KETIK, PACITAN – Selamat datang di wahana 'off road on the road.'
Kalimat itu mungkin terasa berlebihan, namun begitulah gambaran kondisi Jalan Prof. Dr. Moestopo yang menghubungkan Kecamatan Arjosari dan Pacitan saat ini.
Alih-alih menikmati perjalanan nyaman di jalan kabupaten, para pengendara justru harus berjibaku dengan puluhan lubang, jalan bergelombang, debu tebal, dan ancaman kecelakaan yang mengintai di hampir setiap tikungan.
Berdasarkan pantauan Ketik.com di lapangan, sedikitnya terdapat lebih dari 40-an titik kerusakan berat di sepanjang ruas jalan sekitar 10 kilometer yang melintasi Desa Mentoro, Purworejo, Banjarsari, Tambakrejo, Gunungsari, dan Pagutan.
Di setiap titik, terdapat tiga hingga delapan lubang dengan ukuran dan kedalaman yang berbeda-beda. Termasuk jalan bergelombang yang didominasi dengan pasir.
Beberapa lubang bahkan menyerupai kubangan kecil yang memaksa pengendara mengurangi kecepatan secara mendadak atau bermanuver menghindarinya.
Kerusakan terparah terlihat di wilayah Desa Mentoro, Purworejo, dan Gunungsari.
Lubang besar memenuhi badan jalan, sementara debu pekat terus membumbung setiap kali kendaraan melintas.
Padahal jalan tersebut merupakan salah satu urat nadi aktivitas masyarakat.
Setiap hari digunakan pelajar menuju sekolah, petani mengangkut hasil panen, pekerja berangkat mencari nafkah, hingga warga yang hendak mengakses layanan kesehatan maupun pemerintahan.
Namun bagi sebagian warga, kerusakan jalan bukan lagi sekadar soal kenyamanan berkendara.
Dampaknya telah merambah kesehatan, ekonomi keluarga, bahkan keselamatan jiwa.
Di depan Balai Desa Gunungsari misalnya, kondisi jalan tampak rusak dan bergelombang.
Susilo Suryansah (49), warga Dusun Ngganang yang rumahnya berada tepat di samping balai desa, mengatakan kerusakan itu telah berlangsung cukup lama.
"Untuk jalan yang rusak di depan Balai Desa Gunungsari ini sudah rusak sekitar lima tahunan," katanya, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurut Susilo, kerusakan tersebut lebih disebabkan usia jalan yang sudah tua dibandingkan faktor kendaraan berat.
"Kalau menurut saya bukan karena truk atau apa, tetapi memang karena usia jalan yang sudah lama," ujarnya.
Susilo mengungkapkan, warga sebenarnya sempat berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya dengan menguruk sejumlah lubang menggunakan material seadanya.
Namun upaya tersebut hanya bertahan sementara.
"Kami bersama warga sebenarnya pernah menguruk jalan itu supaya tidak semakin parah. Tapi tidak bertahan lama," katanya.
Material urukan yang digunakan warga tidak mampu menahan beban kendaraan yang setiap hari melintas. Kondisi semakin buruk saat musim hujan tiba.
"Begitu dilewati kendaraan terus-menerus dan diguyur hujan, materialnya hanyut terseret air. Akhirnya lubangnya muncul lagi, bahkan semakin besar," ungkap Susilo.
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen karena upaya swadaya masyarakat tidak mampu mengatasi kerusakan yang sudah cukup parah.
Semakin ke arah selatan mendekati wilayah Mentoro, kondisi jalan terlihat semakin memprihatinkan.
Jalan Prof. Dr. Moestopo di wilayah Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan, usai disirami oleh warga setempat untuk mengurangi dampak debu.
Di Dusun Duduhan, pasangan suami istri Mulyono (68) dan Runtami (57) tampak menyiram jalan di depan rumah mereka.
Aktivitas itu bukan dilakukan untuk menyiram tanaman, melainkan untuk menekan debu yang setiap hari beterbangan masuk ke rumah.
Debu bahkan terlihat menempel di teras, dinding rumah, perabotan hingga peralatan dapur.
"Lihat debunya sampai ke dalam rumah," ucap Runtami sambil mengelap meja ruang tamunya.
Runtami mengaku kondisi tersebut membuatnya terpaksa menutup usaha kecil yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan keluarga.
"Tiga tahun lalu saya masih jualan lotek dan minuman segar, tapi akhirnya tutup. Debunya ke makanan semua, nggak bisa kalau dilanjutkan," ungkapnya.
Sementara Mulyono menyebut kerusakan jalan telah berlangsung sekitar tujuh tahun terakhir.
Namun dampak terberat baru dirasakan dalam dua tahun terakhir ketika permukaan jalan semakin hancur.
"Sudah tujuh tahun rusak. Dampaknya dua tahun terakhir paling parah karena debunya," katanya.
Setiap pagi dan sore, ia harus menyiram jalan menggunakan air agar debu tidak masuk ke dalam rumah.
Tak hanya mengganggu ekonomi warga, kondisi tersebut juga disebut memicu gangguan kesehatan.
"Ada balita di lingkungan sini yang sakit pernapasan. Banyak warga lain yang gangguan pernapasan karena debu ini," ujarnya.
Selain debu, warga juga mengeluhkan tingginya risiko kecelakaan akibat jalan berlubang.
Saat dilalui kendaraan Jalan Prof. Dr. Moestopo di wilayah Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan menimbulkan debu yang berdampak ke permukiman warga setempat.
Menurut Mulyono, sedikitnya 13 kecelakaan terjadi di ruas jalan tersebut dalam kurun waktu dua tahun lalu.
Sejumlah korban bahkan mengalami luka serius hingga patah tulang.
"Parah pokoknya selama dua tahun terakhir. Dampaknya kesehatan sampai ekonomi warga," ungkapnya.
Meski kerusakan sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi keluhan hampir seluruh warga di lima desa yang dilintasi, hingga kini belum terlihat adanya perbaikan menyeluruh yang mampu mengatasi persoalan tersebut secara permanen.
Lantas mengapa jalan yang menjadi akses vital ribuan warga itu tak kunjung mendapat penanganan serius?.(*)
