ISPA di Pacitan Tembus 17.166 Kasus, Sebulan Bertambah Lebih dari 1.300 Pasien

1 Oktober 2026 14:02 1 Okt 2026 14:02

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail ISPA di Pacitan Tembus 17.166 Kasus, Sebulan Bertambah Lebih dari 1.300 Pasien

Seorang pasien menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan Kabupaten Pacitan. Di tengah peningkatan kasus ISPA di wilayah setempat, warga ramai-ramai menjalani pengobatan, Kamis, 1 Oktober 2026. (Foto: Al Ahmadi/Ketik)

KETIK, PACITAN – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Pacitan mencapai 17.166 kasus sejak Januari hingga akhir September 2026. 

Jumlah tersebut bertambah lebih dari 1.300 kasus dalam satu bulan terakhir.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat sebanyak 17.166 warga menjalani pemeriksaan sebagai pasien ISPA di 24 Puskesmas selama periode tersebut. 

Pekan pertama September 2026 sebelumnya, jumlah kasus masih tercatat 15.834 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, Nur Farida, mengatakan tingginya angka kesakitan tersebut turut dipengaruhi kondisi cuaca panas ekstrem, udara kering, dan berdebu selama musim kemarau.

"Diharapkan masyarakat bisa menjaga kondisi kesehatan dengan cukup baik," kata Farida, Kamis, 1 Oktober 2026.

Di tengah peningkatan kasus tersebut, Dokter Spesialis Paru RSUD Pacitan, dr. Royani Nurrohman, Sp.P, mengatakan gejala batuk dan demam perlu menjadi perhatian, terutama pada orang dewasa yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Penyakit seperti kencing manis, darah tinggi, bengkak jantung, dan gagal ginjal disebut dapat memperberat penanganan ketika pasien mengalami batuk dan demam.

"Untuk dewasa yang ada komorbid/penyakit penyerta juga jangan disepelekan, seperti kencing manis, darah tinggi, bengkak jantung, gagal ginjal, karena bisa memberatkan penanganan, baiknya jika muncul 2 gejala di atas (batuk demam) dapat segera rawat inap," ujarnya.

Royani mencontohkan seorang pasien perempuan berusia 61 tahun yang dirujuk dari salah satu Puskesmas di Pacitan.

Pasien tersebut tiba di IGD RSUD Pacitan dalam kondisi sudah mengalami perburukan dan selama menjalani perawatan kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya masuk ICU.

"Barusan dapat laporan salah satu pasien usia, perempuan usia 61 tahun, rujukan dari salah satu puskesmas di Pacitan. Datang ke IGD sudah perburukan, selama perawatan makin memburuk, akhirnya masuk ICU," ujarnya.

Menurut Royani, kondisi tersebut menunjukkan adanya pasien dengan demam dan komorbid yang datang dalam kondisi sudah mengalami perburukan.

"Contoh di atas adalah pasien demam + komorbid (lansia), sudah agak terlambat, tetapi kami usahakan rawat sebisanya di RSUD, semoga bisa membaik," katanya.

Selain pasien dewasa dengan komorbid, kondisi anak juga menjadi perhatian dalam penanganan kasus penyakit pernapasan.

dr. Royani menyebut anak yang belum buang air kecil lebih dari enam jam dapat menunjukkan tanda dehidrasi, terlebih jika anak terlihat sayu dan kurang makan.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga minggu ke-38 tahun 2026, aktivitas influenza berada dalam kategori sedang atau medium dengan positivity rate mencapai 56 persen.

Dari 265 sampel pasien yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 orang dinyatakan positif influenza.

Virus yang paling banyak ditemukan adalah Influenza A (H1N1pdm09).(*)

Tombol Google News

Tags:

Nur Farida Dr. Royani Nurrohman dinkes pacitan RSUD Pacitan kabupaten pacitan Kasus ISPA Ispa Pacitan Influenza A Penyakit Pernapasan Lansia Komorbid Kemarau Pacitan Kesehatan Pacitan Berita pacitan Info Pacitan