Sekarang Dipajang di Halaman Museum Brawijaya Malang, Kendaraan Lapis Baja Ini Pernah Jadi Mimpi Buruk Pasukan TRIP

31 Juli 2026 17:46 31 Jul 2026 17:46

Thumbnail Sekarang Dipajang di Halaman Museum Brawijaya Malang, Kendaraan Lapis Baja Ini Pernah Jadi Mimpi Buruk Pasukan TRIP

LVT-4 milik Brigade Marinir Belanda yang menjadi momok pasukan TRIP dalam Agresi Militer I Belanda di Malang kini berada di halaman Museum Brawijaya Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Pengunjung Museum Brawijaya Malang akan disambut pelbagai koleksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) bersejarah. Salah satu yang paling mencolok adalah keberadaan sebuah kendaraan lapis baja amfibi berukuran besar yang dipajang di halaman museum.

Kendaraan tersebut adalah LVT-4 (Landing Vehicle Tracked) atau yang juga dikenal sebagai Water Buffalo, kendaraan tempur amfibi yang pernah digunakan pasukan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I di Malang pada Juli 1947.

Dalam upaya merebut Kota Malang, tentara Belanda mengerahkan Brigade Marinir yang diperkuat kendaraan amfibi LVT-4. Pasukan Belanda kemudian mendapat perlawanan sengit dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur, khususnya Brigade 17 Detasemen I.

Foto Keterangan yang menunjukkan sejarah kelam LVT-4 ini dalam pertempuran 31 Juli 1947 di Jalan Salak Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)Keterangan yang menunjukkan sejarah kelam LVT-4 ini dalam pertempuran 31 Juli 1947 di Jalan Salak Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Pertempuran berlangsung di kawasan Jalan Salak, yang kini menjadi Jalan Pahlawan TRIP. Meski hanya memiliki persenjataan sederhana dan sangat terbatas, pasukan TRIP tetap memberikan perlawanan terhadap tentara Belanda yang didukung kendaraan lapis baja dan persenjataan modern.

Pertempuran tersebut berakhir dengan gugurnya 35 anggota TRIP yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan TRIP.

Dalam berbagai catatan sejarah lokal, kendaraan amfibi ini menjadi salah satu momok bagi para pejuang. LVT-4 disebut-sebut sempat menabrak dan melindas sejumlah anggota TRIP yang tengah berkumpul saat pertempuran berlangsung.

Bukan Buatan Belanda

Meski identik dengan agresi militer Belanda di Indonesia, LVT-4 sebenarnya bukan kendaraan buatan Negeri Kincir Angin.

Kendaraan ini diproduksi di Amerika Serikat selama Perang Dunia II. Nama resminya adalah LVT-4 Buffalo, sedangkan julukan Water Buffalo diberikan karena kelincahannya bergerak di darat maupun di perairan.

LVT-4 menjadi salah satu kendaraan amfibi andalan Sekutu, terutama di Front Pasifik. Kemampuannya melintasi pantai dangkal, rawa hingga terumbu karang membuat kendaraan ini sangat efektif digunakan dalam operasi pendaratan pasukan.

Setelah Perang Dunia II berakhir, sebagian armada LVT-4 diserahkan kepada negara-negara sekutu, termasuk Belanda. Kendaraan inilah yang kemudian dibawa ke Indonesia dan digunakan dalam operasi militer pada masa revolusi kemerdekaan.

Foto Prasasti Pangdam V/Brawijaya, Sugeng Subroto, kala meresmikan LVT-4 Water Buffalo ini sebagai salah satu tetenger sejarah di Museum Brawijaya Malang pada 1998 Silam. (Foto: Dendy/Ketik.com)Prasasti Pangdam V/Brawijaya, Sugeng Subroto, kala meresmikan LVT-4 Water Buffalo ini sebagai salah satu tetenger sejarah di Museum Brawijaya Malang pada 1998 Silam. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Spesifikasi LVT-4 Buffalo

Berdasarkan data The Tank Museum, LVT-4 memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Nama: LVT-4 Buffalo (Landing Vehicle Tracked)
Negara pembuat: Amerika Serikat
Pengguna: Amerika Serikat dan negara-negara Sekutu, termasuk Belanda
Tahun produksi: Perang Dunia II
Jumlah produksi: sekitar 18.616 unit
Awak: 3 orang
Berat: 16,5 ton
Kecepatan di darat: sekitar 20 mph (32 km/jam)
Kecepatan di air: sekitar 7,5 mph (12 km/jam)
Ketebalan baja: hingga 13 mm
 

Tombol Google News

Tags:

L V T-4 agresi militer Belanda Museum Brawijaya Malang Pahlawan Trip Tentara Republik Indonesia Pelajar