KETIK, PACITAN – Usaha sarang burung walet di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kini tak lagi semenguntungkan sebelumnya.
Harga sarang walet yang anjlok membuat sebagian pemilik gedung walet memilih tidak memanen secara rutin, bahkan hasilnya hanya dibagikan kepada tetangga.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Eni Sriyartiningsih (64), warga RT 2 RW 3 Dusun Klepu, Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Pacitan.
"Ya akhirnya cuman tak kasih ke tetangga yang minta, misal mau dipakai buat jamu atau obat," kata Eni kepada Ketik.com, Selasa, 25 Agustus 2026.
Eni mengungkapkan, harga sarang burung walet saat ini berada di kisaran Rp4 juta per kilogram.
Angka tersebut jauh dibandingkan harga sebelumnya yang dapat mencapai sekitar Rp8 juta per kilogram, tergantung kualitas.
Bahkan, Eni menyebut harga sarang walet pada periode tertentu sebelumnya pernah tembus di kisaran Rp30 juta hingga Rp48 juta per kilogram.
"Iya, itu tergantung kualitasnya," ujarnya.
Anjloknya harga tersebut turut berdampak terhadap aktivitas panen.
Eni mengatakan, petani yang sebelumnya rutin memanen sarang walet setiap bulan kini banyak yang memilih menunda panen.
"Biasanya rutin satu bulan satu kali. Namun karena harga anjlok banyak yang tidak panen," bebernya.
Pasar Ekspor Tiongkok Menurun
Eni menyebut penurunan harga salah satunya dipengaruhi melemahnya permintaan dari Tiongkok.
Kondisi tersebut berdampak pada rantai perdagangan sarang walet hingga tingkat petani.
Menurutnya, hasil sarang walet dari Pacitan juga tidak langsung memiliki pasar ekspor.
Pemilik sarang biasanya menjual hasil panen kepada pengepul yang memiliki jaringan perdagangan lebih luas.
"Jualnya tidak ada kalau di Pacitan. Paling dekat pengepulnya ada di Ponorogo," katanya.
Eni mengungkapkan, sejumlah faktor disebut turut memengaruhi kondisi pasar sarang walet, termasuk kebijakan dan penangguhan ekspor oleh otoritas China terhadap sejumlah perusahaan eksportir asal Indonesia.
Selain itu, penerapan parameter uji laboratorium baru terkait kandungan aluminium juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran ekspor.
Tersendatnya ekspor kemudian berdampak pada menumpuknya stok sarang walet di dalam negeri.
Ketika pasokan lebih besar dibandingkan permintaan domestik, harga di tingkat petani dan pengepul ikut mengalami tekanan.
"Pokoknya setelah ada covid-19 itu, harganya jadi turun terus," keluhnya.
Peternak Berharap Ada Perhatian Pemerintah
Bagi pelaku usaha walet di Pacitan, kondisi tersebut tidak hanya menyangkut penurunan pendapatan, tetapi juga keberlanjutan usaha.
Gedung walet yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan kini tidak selalu dipanen sesuai siklus.
Hasil panen yang tidak terserap pasar bahkan dapat berakhir dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Eni berharap kondisi harga sarang walet yang terus tertekan mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Menurutnya, diperlukan upaya agar hasil produksi petani walet kembali memiliki pasar dan nilai ekonomi yang layak.
"Semoga saja segera dapat perhatian," pintanya. (*)
.png)