Indonesia Expo dan All Pack Surabaya di Grand City Surabaya, Senin, 15 Juni 2026. (Foto: Dokumentasi Krista Media)

KETIK, SURABAYA – Sektor industri makanan, minuman, dan tembakau kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menopang perekonomian Jawa Timur.

Tiga sektor tersebut tercatat menjadi kontributor terbesar industri pengolahan dengan porsi mencapai 31,45 persen, sekaligus menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi provinsi.

Di tengah tren pertumbuhan yang terus meningkat, Surabaya kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan East Food Indonesia Expo dan All Pack Surabaya 2026 yang berlangsung di Grand City Surabaya sepanjang Juni hingga Juli 2026.

Pameran tersebut menjadi ajang mempertemukan pelaku industri makanan, minuman, pengemasan, distributor, hingga konsumen dalam satu platform bisnis yang bertujuan memperkuat sektor pangan dan industri kemasan nasional.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan penyelenggaraan tahun ini diikuti oleh 180 peserta, termasuk 35 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Jawa Timur dan sejumlah daerah lainnya.

Menurutnya, pameran yang telah memasuki penyelenggaraan ke-16 itu tidak hanya menjadi sarana promosi produk, tetapi juga wadah memperluas jaringan bisnis dan memperkenalkan inovasi terbaru di sektor pangan dan pengemasan.

“Selain itu juga ada workshop bakery dan jajanan pasar tradisional,” ujar Daud D. Salim saat konferensi pers di Surabaya, Senin, 15 Juni 2026.

Ia menjelaskan, East Food Indonesia Expo dan All Pack Surabaya telah berkembang menjadi agenda tahunan yang mempertemukan produsen, distributor, pelaku usaha, hingga konsumen untuk mendorong pertumbuhan industri pangan dan pengemasan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Yudi Arianto, menyebut industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekonomi Jawa Timur.

Menurutnya, sepanjang 2026 ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5,96 persen atau berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan itu salah satunya ditopang oleh industri pengolahan yang berkontribusi sebesar 31,45 persen. Penggerak utamanya adalah sektor makanan, minuman, dan tembakau, disusul perdagangan serta pertanian,” ujar Yudi.

Ia menambahkan, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) industri makanan dan minuman di Jawa Timur kini telah mencapai Rp451 triliun.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian daerah. Bahkan sejak 2021, industri makanan dan minuman di Jawa Timur tumbuh rata-rata 11,6 persen per tahun.

Menurut Yudi, capaian tersebut menunjukkan bahwa industri makanan dan minuman masih memiliki prospek yang sangat besar, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Haryo Bimo Pramantyo, mengungkapkan bahwa sektor UMKM juga memiliki peran besar dalam perkembangan industri makanan dan minuman di Jawa Timur.

Data yang dimiliki pemerintah provinsi menunjukkan terdapat sekitar 14.586 pelaku usaha makanan dan minuman di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sekitar 99,9 persen merupakan usaha mikro.

Menurut Haryo, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di sektor pangan.

Selain sektor makanan dan minuman, industri pengemasan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan dunia usaha saat ini. Kemajuan teknologi mendorong transformasi besar dalam industri kemasan, mulai dari desain hingga proses produksi.

Business Development Indonesian Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti, mengatakan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri pengemasan.

Menurutnya, teknologi AI kini membantu pelaku UMKM maupun startup dalam menentukan desain kemasan, melakukan pengembangan produk, hingga meningkatkan efisiensi proses produksi. 

Ia menilai perkembangan teknologi tersebut membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing produk, terutama dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin kompetitif.

“Kompleks sekali hutan belantara packaging sebenarnya,” ujar Ariana.(*)

Tombol Google News

Tags:

Pameran Makanan Grand City Surabaya Daud Salim Berita Surabaya Info Surabaya Daud D Salim Yudi Arianto Haryo Bimo Pramantyo Ariana Susanti   Krista Exhibitions East Food Indonesia Expo All Pack Surabaya industri makanan Industri Minuman Industri Tembakau UMKM Jawa timur surabaya Pengemasan AI ekonomi Jawa Timur