KETIK, SLEMAN – Menghadapi peralihan musim kemarau menuju musim hujan, Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana, mulai dari banjir, genangan, tanah longsor, pohon tumbang hingga meningkatnya risiko penyakit.
Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyiapan personel dan infrastruktur, tetapi juga mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga.
Hal itu mengemuka dalam Jumpa Pers Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sleman bertema “Sleman Siaga Menghadapi Peralihan Musim” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis, 5 November 2026.
Enam narasumber dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) hadir, yakni Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro, Kepala DLH Junaidi, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan dr. Khamidah Yuliati, serta tiga pejabat DPUPKP, yaitu Suparman, Rahmadi, dan Haryadi Widodo.
Pemotongan kayu akibat terjangan angin di kaliurang Yogyakarta. (Foto: Teguh/Ketik.com)
Salah satu fokus utama adalah mengantisipasi genangan melalui pembersihan saluran irigasi. Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Sleman telah menangani 65 titik, terdiri atas 21 titik di wilayah barat, 24 titik wilayah tengah, dan 20 titik wilayah timur.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Sleman Haryadi Widodo menjelaskan, pekerjaan difokuskan pada pembersihan sampah dan sedimentasi yang menghambat aliran air. Sejumlah kendala juga ditemukan, seperti kabel optik, pipa PDAM, penyempitan saluran, hingga gorong-gorong yang amblas.
Sementara itu, Bidang Bina Marga menargetkan pemeliharaan jalan sepanjang 450 kilometer selama 2026. Dari total 371 ruas jalan kabupaten dengan panjang 733,67 kilometer, sebanyak 233 ruas telah mendapatkan pemeliharaan.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman Suparman menyebutkan, penanganan meliputi penambalan jalan, pembersihan drainase, penataan bahu jalan, serta pemeliharaan talud dan gorong-gorong guna mengurangi risiko kerusakan saat hujan.
Perhatian juga diberikan terhadap kondisi permukiman. Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman Rahmadi menempatkan kesiapan drainase, sanitasi, dan infrastruktur lingkungan sebagai bagian penting untuk mencegah genangan serta gangguan kesehatan masyarakat.
Pemeliharaan Bendungan Kaliurang Yogyakarta. (Foto: Teguh/Ketik.com)
Di sektor lingkungan, Kepala DLH Sleman Junaidi mengungkapkan terdapat sekitar 20.000 hingga 22.000 pohon perindang milik pemerintah daerah yang menjadi perhatian menjelang musim penghujan.
Pemeriksaan dan pemangkasan dilakukan terhadap pohon yang dinilai rawan tumbang. Penanganan diprioritaskan pada kawasan publik dan jalur dengan aktivitas masyarakat tinggi. DLH juga menyiapkan dua tim pemeliharaan pohon, masing-masing beranggotakan sembilan personel.
Ancaman musim hujan tidak hanya berkaitan dengan bencana dan kerusakan infrastruktur. Dinas Kesehatan Sleman juga mengingatkan masyarakat terhadap risiko penyakit, terutama leptospirosis, demam berdarah dengue (DBD), ISPA, dan diare.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman dr. Khamidah Yuliati menyampaikan, hingga Oktober 2026 atau minggu ke-41 tercatat 112 kasus leptospirosis. Sementara itu, kasus gabungan demam dengue dan DBD mencapai sekitar 450 kasus.
Masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan gerakan 3M Plus untuk mencegah DBD, serta menggunakan sepatu bot dan sarung tangan ketika beraktivitas di lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus. Jika mengalami demam setelah terpapar lingkungan berisiko, warga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Adapun Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro menjadi bagian dari koordinasi kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, angin kencang, banjir, dan tanah longsor.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa menghadapi musim penghujan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah menyiapkan personel, peralatan, dan infrastruktur, sementara masyarakat dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana: membersihkan selokan, tidak membuang sampah sembarangan, memeriksa pohon di sekitar rumah, serta menjaga kesehatan keluarga.
Sebab, musim hujan memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan dan kepedulian bersama.
Kabupaten Sleman yang tangguh bukan hanya dibangun dari kesiapan pemerintah, melainkan juga dari kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan keselamatan bersama. (*)
