KETIK, SLEMAN – Kabut tipis yang biasanya menyelimuti kawasan Tempel perlahan tersingkap oleh riuh langkah warga yang memadati Aula Kalurahan Mororejo. Rabu pagi, 6 Mei 2026, menjadi momen bersejarah dalam perayaan satu abad lebih berdirinya Kabupaten Sleman.
Di usia ke-110, kabupaten yang dikenal sebagai lumbung pangan Yogyakarta ini memilih cara bersahaja namun mendalam untuk merayakannya: membasuh dahaga sosial masyarakat melalui aliran bantuan nyata.
Peringatan hari jadi kali ini tidak diletakkan di atas panggung megah, melainkan diturunkan ke lantai balai desa, menyapa langsung tangan-tangan warga yang selama ini menjadi detak nadi pembangunan di Sleman.
Spirit Nggendong Mikul
Kehadiran Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, memberikan warna tersendiri bagi jalannya acara.
Dalam orasinya, ia membangkitkan kembali semangat gotong royong melalui tema Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman.
Frasa ini bukan sekadar penghias spanduk, melainkan manifesto tentang bagaimana pemerintah dan rakyat harus berbagi beban dalam satu tarikan napas pembangunan.
Menurut Danang, nggendong mikul adalah representasi sikap saling menopang agar tidak ada satu pun warga Sleman yang merasa berjalan sendirian dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis.
"Kabupaten Sleman setiap bulan Mei selalu memperingati hari jadi. Tahun ini kita mengambil tema Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman, yang artinya kita hari ini diharapkan untuk saling bergandeng tangan dan berangkulan bersama membangun daerah. Pemerintah Daerah menyadari jika tidak bekerjasama dengan masyarakat, tentu semua program tidak akan berjalan dengan baik," ujar Danang Maharsa di depan warga masyarakat penerima bantuan.
Wabup Sleman Danang Maharsa memberikan sambutan dalam acara Baksos Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman di Aula Kalurahan Mororejo, Tempel, Rabu 6 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan dengan tema Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari megahnya gedung pemerintahan, melainkan dari seberapa jauh kebijakan mampu menyentuh dapur rakyat.
Momentum hari jadi ke-110 ini menjadi ruang bagi pemerintah untuk mengucapkan terima kasih secara langsung melalui paket sembako dan bantuan sosial lainnya.
Hal ini merupakan bentuk syukur atas kepercayaan rakyat yang tetap teguh bersama pemerintah dalam membangun daerah hingga mencapai usia yang matang.
Aksi Nyata Pemkab Sleman
Narasi kebaikan dalam bakti sosial ini merujuk pada data bantuan yang komprehensif. Koordinator Panitia Bansos, Rin Anjani, memaparkan bahwa distribusi bantuan dilakukan secara merata di tujuh belas kapanewon.
Di Kalurahan Mororejo, bantuan yang disalurkan mencakup paket sembako, santunan anak yatim, hingga bantuan stimulan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Selain itu, aspek kesehatan lingkungan menjadi perhatian utama melalui pemberian bantuan pipa air bersih. Langkah ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman memahami bahwa kemakmuran harus dimulai dari hunian yang sehat dan akses sanitasi memadai.
"Alhamdulillah, pada giat pagi hari ini kami menyerahkan bantuan sosial secara simbolis kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan peringatan hari jadi kali ini memang difokuskan pada pemberian paket sembako, santunan anak yatim, hingga bantuan stimulan rumah tidak layak huni yang diberikan secara merata di seluruh Kapanewon di Kabupaten Sleman," ungkap Rin Anjani dalam laporannya.
Rin menambahkan bahwa setiap bantuan telah melalui proses verifikasi agar tepat sasaran. Kehadiran jajaran pejabat teras seperti Sekda Kabupaten Sleman Susmiarto, Asisten Perekonomian Pembangunan Ma'wan, hingga Asisten Administrasi Umum Dwi Anta Sudibyo,
yang juga Ketua Umum Panitia Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, menunjukkan bahwa sinergi lintas sektoral adalah kunci utama dalam mengeksekusi program sosial sebesar ini secara presisi di lapangan.
Dukungan juga mengalir dari Wakil Ketua Baznas Sleman, Muhyi Darmaji, yang turut memastikan bantuan sosial ini memiliki daya jangkau yang luas.
Harapan Akar Rumput
Apresiasi tinggi datang dari Lurah Mororejo, Jaka Ristanta, yang berdiri mewakili suara hati masyarakat Kapanewon Tempel. Ia menyampaikan bahwa kehadiran jajaran pimpinan daerah membawa harapan baru bagi warga yang sedang berjuang memperbaiki taraf hidup.
Jaka menyoroti bahwa bantuan stimulan RTLH adalah program yang paling dinantikan karena memberikan kepastian bagi warga untuk memiliki tempat berteduh yang manusiawi.
Mewakili rekan sejawatnya sesama lurah se-Kapanewon Tempel, ia menyatakan komitmen untuk terus mengawal program kabupaten agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat bawah.
"Kami mengucapkan terimakasih banyak atas perhatian dari pemerintah Kabupaten Sleman dan juga Baznas yang telah memberikan bantuan sembako hingga bantuan stimulus bagi rumah tidak layak huni. Semoga dengan adanya pemberian bantuan sosial dalam rangka peringatan hari jadi Sleman ke-110 ini, ke depannya Kabupaten Sleman dapat lebih maju dan makmur lagi," tutur Jaka Ristanta.
Sinergi di lapangan pun terlihat solid dengan hadirnya Panewu Tempel Rasyid Ratnadi Sosiawan, Kapolsek Tempel AKP Gunawan Setiyabudi, Danramil Tempel yang diwakili Peltu Sumaryono, hingga Kepala KUA Tempel Sihabudin.
Penutupan acara yang ditandai dengan penyerahan bantuan secara simbolis serta foto bersama menjadi potret kehangatan hubungan antara pemimpin dan rakyat. Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan berlangsung dengan aman dan kondusif, membuktikan bahwa melalui semangat Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman, mampu bergerak dalam harmoni demi kemaslahatan bersama.(*)
